Breaking News:

Aksi Terorisme

12 Teroris yang Diringkus di Jawa Timur Mau Bangun Bungker Senjata dan Siapkan Aksi Bom Bunuh Diri

Tersangka teroris JI Jawa Timur itu juga tengah menyiapkan penyimpanan senjata dan tempat pelarian dalam kegiatan terorisnya.

Tribun Lampung/Deni Saputra
Pasukan Densus 88 Antiteror Mabes Polri menggiring tersangka teroris menuju ke dalam pesawat di Bandara Radin Inten, Brantiraya, Lampung Selatan, Lampung, Rabu (16/12/2020). Polisi kembali menciduk 12 tersangka teroris pada 26 Februari 2021. 

"Dalam operasi penangkapan di Jawa Timur, tim Densus 88 menangkap 12 orang terduga teroris," kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono dalam keterangan tertulis, Jumat (26/2/2021).

Baca juga: SBY Dibilang Tak Berdarah-darah Besarkan Partai, Demokrat: Yang Ngomong Tinggal di Planet Mars

Ke-12 terduga teroris itu adalah UBS alias F, TS, AS, AIH alias AP, BR, RBM, Y, F, ME, AYR, RAS, MI.

Mereka memiliki peran yang berbeda.

Meski begitu, Argo belum bisa merinci lebih lanjut terkait dengan penangkapan terduga teroris tersebut.

Baca juga: Baiq Nuril Hingga Ahmad Dhani Dihadirkan untuk Dimintai Pendapat Soal UU ITE

Sebab, Tim Densus 88 masih melakukan pendalaman lebih lanjut di lapangan.

"Nanti untuk lengkapnya akan dirilis secara resmi," papar Argo.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap sejumlah akar yang mengarah pada ekstremisme dan berujung pada aksi terorisme.

Baca juga: Banding, Terdakwa Kasus Korupsi Jiwasraya Heru Hidayat Tetap Divonis Seumur Hidup

Direktur Penegakan Hukum BNPT Brigjen Edy Hartono mengatakan, sejumlah masalah tersebut adalah masalah keluarga hingga perbedaan politik.

"Masalah keluarga, ekonomi, dan perbedaan politik dalam bernegara itu menstimulus terbentuknya beberapa ekstremisme yang mengarah pada terorisme," ujar Edy, dalam diskusi daring 'Pemberantasan Ekstremisme-Terorisme Pasca Perpres 7/2021', Kamis (25/2/2021).

Edy menjelaskan, temuan itu didapati dari hasil penelitian BNPT terhadap tersangka kasus terorisme.

Baca juga: Polisi Absen Lagi, Sidang Praperadilan Rizieq Shihab Kembali Ditunda

Sikap ekstremisme yang muncul, kata dia, kerap terjadi akibat pola pikir atau mindset masing-masing individu.

Dia pun menegaskan kearifan lokal harus dimanfaatkan sebagai modal sosial dan strategi melawan intoleransi dan kekerasan.

Sebab, jika hal tersebut tidak dicegah dan ditanggulangi, bisa jadi Indonesia akan menjadi negara seperti Suriah dan Irak yang hancur akibat intoleransi.

Baca juga: Ini Sederet Sanksi Bagi Polisi yang Ketahuan Tenggak Miras dan Pergi ke Tempat Hiburan Malam

"Jangan sampai negara kita seperti Suriah dan Irak. Kalau sudah hancur, menyesal belakangan," jelasnya.

Lebih lanjut, Edy mengatakan penanganan terorisme dari hulu sangat terbantu dengan ditekennya Perpres 7/2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE) Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme pada 2020-2024.

Apalagi, kata dia, terdapat tiga pilar dalam beleid tersebut, yakni pencegahan, penegakan hukum, dan kerja sama internasional.

Baca juga: Pekan Depan Brigjen Prasetijo Utomo Divonis di Kasus Red Notice Djoko Tjandra, Minta JC Dikabulkan

Hingga kini, pihaknya mengaku sudah banyak mencegah terorisme berkat beleid tersebut.

Setidaknya ada 82 aksi yang berhasil dicegah.

"Ada 130 rencana aksi dan paling banyak di pencegahan dengan 82 aksi,” paparnya. (Igman Ibrahim)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved