Breaking News:

Virus Corona Jakarta

DPRD Kritik Keras, DKI Energinya Habis untuk Berpolemik dengan Pusat, Tracing Covid-19 Masih Rendah

Anggota DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak menilai, penelusuran Covid-19 di DKI masih rendah sehingga pengujian (yang tinggi menjadi tidak berarti.

Wartakotalive.com/Joko Supriyanto
Anggota DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak, Rabu (3/3/2021) menilai, tracing Covid-19 di DKI masih rendah sehingga testing yang tinggi menjadi tidak berarti. Foto ilustrasi: Presiden Jokowi dan Gubernur Anies Baswedan saat meninjau proses vaksinasi para pedagang Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Rabu (17/2/2021) pagi. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Kritik keras dari anggota DPRD DKI Jakarta dialamatkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Kritik keras tersebut terkait pelaksanaan penelusuran (tracing) Covid-19 di DKI Jakarta.

Menurut anggota DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak menilai, penelusuran Covid-19 di DKI Jakarta masih rendah sehingga pengujian (testing) yang tinggi menjadi tidak berarti.

"Dalam penanggulangan Covid-19 ini, Jakarta mengutamakan 3T, tapi lebih dominan 'testing' dan gembar-gembor melebihi standar WHO, padahal 'testing' harus diikuti 'tracing'," kata Gilbert dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (3/3/2021).

Gilbert menjelaskan kemampuan "tracing" Covid-19 Jakarta belum ideal dan terkesan tidak terbuka dan hanya dimunculkan pada Mei 2020 dengan angka 1:3, yakni dari satu kasus positif dilakukan penelusuran pada tiga orang yang berhubungan.

Idealnya, kata Gilbert, penelusuran adalah di angka 1:33 seperti di negara maju, yakni Korea Selatan dan Taiwan yang menggunakan 3T (Testing, Tracing dan Treatment) sebagai cara mengatasi pandemi.

"Idealnya adalah 1:33, sementara data DKI hanya pernah muncul sekali 1:3 di Mei 2020. Selain itu 'testing' juga banyak duplikasi data karena tidak ada 'cleansing'. Orang yang bisa berkali-kali dites, artinya 'tracing' rendah," ujar Gilbert.

Baca juga: 900 Atlet, Pelatih dan Pengurus KONI Kabupaten Bekasi Jalani Vaksinasi Covid-19

Baca juga: Dua Kecamatan di Kabupaten Bekasi Ini Nihil Kasus Covid-19, Babelan dan Tambun Selatan Paling Banyak

Selain itu, Gilbert juga berpendapat tingginya kasus Covid-19 di Jakarta yang tak kunjung usai selama pandemi ini juga karena berpolemik dengan pemerintah pusat.

"Lebih banyak berpolemik dengan pusat sehingga energinya habis untuk hal ini," kata Gilbert.

Menurut mantan Wakil Ketua Regional South East Asia Regional Office International Agency for Prevention of Blindness WHO ini, Pemprov DKI juga lemah dalam mengawasi protokol kesehatan sehingga muncul banyak klaster pasar hingga perkantoran selama setahun Covid-19 merebak di Jakarta.

Halaman
123
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved