Breaking News:

Kudeta di Myanmar

Pembangkangan Korps Diplomatik Iringi Gelombang Protes di Myanmar

Misi PBB untuk Myanmar memberikan konfirmasi bahwa Duta Besar Myanmar untuk PBB sebelumnya, Kyaw Moe Tun, tetap mewakili negara itu

AFP/Tribunnews.com
Para pengunjuk rasa menentang kudeta militer di Yangon, Myanmar, berlarian saat diserang aparat militer dengan gas air mata (STR / AFP) 

Wartakotalive.com - Polisi dan aparat keamanan Myanmar membubarkan demonstrasi yang berlangsung sejak pagi dengan gas air mata dan peluru karet di seluruh penjuru negara ini, pada Jumat (05/03). Aksi unjuk rasa terhadap kudeta bulan lalu tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda.

Para pengunjuk rasa membangun barikade untuk menghalangi polisi, tapi junta militer Myanmar membubarkan protes dan menahan banyak orang. "Kami berusaha semampu kami untuk menghalangi mereka. Kami mengatur barikade di jalan utama untuk melakukan protes," kata Lwin Ko Aung, yang tinggal di Kota Sanchaung, sebagaimana dikutip dari DPA.

"Aksi protes kami diporakporandakan oleh mereka pagi ini dan kami lari, tapi kami akan segera melakukannya lagi. Mereka sangat ingin membubarkan demonstrasi. Mereka melakukannya karena tidak ingin terjadi pemogokan secara kolektif," kata Myo Myo, warga Sanchaung lainnya.

Menurut laporan media lokal, polisi membubarkan aksi protes di Yangon, Mandalay, Monywa, Myingyan dan Pathein. Dalam laporan kantor berita DPA, disebutkan ada satu kasus kematian baru di Mandalay. Insiden terjadi ketika polisi membubarkan demonstrasi dan ketika orang-orang berlarian, seorang pria ditembak di lehernya, demikain diangkap seorang saksi mata yang dikutip oleh DPA.

Jumlah pasti korban tewas tidak tercatat, tetapi PBB mengatakan setidaknya 54 orang telah telah meninggal dunia dalam sejumlah berntrokan. Selain itu, lebih dari 1.700 telah ditahan.

Di Kota Mandalay, dalam aksi demontrasi kerumunan besar berbaris menyanyikan: "Zaman batu sudah berakhir, kami tidak takut meski kalian mengancam kami."

Di kota utama Yangon, polisi menembakkan peluru karet dan menggunakan granat kejut untuk membubarkan pengunjuk rasa yang telah bergabung dengan sekitar 100 dokter berjubah putih, demikian diungkapkan saksi mata sebagainmana dikutip dari Reuters. Kerumunan juga berkumpul di Kota Pathein, di sebelah barat Yangon.

Pada hari Kamis (04/03), polisi membubarkan aksi unjuk rasa dengan gas air mata dan tembakan di beberapa kota. Sehari sebelumnya, puluhan orang tewas pada hari protes paling berdarah di negeri itu.

Pimpinan dewan hak asasi manusia PBB, Michelle Bachelet menuntut pasukan keamanan menghentikan apa yang dia sebut sebagai "tindakan keras yang kejam terhadap pengunjuk rasa damai". Bachelet mengatakan di antara lebih dari 1.700 orang yang telah ditangkap, 29 orang di antaranya adalah wartawan.

Menteri luar negeri Singapura, Vivian Balakrishnan pada hari Jumat (05/03) mengatakan tindak kekerasan yang dilakukan militer itu adalah "aib nasional" bagi angkatan bersenjata dalam menggunakan senjata melawan rakyat mereka. Dia meminta militer Myanmar untuk mencari solusi damai, demikian dikutip dari kantor berita Reuters.

Halaman
123
Editor: Bambang Putranto
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved