Korupsi di PT Asabri

Kejaksaan Agung Sita 20 Kapal Milik Heru Hidayat, Salah Satunya Pengangkut LNG Terbesar di Indonesia

Kejaksaan Agung kembali menyita aset tersangka kasus korupsi PT Asabri (Persero).

Editor: Yaspen Martinus
Tribunnews.com
Kejaksaan Agung menyita 20 kapal mewah dan lahan seluas 23 hektare milik Direktur PT Trada Alam Minera Heru Hidayat, tersangka kasus korupsi PT Asabri. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Kejaksaan Agung kembali menyita aset tersangka kasus korupsi PT Asabri (Persero).

Kali ini, Korps Adhyaksa menyita 20 kapal mewah milik Direktur PT Trada Alam Minera Heru Hidayat.

Direktur Penyidikan Direktorat Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) Febrie Adriansyah mengatakan, aset yang disita berkaitan dengan kasus korupsi di PT Asabri.

Bakal Genjot 3T Seperti di India, Menteri Kesehatan Minta Jokowi Tak Panik Jika Kasus Covid-19 Naik

"Ada 20 kapal tuh disita, kasus Asabri punya HH (Heru Hidayat)."

"Kejar ke mana dapat," kata Febrie di Kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (9/2/2021) malam.

Febrie menjelaskan, salah satu kapal yang disita bahkan diyakini sebagai salah satu kapal pengangkut gas alam cair atau Liquefied natural gas (LNG) terbesar di Indonesia.

UPDATE Vaksinasi Covid-19 Indonesia 9 Februari 2021: 845.407 Dosis Pertama, 221.453 Suntikan Kedua

"Kapalnya 1 (unit) terbesar di Indonesia untuk angkut LNG."

"Posisinya masih bersandar di wilayah Indonesia semua," jelas Febrie.

Penyidik, lanjutnya, juga menyita sebidang tanah yang diduga milik Heru Hidayat.

UPDATE Covid-19 Indonesia 9 Februari 2021: Pasien Baru Tambah 8.700, 10.424 Sembuh, 213 Orang Wafat

Luas bidang tanah yang disita oleh penyidik sekitar 23 hektare.

"Kami juga menyita tanah 23 hektare."

"Kalau yang lain-lain itu belum lah."

"Yang sekarang penyidik dapet kapal 20 unit, punya Heru Hidayat udah disita. Macem-macem jenisnya," tutur Febrie.

8 Tersangka

Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung menetapkan 8 tersangka dalam kasus dugaan korupsi PT Asabri (Persero), Senin (1/2/2021).

Pengumuman penetapan tersangka tersebut disampaikan usai para tersangka digelandang dari gedung pemeriksaan, menuju mobil tahanan di Gedung Bundar Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan.

Mereka tampak mengenakan pakaian tahanan berwarna merah jambu.

Baca juga: Ada Dugaan Perbuatan Melawan Hukum, Besok Bareskrim Gelar Perkara Soal 92 Rekening FPI

"Dari kesepuluh orang yang diperiksa saksi pada hari ini, 8 orang di antaranya ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara tersebut," kata Kapuspenkum Kejaksaan Agung Leonard Eben Ezer di Kejaksaan Agung, Jakarta, Senin (2/1/2021).

Leonard menyatakan, kedelapan tersangka akan ditahan ditempat terpisah.

Dua orang ditahan di Rumah Tahanan Salemba Cabang Kejaksaan Agung, dan empat tahanan ditahan di Rutan Kelas 1 Tigaraksa Tangerang.

Baca juga: Epidemiolog Bilang Virus Nipah Berpotensi Besar Jadi Pandemi, Setengah Penduduk Wilayah Bisa Habis

Sementara, dua tahanan ditahan di tempat lain, karena masih berstatus sebagai terdakwa kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

"Dua orang lainnya yaitu BTS selaku direktur PT Hanson Internasional, dan tersangka HH PT Trada Alam Minera dan Direktur PT Maxima Integra."

"Karena kedua tersangka ini berstatus sebagai terdakwa dalam perkara lainnya."

Baca juga: KPK Minta Kuasa Hukum Nurhadi Jangan Giring Opini Keliru Soal Insiden Pemukulan Petugas Rutan

"Sehingga tidak dilakukan penahanan, dan yang bersangkutan dilanjutkan penahanan dalam proses yang sedang rekan-rekan media ketahui," jelasnya.

Leonard menyampaikan, seluruh tersangka akan ditahan selama 20 hari ke depan.

Nantinya, mereka akan kembali diperiksa dalam statusnya sebagai tersangka.

Baca juga: Cuitan Abu Janda Bikin Gaduh, Yenny Wahid: NU Diajari untuk Mengayomi, Tidak Membuat Keresahan

"Penahanan para tersangka tersebut selama 20 hari terhitung sejak 1 Februari Hingga 20 Februari 2021," tuturnya.

Kejaksaan Agung pun merinci peran para tersangka dalam kasus korupsi PT Asabri.

Tribunnews merangkum peran kedelapan tersangka itu dalam kasus megakorupsi yang merugikan negara Rp 23 triliun tersebut.

Baca juga: Jokowi: Kita Harus Omong Apa Adanya, PPKM Tidak Efektif, Kita Tidak Tegas dan Tak Konsisten

Berikut ini rincian daftar nama tersangka dan perannya dalam kasus PT Asabri:

1. HD atau HRD, Dirut PT Asabri 2011-Maret 2016

Pada 2012-2016, yang bersangkutan membuat kesepakatan dengan PT.

Untuk mengatur dan mengendalikan transaksi dan investasi saham dan Reksadana PT Asabri, melalui tersangka BT dan pihak yang terafiliasi dengan BT dan LP, yang merugikan PT Asabri dan menguntungkan BT, LP dan pihak yang terafiliasi dengan BT.

2. SW, Direktur Utama PT Asabri Maret 2016 sampai Juli 2020

Pada 2016-2019, yang bersangkutan membuat kesepakatan dengan HH untuk mengatur dan mengendalikan saham dan reksadana PT Asabri Persero melalui HH, dan pihak yang terafiliasi dengan HH.

Yang merugikan PT Asabri dan menguntungkan HH dan pihak yang terafiliasi dengan HH.

3. BE, Mantan Direktur Keuangan Asabri Oktober 2008-Juni 2014

4. HS, Direktur PT Asabri Persero 2013-2014 dan 2015-2019

5. IWS, Kabid Investasi PT Asabri Juli 2012- Januari 2017

BE, HS, dan IWS bertanggung jawab dalam perencanaan dan pengelolaan investasi keuangan serta pengendalian.

Menyetujui pengaturan dan pengendalian investasi saham dan reksadana PT Asabri yang dilakukan oleh BT dan HH, tanpa melalui analisis fundamental dan analisis teknikal yang merugikan PT Asabri dan menguntungkan BT dan HH.

6. LP, Direktur Utama PT Prima Jaringan

7. BTS, Direktur PT Hanson Internasional

8. HH, PT Trada Alam Minera dan Direktur PT Maxima Integra

LP, BT, dan HH adalah pihak swasta yang mengatur investasi saham dan reksadana dalam portofolio milik PT Asabri.

Caranya, dengan memasukkan saham-saham milik LP, BT, dan HH yang harganya telah dimanipulasi menjadi portofolio milik PT Asabri.

Juga, mengendalikan transaksi dan serta investasi milik Asabri yang didasarkan kesepakatan dengan Direksi PT Asabri yang menguntungkan LP, BT, dan HH, serta merugikan PT Asabri.

Terlibat Kasus Jiwasraya

Kejaksaan Agung menyampaikan, terdakwa kasus PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Benny Tjokosaputro dan Heru Hidayat, diduga menjadi otak kasus korupsi PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Asabri).

Keduanya juga diketahui termasuk dalam daftar nama yang ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi PT Asabri.

Kapuspenkum Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak menyatakan, keduanya diduga kuat turut terlibat sebagai pengendali pengelolaan dana investasi Asabri yang kemudian bermasalah.

Baca juga: Tanggapi Cuitan Abu Janda, Romo Benny: Agama Bukan Komodifikasi Olok-olok, Bijaksana Lah

"Seluruh kegiatan investasi PT Asabri pada kurun waktu 2012-2019 tidak dikendalikan oleh PT Asabri (Persero)."

"Namun sepenuhnya dikendalikan oleh HH (Heru Hidayat), BTS (Benny Tjokrosaputro), dan LP (Lukman Purnomosidi/Direktur Utama PT Prima Jaringan)," ungkap Leonard di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Senin (1/2/2021).

Akibatnya, kata Leonard, penyidik Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus memperkirakan negara merugi hingga Rp 23,7 triliun.

Baca juga: Vaksinasi Covid-19 untuk Masyarakat Umum Dimulai Akhir April 2021, Setelah TNI dan Polri

Namun, mereka masih menunggu hasil audit Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) terkait nominal pastinya.

"Kerugian negaranya hingga saat ini masih dalam penghitungan BPK."

"Namun, sementara yang ditaksir penyidik mencapai Rp 23.739.936.916.742,58," paparnya. (Igman Ibrahim)

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved