Breaking News:

Perkara telah Diputus MA, Terdakwa Kasus Keterangan Palsu ini Justru Menghilang saat akan Dieksekusi

Sesuai prosedur jika terdakwa yang mau dieksekusi tidak diketahui keberadaan semestinya Kejari Jakut segera mengeluarkan surat Daftar Pencarian Orang.

Kompas.com
Ilustrasi palu hakim. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Seoang terdakwa kasus pemberian keterangan palsu atas nama Norman alias Ameng (Norman Ameng) mendadak menghilang ketika hendak dieksekusi Kejaksaan Negeri Jakarta Utara.

Di mana kasus tersebut sudah divonis Pengadilan bersalah dalam dugaan pidana memberikan keterangan palsu dalam akta otentik.

Kasus itu sendiri sudah diputus MA, dan sudah didisposisi ke PN Jakarta Utara dan Kejaksaan Negeri Jakarta Utara untuk di lakukan eksekusi agar terdakwa Norman alias Ameng menjalankan tahanan sebagaimana vonis yang dijatuhkan hakim dalam amar putusan MA.

Baca juga: Suami Tusuk Teman yang Berhubungan Intim dengan Istrinya, Padahal 2 Bulan Menumpang di Rumahnya 

Baca juga: Korlantas Siap Luncurkan SIM Online Nasional, Perpanjang Masa Berlaku SIM Bisa dari Rumah

Baca juga: Sophia Latjuba Unggah Foto Pakai Baju Renang, Langsung Dibanjiri 2.700 Komentar, 50 and Still Hot

Norman Ameng tidak kooperaitf dan sudah dua minggu tim Kejaksaan mencarinya.

Namun tidak ada hasil karena terdakwa tidak lagi berada di tempat dan alamat yang tertera di berkas perkara.

Advokat Jaka Maulana dari LQ Indonesia Lawfirm kuasa hukum pelapor menyatakan, tidak mampunya aparat kejaksaan dalam melakukan eksekusi sangat mencoreng muka pengadilan dan reputasi institusi Kejaksaan.

"Kejaksaan adalah pihak eksekutor dari pengadilan sebagaimana diatur dalam KUH Acara Pidana, namun nyatanya dalam kinerja masa menangkap satu orang terdakwa yang menghilang ketika harus menjalani eksekusi MA saja tidak mampu," dalam siaran tertulisnya, Rabu (31/3/2021).

Lalu apa gunanya proses panjang dari kepolisian, kejaksaan dan Pengadilan Negeri dan Makhamah Agung, jika pada akhirnya putusan pengadilan tidak bisa dijalankan karena ketidakmampuan aparat Kejaksaan.

Sesuai prosedur apabila Terdakwa yang mau dieksekusi tidak diketahui keberadaan semestinya Kejari Jakut segera mengeluarkan surat Daftar Pencarian Orang (DPO) agar lekas bisa ditemukan keberadaan Norman tersebut, bukannya dibiarkan sudah 2 minggu tanpa kejelasan.

Sementara itu, Advokat Leo Detri, SH, MH selaku Ketua LQ Indonesia Lawfirm cabang Jakarta Pusat, menanggapi bahwa kejaksaan itu memiliki bagian intel yang seharusnya mampu melacak, di mana kasiintel ini memiliki peralatan lacak dan personel yang mampu mencari buronan dan orang yang butuh ditangkap.

"Sangat janggal apabila ketika akan di eksekusi lalu Norman bisa kabur, diduga oknum Kejaksaan terlibat membocorkan informasi akan dilakukan eksekusi sehingga memberikan kesempatan untuk Norman untuk menghilang. Selaku aparat penegak hukum, kami lawyer dari LQ Indonesia Lawfirm, meminta agar kejagung memperhatikan masalah ini," katanya.

Diduga ada oknum Kejari Jakut melindungi Terdakwa dari eksekusi. Rasanya tidak mungkin seorang Terdakwa Norman bisa tiba-tiba menghilang ketika akan dieksekusi tanpa perlindungan oknum kejaksaan.

Halaman
12
Editor: Mohamad Yusuf
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved