Komoditas

Hasil Panen Sulit Bersaing dengan Pasokan Impor, Petani Kapok Tanam Bawang Putih

Saat itu permintaan bibit bawang putih cukup tinggi dari perusahaan karena adanya wajib tanam importir.

Editor: Feryanto Hadi
Kompas.com
Bawang putih impor. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA- Tingginya harga bawang putih beberapa waktu lalu menjadi sorotan.

Hal ini lantaran program swasembada bawang putih yang pernah digadang-gadang, nyatanya belum mampu berjalan dengan baik, sehingga stok bawang putih saat ini masih tergantung oleh impor.

Ketua Perkumpulan Pelaku Usaha Bawang Putih dan Sayuran Umbi Indonesia (Pusbarindo), Valentino beberapa waktu lalu mengungkapkan, untuk mencegah harga makin melambung tinggi, pihaknya mengusulkan supaya ada transparansi dalam hal penerbitan RIPH dan SPI.

"Kalaupun terjadi kenaikan harga biasanya yang mempermainkan adalah dari pihak distributor dan pedagang. Kalau sampai Maret SPI belum keluar biasanya mereka itu menaikkan harga. Jadi kalau SPI keluar cepat tidak ada puter jalur bagi distributor dan pedagang untuk naikkan harga," kata Valentino melalui keterangan tertulisnya di Jakarta.

Baca juga: Kuswanto Mengaku Omzetnya Menurun, Kini Pembeli Pilih Cabai Kering

Baca juga: Imbas Kelangkaan Bawang Lokal, Komisi IV DPR Akan Cek Lapangan ke Food Estate Humbahas

Petani mengeluh

Sementara itu, program swasembada bawang putih yang digadang-gadang Dirjen Hortikultura, Kementerian Pertanian sejak tahun 2017 terancam tidak bisa berjalan sesuai rencana.

Pasalnya banyak petani mengeluh dan tidak mau lagi menanam bawang putih dikarenakan tidak bisa menjual yang akhirnya menanggung rugi besar.

Salah satunya Imam, petani bawang putih dari Batu, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Ia menceritakan mulai menanam bawang putih bersama kelompoknya sejak 2018-2019.

Baca juga: Stok Bawang Putih Diklaim Aman, tapi Harga di Pasaran Malah Terus Naik, Begini Penjelasan Asosiasi

Saat itu permintaan bibit bawang putih cukup tinggi dari perusahaan karena adanya wajib tanam importir.

"Jadi kami kerjasama dengan importir, dan ada juga petani yang nanam sendiri. Jadi petani banyak yang tanam bawang putih proyeksinya untuk pengadaan benih," ungkapnya melalui pesan tertulis yang diterima, Kamis (11/3/2021).

Selanjutnya, kata Imam, untuk tahun ini kerjasama dengan importir sudah tidak ada. Jadi hasil panen petani tidak terserap sama sekali sehingga menyebabkan rugi besar.

Padahal biaya tanam yang dikeluarkan cukub besar, sekitar 100-120 juta per hektar dan dapat menghasilkan sekitar 8 ton per hektar.

"Hancur mas, kalau kemaren harganya bisa laku di atas 20-25 ribu rupiah per kilogram, sekarang ini harga bawang putih kering hanya 10.000-11.000 rupiah per kilogram," ungkapnya.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved