Kriminalitas

Jadi Korban Sindikat Cessie hingga Kehilangan Rumah Kesayangan, Rina Mengadukan Nasib ke Polisi

Jadi Korban Sindikat Cessie hingga Kehilangan Rumah Kesayangan, Rina Mengadukan Nasib ke Polisi

Penulis: Dwi Rizki | Editor: Dwi Rizki
Istimewa
Yohanes Gore Jemu Ari, Advokat dan Konsultan Hukum dari Kantor Pengacara Law Firm Wilvridus Watu, SH & Associates 

Lelang tersebut kemudian dimenangkan oleh DP.

Baca juga: Update Kasus Mafia Tanah di Kebon Sirih, Polisi Tingkatkan Statusnya Jadi Penyidikan

"Klien saya baru mengetahui adanya pengalihan sertifikat itu dari surat yang dikirimkan kantor pelayanan pajak soal pemindahan alamat penagihan pajak. Ternyata setelah ditelusuri, sertifikat sudah tiga kali berpindah tangan," papar Yohanes Gore Jemu Ari.

"Ada proses ganti nama dalam sertifikat milik Rina tanpa sepengetahuan Rina. Info tersebut ketika ada orang yang mendatangi Rina dan menyatakan bahwa dirinya adalah pihak pemenang lelang dan sertifikat telah beralih ke atas namanya," tambahnya.

Atas kejadian tersebut, Rina diungkapkan Yohanes Gore Jemu Ari merasa tertipu.

Terlebih diketahui, cessie atas rumah yang diagunkannya dilelang tanpa sepengetahuannya maupun putusan pengadilan.

"Cessie milik Rina sudah lelang dan diketahui sudah berpindah tangan hingga tiga kali. Klien kami sama sekali tidak diberitahu sama sekali kalau sertifikat tanah atas rumah yang ditinggalinya saat ini sudah dilelang sepihak oleh pihak bank," ungkap Yohanes Gore Jemu Ari di Mapolres Metro Jakarta Selatan pada Rabu (3/3/2021).

Padahal, lanjutnya, sesuai dengan Pasal 613 jo 584 KUHPerdata, syarat utama keabsahan cessie adalah pemberitahuan cessie tersebut kepada pihak terutang untuk disetujui melalui akta otentik atau akta bawah tangan.

Merujuk peristiwa tersebut, kliennya diungkapkan Yohanes Gore Jemu Ari telah menjadi korban pemalsuan sekaligus penipuan yang dilakukan sindikat cessie.

Terkait hal tersebut, pihaknya melaporkan kasus dugaan pemalsuan tersebut kepada Polda Metro Jaya dengan Nomor Laporan LP/868/II/YAN.2.5/2021/spkt PMJ ter tanggal 14 Februari 2021.

Dalam laporan tersebut, Rina melaporkan tiga orang pria yang diduga melakukan tindak pidana pemalsuan surat atau pemberian keterangan palsu ke dalam akta otentik, antara lain HA, DS dan DP.

Ketiganya disangkakan melanggar Pasal 263 KUHP dan Pasal 266 KUHP tentang Pemalsuan Surat dan atau Menyuruh Menempatkan keterangan Palsu ke Dalam Akta Otentik.

"Laporan kami diterima dan diproses oleh Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya, kemudian dilimpahkan ke Polres Metro Jakarta Selatan saat ini," ungkap Yohanes Gore Jemu Ari.

Hal tersbeut dibuktikannya lewat Surat Pelimpahan Laporan Polisi bernomor B/2678/II/RES.7.4/2021/Ditreskrimum ter tanggal 15 Februari 2021.

Surat yang diterbitkan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya itu melimpahkan kasus kepada Satreskrim Polres Metro Jakarta Selatan berdasarkan bobot dan locus delicty perkara.

"Kami berharap agar kasus dapat ditangani tuntas pihak Kepolisian secara profesional dan independen, sehingga keadilan dapat ditegakkan," ujarnya.

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved