Breaking News:

Banjir Bodetabek

Mencekam, Dua Warga Terjebak Banjir di Pebayuran Kabupaten Bekasi, Mengapung hanya Pakai Ember

Dua pria itu mengapung menggunakan sebuah ember berwarna abu-abu di tengah-tengah banjir di Desa Sumberurip, Pebayuran, Kabupaten Bekasi.

Instagram @kansar_jakarta
Suasana mencekam saat dua warga terjebak banjir di Desa Sumberurip, Pebayuran, Kabupaten Bekasi pada Minggu (21/2/2021). Dua warga itu terjebak banjir dan terombang-ambing dengan mengapung hanya menggunakan sebuah ember. 

Hingga kini, belum ada bantuan dari Pemkab Bekasi terkait tenda pengungsian maupun kebutuhan logistik makanan.

Untuk makan sehari-hari, warga memanfaatkan stok seadanya atau beli lauk sendiri.

"Saya di sini sudah tiga malam. Dari pertama (banjir) udah dibuka (kontainer). Makanan nggak ada suplai (bantuan), karena akses jalan utama kemarin susah masuk," tegasnya.

Terdapat sekitar delapan truk kontainer yang dimanfaatkan sebagai posko pengungsian, kendaraan diparkir di dekat perkampungan yang aman dari banjir.

Truk kontainer besar yang digunakan sebagai posko pengungsian berupa trailer box berukuran besar, bagian penutup samping dibuka untuk akses masuk.

Di dalamnya, warga tampak menggelar alas berupa karpet atau tikar, bahkan sebagian di antaranya memanfaatkan truk sebagai dapur darurat.

Baca juga: Kisah Hendi, Selama 2 Tahun Diteror Ribuan Pesan Porno Lewat WhatsApp hingga Hampir Diceraikan Istri

Baca juga: LOWONGAN KERJA Relawan Tenaga Kesehatan DKI Jakarta, Ada 11 Posisi, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

Baca juga: Propam Dalami Kemungkinan Kompol Yuni Purwanti Bagian Pengedar Narkoba

Selain di dalam truk kontainer, warga terdampak banjir sebagian mengungsi dengan membuka tenda di pinggir rel kereta api. 

Jalur KA jarak jauh tersebut diketahui saat ini berhenti operasionalnya akibat tergerusnya pondasi rel kereta api dari Kedunggedeh-Lemah Abang.

Dikepung Banjir

Sementara itu, di Wilayaha Bekasi Kota, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menjelaskan alasan penyebab banjir yang mengepung kawasan Kota Bekasi pada Jumat dan Sabtu, 19-20 Februari 2021 lalu.

Rahmat menjelaskan topografi Kota Bekasi dialiri banyak Kali dan Sungai. Terdapat 3 sungai besar yang melintasi kawasan Bekasi, yakni Kali Bekasi, Cakung dan Sunter.

Beberapa wilayah juga dialiri sungai dan kali kecil sehingga ketika dilanda hujan intensitas tinggi, sejumlah wilayah tergenang banjir lokal lantaran wilayah resapan air semakin berkurang.

VIDEO Gubernur Anies dan Wagub Ariza Takziah di Rumah Duka Dua Bocah Tenggelam di RPTRA Kembangan

Sedang Kejar Layang-layang Putus, Asep Terkejut Temukan Sosok Mayat Bayi di Semak-semak

"Ada Kali Bekasi di tengah-tengah. Di sebelah kanan dan kirinya masih ada 8 kali lagi, 3 kali di wilayah timur, 5 kali di wilayah barat. Ada Kali Cakung, Kali Sunter, Kali Jatikramat, Kali Jatiluhur, Kali Asem dan lainnya," ungkap Rahmat saat meninjau ke kawasan Perum Nasio, Jatiasih, Kota Bekasi, Senin (22/2/2021).

Kondisi tersebut diperparah dengan semakin berkurangnya wilayah resapan air yang kini berganti dengan permukiman penduduk.

Terlebih lagi, elevasi tanah Kota Bekasi yang pada awalnya banyak terdapat rawa-rawa, berada pada permukaan yang sangat rendah.

Alokasikan Rp 4 triliun

Untuk mengatasi hal tersebut, Rahmat Effendi berjanji akan mengevaluasi banjir besar yang meredam sejumlah wilayah Kota Bekasi

Menurutnya, penanganan banjir di Kota Bekasi, harus diselesaikan dari hulu sampai hilir.

Untuk itu, penanganan banjir secara permanen bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dapat segera rampung.

"Penyelesaian DAS (Daerah Aliran Sungai:red) sungai kali Bekasi adalah tahap satu dari kementerian PUPR itu pengerjaan dari Pertemuan Kali Cikeas dan Cileungsi sampai dengan Bekasi itu tahap satu pengerjaannya 2021 mudah-mudahan bisa diselesaikan," jelasnya pada Minggu (21/2/2021).

Baca juga: Terungkap Menteri PU Basuki Hadimuljono Pernah Marah-marah Betapa Sulitnya Kerjasama dengan Anies

Terkait hal tersebut, pria yang akrab disapa Pepen itu menyebutkan telah disiapkan anggaran sebesar Rp 4 triliun untuk pembiayaan revitalisasi.

"Nantinya, akan dibagi tiga tahap, dan inj akan mengurangi beban volume dari Hulu," ujar Pepen.

Baca juga: Nissa Sabyan Bantah Selingkuh hingga Menikah Siri dengan Ayus Sabyan Didepan Orang Tua, Benarkah?

Revitalisasi kata Pepen, merujuk sejarah Kota Bekasi yang sebelumnya merupakan wilayah persawahan, Rawa hingga perkebunan karet.

"Tempat itu banyak sekali, seperti Rawa Tembaga, Rawa Pasung, Rawa Panjang dan segala macamnya," katanya. 

Seiring dengan waktu, kepadatan penduduk kota Bekasi terus bertambah dan lahan semakin bertambah sempit ditambah urbanisasi terus berjalan.

"Kepadatan penduduk hampir 16.000 jiwa per kilometer persegi, sehingga itu memakan ruang, curah hujan naik," tandas Pepen. 

Menurutnya, tidak ada cara yang lain selain menciptakan embung yang bertujuan untuk menampung air hujan.

"Sementara harga lahan di kota Bekasi sudah mahal harganya, kita butuh pembebasan lahan," kata Pepen saat akan memimpin rapat.

Untuk itu, kata Rahmat, akan terus mencanangkan prioritas 60 persen APBD diperuntukkan penanggulangan banjir.

"Sehingga 2-3 tahun ke depan banjir kota Bekasi bisa mencapai penurunan yang signifikan, bukan cuma berbagi sembako saja di saat banjir, tapi menyelesaikan masalah," jelasnya.

Penanganan banjir tersebut diungkapkannya diprioritaskan di wilayah banjir terparah seperti di Rawa Lumbu, perumahan Duta dan Ngurah Rai, Bekasi Barat yang tercatat mencapai 1,5 - 2 meter.

"Kita sudah tetapkan lahan seluas empat hektar menjadi tangkapan, tanggul (long storage), kalau nggak begitu, tidak bisa," tutupnya.

Pemprov DKI Pastikan Penyediaan Ruang Isolasi Bagi Ibu Hamil Tetap Berjalan

"Elevasinya hanya 29 meter diatas permukaan laut. Beda dengan Depok tinggi, nah kita hanya 29 meter di atas permukaan laut. Rata-rata sama karena bekas sawah dan rawa. Itu banjir lokal semua tadi, karena tadi perencanaan lahan yang terpakai buat rumah tinggal," tutur Rahmat.

Hal itu dibuktikan saat Rahmat kembali meninjau Perum Nasio di tahun ini. Ia melihat terdapat perbandingan ketinggian yang cukup jauh ketika banjir tahun lalu dan saat itu.

Psikis Amanda Manopo Terguncang usai Diancam Dibunuh, Takut Kasus Via Vallen Terulang

"Tahun lalu itu di sini cuma semata kaki, sekarang 1,8 meter rata-rata. Sekarang di dalam rata semua. Saya lihat mereka lagi bersihin kulkas, tempat tidur. Semua 1,8 meter rata-rata," ucap Rahmat.

Susuri Kali Cakung

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menulusuri aliran Kali Cakung dari hulu hingga hilir, guna memetakan pembuatan polder banjir sebagai langkah meminimalisir bencana banjir.

Rahmat mengatakan tiitik hulu Kali Cakung sendiri berawal dari Kawasan Kecamatan Pondok Melati dan berakhir menuju Kanal Banjir Timur (KBT) yang merupakan wilayah hilir.

"Kami habis ngurut Kali Cakung dari hilir sampai ke hulu. Hulunya ini ke atas. Dia enggak sampai ke Cikeas, dia cuma sampai ke Pondok Melati," ujar Rahmat saat meninjaubdi Perum Nasio, Jatiasih, Bekasi, Senin (22/2/2021).

Baca juga: PLN Pastikan 99 Persen Listrik di DKI Jakarta Kembali Pulih setelah Banjir

Rahmat menjelaskan luapan air Kali Cakung signifikan menyebabkan sejumlah wilayah tergenang banjir, seperti yang terjadi di Perum Nasio, Pondok Gede, Medan Satria dan Bekasi Barat.

"Ini itu ujungnya masuk ke BKT. Jadi dia dari Pondok Melati melintas ke Jatiasih melintas ke Bekasi Selatan, Pondok Gede Cibening, Bekasi Barat, Medan Satria trus ke BKT. Itu Kali Cakung, baru 1 kali," katanya.

Rahmat menyatakan perumahan-perumahan yang dibangun di dekat aliran Kali Cakung menyebabkan wilayah resapan air semakin berkurang dari tahun ke tahun.

Baca juga: 4 Korban Meninggal Akibat Banjir di Bekasi karena Terseret Arus dan Tersengat Listrik

"Nah sekarang yang menjadi persoalan adalah akibat pemanfaatan ruang yang lebih besar daripada ketersediaan ruang yang ada. Sehingga yang dulu air-air yang bisa nampung deras pada saat hujan, enggak bisa lagi, ya turun ke tempat yang lebih rendah. Persoalannya ada pada elevasi yang rumah dibangun tahun 1980an. Nasio 1984, IKIP, terus ke bawahnya sampai dengan perumahan," kata Rahmat.

Oleh sebab itu, ia merencanakan untuk membuat beberapa polder di sepanjang aliran Kali Cakung untuk menambah wilayah tangkapan air.

"Membuat tangkapan air baik denga long storage maupun juga dengan polder atau tandon, atau embung dengan sistem pompa dari sini sampai ke BKT," ucapnya. (abs)

kansar_jakarta
Detik - detik evakuasi warga yang terjebak banjir di Desa Sumberurip, Pebayuran, Kabupaten Bekasi. (21/2)

Penulis: Mohamad Yusuf
Editor: Mohamad Yusuf
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved