Breaking News:

Pemerintahan Jokowi

Pemerintahan Jokowi Dituding Mirip Orde Baru, Busyro Muqqodas Sebut Salah Satunya Faktor Buzzer

Ketua Bidang Hukum dan HAM Pengurus Pusat Muhammadiyah, Busyro Muqqodas sebut pemerintahan Jokowi mirip Orba, salah satunya faktor buzzer

TRIBUNNEWS.COM/SETPRES/AGUS SUPARTO
Presiden Joko Widodo melantik Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri di Istana Negara, Jakarta, Rabu (27/1/2021). Pemerintahan Jokowi dituding mirip pemerintahan orba karena ulah buzzer salah satunya. Wacana Listyo membentuk kembali PAM Swakarsa menambah ingatan tentang orba. 

"Ketika demo sudah merusak fasilitas umum, publik, di situlah aparat penegak hukum harus bertindak menegaskan hukum di atas segalanya."

"Menegakkan hukum untuk memastikan kemananan dan ketertiban dalam masyarakat itu," tuturnya.

Politikus asal Yogyakarta tersebut menegaskan apa yang dilakukan oleh aparat keamanan dalam aksi demonstrasi beberapa waktu terakhir, bukanlah tindakan represif.

Baca juga: 18 Provinsi Sudah Tetapkan Upah Minimum 2021 Tak Naik, Ini Daftarnya

Apalagi tindakan represif yang melanggar etika maupun aturan layaknya perilaku rezim otoriter pada Orde Baru.

"Kalau represif itu gambarannya sangat jelas, yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru," ucap Hasto.

Hasto juga menyebut pemerintahan Jokowi-Maruf Amin selalu mengedepankan dialog.

Baca juga: Megawati Bertanya kepada Generasi Milenial: Apa Sumbangsih Kalian untuk Bangsa dan Negara Ini?

Sehingga, berbeda dari era Orde Baru dan tudingan yang dialamatkan selama ini.

"Saat ini Pak Jokowi-Maruf Amin itu adalah pemimpin yang terus membangun dialog, aspirasi dari masyarakat diterima."

"Dan demikian pula dengan PDI Perjuangan," paparnya.

Megawati: Emangnya Duit Lo?

Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri mengomentari demonstrasi berujung perusakan fasilitas umum seperti Halte Transjakarta, beberapa waktu lalu.

Megawati mengatakan para pendemo sebenarnya dapat pergi ke DPR untuk menyampaikan aspirasinya.

"Saya bilang ngapain sih kamu demo-demo? Kalau enggak cocok, pergi ke DPR."

Baca juga: DAFTAR Terbaru 20 Zona Merah Covid-19 di Indonesia: Jakarta Sisa Satu, Jawa Tengah Terbanyak

"Di sana ada rapat dengar pendapat, itu terbuka bagi aspirasi."

"Kalian ini orang politik atau bukan?" ujar Megawati dalam acara peresmian 13 kantor partai, patung Soekarno, dan sekolah partai, secara virtual, Rabu (28/10/2020).

"Sekarang kamu bayangkan keluargamu, anak-anakmu dibuat seperti itu."

Baca juga: Rizieq Shihab Dikabarkan Pulang Saat Maulid Nabi, Polri: Silakan Saja, Enggak Ada Pengamanan Khusus

"Kalau enggak ada rasa sakit hati, bohong! Manusia sama aja, dibuat Allah SWT itu sama. Kita yang membuatnya berbeda. Camkan loh," tegasnya.

Megawati lantas mengatakan dirinya sebagai ketua umum memang jarang berbicara ke publik.

Namun, kali ini ia ingin berbicara karena tak tahan dengan tindakan anarkis yang dilakukan para demonstran.

Baca juga: Anggota Brimob Bripka JH Jual Senjata kepada KKB Papua, Polri Pastikan Bukan Organik Alias Ilegal

Menurutnya Indonesia saat ini lucu, karena seenaknya melakukan pembakaran fasilitas.

Namun, tak mau ketika diminta bertanggung jawab atas perbuatannya.

"Masyaallah, susah-susah bikin halte enak aja dibakar-bakar, emangnya duit lo?"

Baca juga: KISAH Karyawan TransJakarta Alih Profesi Jadi Pemangkas Rambut, Paling Enak Tangani Kuli Proyek

"Ditangkap enggak mau, ini gimana ya."

"Aku sih pikir lucu banget Indonesia sekarang," tutur Megawati.

Presiden RI ke-5 tersebut kemudian bertanya kepada Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat yang duduk di belakang Megawati, terkait anggaran untuk membuat Halte Transjakarta.

Baca juga: Kisah Andy F Noya Sangat Terbantu Asuransi, Berawal dari Gaji Rp 375.000

Djarot menjawab bahwa harga pembangunan satu Halte Transjakarta dapat menghabiskan Rp 3 miliar.

Dengan kondisi naiknya inflasi saat ini, Megawati pun menyayangkan perusakan fasilitas umum tersebut.

"Tuh Rp 3 miliar mungkin sekarang dengan kenaikan inflasi."

Baca juga: Berkurang Jadi 19, Ini Daftar Terbaru Zona Hijau Covid-19 di Indonesia: Papua Tetap Mendominasi

"Kalau ibu-ibu patokannya harga emas gitu."

"Mana mungkin lagi mau dibenerin itu Rp 3 miliar cukup."

"Coba bayangkan? Itu rakyat siapa ya. Itu yang namanya anak-anak muda?"

Baca juga: Ini 5 Provinsi dengan Kenaikan Kasus Covid-19 Tertinggi, Tak Ada Jakarta

"Saya ngomong gini itu dalam Sumpah Pemuda loh," ucap Megawati.

Megawati pun membandingkan pemuda zaman dahulu berani membuat sumpah untuk bersatu memperjuangkan negara.

Mirisnya, Megawati tak melihat hal tersebut pada diri pemuda saat ini.

Baca juga: Cuti Panjang, Terminal Pulogebang Didatangi Seribu Calon Penumpang, Terbanyak ke Padang dan Madura

"Ya bayangin zaman dulu kok bisa ya pemuda, karena tertekan, karena belum merdeka dia sampai berani bikin sumpah."

"Ayo kalau kalian hari ini bisa enggak bikin sumpah kayak gitu."

"Waduh, pikirannya zaman dulu loh sampai bersatu bikin sumpah, eh zaman penjajahan ditangkap lah. Ini udah merdeka, dirusak sendiri," paparnya.

Baca juga: Ada Unjuk Rasa Mahasiswa, Ini Modifikasi Rute Transjakarta 28 Oktober 2020

"Kalau banyak yang mau jadi presiden, silakan. Itu adalah hakmu."

"Tetapi ingat, kamu hidup di sebuah negara yang namanya Negara Kesatuan Republik Indonesia."

"Sabar saja lah, entar juga datang 2024, kita tanding lagi."

Baca juga: Upah Minimum 2021 Tak Naik, Menaker: Jalan Tengah yang Harus Diambil Pemerintah

"Coba bayangkan, sampai saya mikir mau jadi apa ini orang Indonesia, sudah lupa yang namanya sejarah," bebernya.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Busyro Muqqodas Sebut Rezim Saat Ini Mirip dengan Era Orde Baru, https://www.tribunnews.com/nasional/2021/02/20/busyro-muqqodas-sebut-rezim-saat-ini-mirip-dengan-era-orde-baru?page=all.
Penulis: Ilham Rian Pratama
Editor: Hendra Gunawan

Editor: Wito Karyono
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved