Breaking News:

Pencabulan

Tiga Tahun jadi Guru Les di Kontrakannya Cilincing, Pria Ini Nekat Cabuli Empat Muridnya

Keempat korban yang dicabuli pelaku masih di bawah umur dengan rentang umur antara 6-11 tahun dan masih merupakan warga setempat. 

Wartakotalive.com/Junianto Hamonangan
Seorang guru les berinisial MTP (41) tega mencabuli empat anak didiknya di wilayah Cilincing, Jakarta Utara. 

Hal itu disampaikan kuasa hukum keluarga korban pencabulan, Azas Tigor Nainggolan.

Tigor mengatakan, vonis tersebut lebih tinggi dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan hukuman kurungan penjara selama 11 tahun untuk Syahril Parlindungan Martinus Marbun (42).

Baca juga: Ibunda Korban Kasus Kekerasan Seksual Anak di Gereja Depok: Vonis 15 Tahun Penjara Itu Mukjizat

Sehingga dengan demikian, Tigor mengatakan apa yang diharapkan keluarga korban selama ini atas hukuman yang diberikan kepada terdakwa, sudah sesuai dengan hasil keputusan majelis hakim.

"Kenapa majelis hakim menjatuhkan hukuman maksimal? Karena yang memberatkan adalah terdakwa ini orang terdekat serta pembimbing agama yang harusnya menjadi pelindung terhadap anak-anak," kata Tigor, Rabu (6/1/2021).

Baca juga: BREAKING NEWS 15 Tahun Penjara, Vonis untuk Terdakwa Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Gereja Depok

Baca juga: Vonis Lebih Tinggi dari Tuntutan, Kuasa Hukum Korban Kekerasan Seksual Anak di Gereja Depok Puas

Tigor menyatakan bahwa Ketua Majelis Hakim, Nanang Herjunanto, memvonis terdakwa terbukti bersalah dan menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara dan denda Rp 200 juta

Vonis tersebut juga mengharuskan terdakwa membayarkan ganti rugi sebesar Rp 6.524.000 subsider tiga bulan penjara dan juga kepada korban kedua sebesar Rp 11.520.639 subsider tiga bulan penjara.

"Memang sudah sepantasnya terdakwa dijatuhi hukuman maksimal, karena perbuatannya membuat korban yang masih di bawah umur mengalami trauma sekali," kata Tigor saat dihubungi Warta Kota, Rabu (6/1/2021).

Sebelumnya, Syahril mulai menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Depok, Komplek Kota Kembang, Cilodong, Depok, Senin (5/10/2020).

Dalam sidang perdananya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Siswantiningsih membacakan dakwaan terhadap Syahril melalui persidangan yang berlangsung secara virtual dan tertutup.

Syahril didakwa melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, dan melakukan tipu muslihat.

Kemudian juga melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.

Baca juga: Pemkot Depok Berhasil Kumpulkan Sanksi Denda Langgar Protokol Kesehatan Rp 37 Juta

Lalu dakwaan dilakukan oleh orang tua, wali, pengasuh anak, pendidik atau tenaga kependidikan, dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan.

"Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 82 Ayat (2) UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 76E UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Jo pasal 65 ayat (1) KUHP," papar Siswatiningsih.

Dalam pasal perlindungan anak yang didakwakan kepadanya, Syahril terancam hukuman pidana penjara paling sedikit lima tahun dan maksimal 15 tahun.

Syahril diketahui melakukan pelecehan seksual terhadap anak laki-laki di bawah umur.

Korban yang berani melaporkan kasus tersebut ke kepolisian berjumlah lima orang ini merupakan anak bimbingan Syahril yang bertugas sebagai pembina Misdinar di salah satu gereja di Kota Depok.

Terdakwa bekerja sebagai pembimbing putra altar tersebut sejak 20 tahun lalu, namun kasus ini baru terungkap pada Maret 2020.

Kasus terungkap berawal dari laporan Guntur (52), salah seorang ayah dari anak-anak korban kekerasan seksual yang dilakukan Syahril.

Baca juga: ASN Kelurahan Cipayung Kota Depok Positif Covid-19, Pelayanan Dialihkan ke Kantor Kecamatan Cipayung

Dalam keterangannya kepada Warta Kota, Guntur mengatakan putra semata wayangnya, J (13) sempat mengalami pencabulan oleh Syahril.

Tidak terima dan berharap perbuatan terdakwa dapat dikenakan hukuman pidana, Guntur pun melaporkan Syahril ke Polres Metro Depok.

"Saya berharap ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak, jangan sampai hal ini dibiarkan, karena akan menambah korban dan merusak psikis serta masa depan anak atau korban," papar Guntur.

Selain dikenakan pasal perlindungan anak, Syahril juga didakwa pasal berlapis tentang perilaku penyimpangan seksual yang dilakukannya.

"Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 292 KUHP Jo pasal 65 ayat (1) KUHP," kata Siswatiningsih.

Pasal tersebut berbunyi bahwa orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesama jenis, yang diduga belum dewasa, diancam pidana penjara paling lama lima tahun.

Hukuman Kebiri

Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Ady Wibowo menyatakan, tidak tertutup kemungkinan para pelaku kekerasan seksual terhadap anak mendapat hukuman kebiri.

Namun hal itu ia serahkan kepada pihak pengadilan yang akan memutus perkara tersebut.

Hal itu diungkapkan Ady usai menangkap dua pelaku kekerasan seksual terhadap anak berinisial A (29) dan RDP (40).

Baca juga: Tetangga Cabuli Gadis Down Syndrome

Kata Ady, saat ini Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak (PP Kebiri Kimia) memang sudah diteken oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Baca juga: Setahun Tidak Ada Perkembangan, Polisi Berkilah Orangtua Korban Pencabulan Sulit Dimintai Keterangan

Hal itu membuat pelaku bisa mendapatkan hukuman tambahan apabila pengadilan menetapkan.

"Terkait dengan persetubuhan atau pencabulan anak di bawah umur sudah berlaku PP nomor 70 tahun 2020 tentang pelaksanaan tata cara kebiri kimia. Namun ini bukan pada ranah kepolisian melainkan ranah putusan pengadilan nantinya," terang Ady di Mapolres Metro Jakarta Barat, Kamis (14/1/2021).

Baca juga: Tiga Bocah Perempuan di Grogol Jadi Korban Pencabulan, Diduga Pelakunya Berprofesi Guru

Sementara itu pihak Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) berharap bahwa PP Nomor 70 tahun 2020 akan dipakai oleh pengadilan.

Mereka akan bekerjasama dengan LPSK untuk mengembalikan mental dan psikis anak-anak korban kekerasan seksual.

Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Ady Wibowo mengungkapkan kasus kekerasan seksual yang menimpa gadis berusia 15 tahun dan dilakukan oleh tetangga korban sendiri.
Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Ady Wibowo mengungkapkan kasus kekerasan seksual yang menimpa gadis berusia 15 tahun dan dilakukan oleh tetangga korban sendiri. (Warta Kota/Desy Selviany)

"Kami siap melaksanakan putusan jika memang putusan terkait kebiri ini diputus oleh pengadilan," kata advokat P2TP2A Novia Hendriyanti. (jhs)

Penulis: Junianto Hamonangan
Editor: Mohamad Yusuf
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved