Breaking News:

Kecelakaan

Avanza Seruduk Kios dan Rumah Warga.di Tanah Abang, Satu Pemotor Meninggal

Kecelakaan maut terjadi di Jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (6/2/2021) pukul 01.30 WIB.

ISTIMEWA
Toyota Avanza bernomor polisi B 1151 TOR menabrak kios dan pemotor di Jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (6/2/2021) pukul 01.30 WIB. 

Pelarangan operasi odong-odong sudah diwacanakan sejak tahun 2019 lalu.

Dishub DKI menyebut, terkait penindakan terhadap odong-odong, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian.

Hal itu dikarenakan spesifikasi odong-odong pada dasarnya merupakan modifikasi dari sepeda motor yang memang melekat pada SIM dan STNK.

Odong-odong direncanakan tidak boleh beroperasi lagi, karena kendaraan itu tidak memenuhi spesifikasi standar dan keamanan menjadi alasan larangan tersebut.

Pengemudi Odong-odong Resah

Rencana larangan operasional odong-odong di Jakarta menuai polekmik dari para pelaku driver odong-odong. Salah satunya supir odong-odong yang berada di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Mereka yang keseharianya mengandalkan mesin odong-odong untuk mencari nafkah, kini terbayang-bayang akan rencana larangan itu, mereka khawatir tak dapat mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhannya setiap hari.

Beberapa odong-odong yang berada di sekitar kawasan Cempaka Putih ini memang dianggap warga sekitar, menjadi transportasi yang dapat membantu masyarakat berpindah lokasi dengan tarif murah, dibandingkan harus mengunakan ojek.

Odong-odong itu beroperasi pagi hari hingga malam hari, dimana setiap pagi hari biasanya dimanfaatkan oleh para warga usai dari Pasar Cempaka Putih, sedangkan menjelang sore hari biasanya dimanfaatkan untuk mengatarkan beberapa anak-anak.

Kurang lebih ada sekitar belasan odong-odong yang beroperasi di Cempaka Putih, desain odong-odongnya mengunakan mesin kendaraan roda dua yang dibelakangnya terdapat beberapa gerbong yang membawa penumpangnya.

Salah satu, Mahmud (52) pengemudi odong-odong saat ditemui, mengatakan keberatan atas rencana larangan odong-odong itu.

Padahal Mahmud menilai bahwa trayek operasional odong-odong tidak melintas jalan besar melainkan jalan komplek maupun pemukiman penduduk.

"Ya pasti keberatan lah, kita cari makan dari sini. Kalo kita ngak bisa cari makan dari sini kita mau makan dari mana. Yang ada malah nambah angka pengangguran," kata Mahmud, Jumat (25/10/2019).

Dengan penghasilan rata-rata yang ia dapat dalam sehari Rp. 80.000 ribu dari odong-odong, ia mengaku sudah cukup lumayan, dibandingkan dirinya harus menjadi pengangguran.

Jumlah penghasilan itu sudah di potong sebesar Rp. 70.000 untuk sewa odong-odong.

Hampir 3 tahun ini, Mahmud berprofesi sebagai supir odong-odong. Ia akui sejak ia menganggur ia justru melakukan tindakan kriminal, dengan adanya odong-odong ini ia pun sudah berhijarah mencari sumber rejeki yang lebih halal.

"Jangan egois kalo bikin aturan jangan hanya PNS aja yang di sejahterahkan. Rakyat kecil kayak kita justru malah di persulit. Yang ada malah timbul angka kriminal, padahal odong-odong ini sangat membantu mereka yang tidak berpendidikan," katanya.

Sementara itu, hal serupa juga dikatakan oleh, Dimas, ia mengaku meski penghasilan yang di dapat tak seberapa, setidaknya masih dapat memenuhi kebutuhan. Namun ia mengaku sangat menyangkan rencana pelarangan itu.

"Padahal odong-odong di sini itu mempermudah bagi masyarakat juga. Ya walau sehari bawa Rp. 100.000 tapi kan itu lumayan," katanya.

Untuk itu ia meminta agar rencana pelarangan itu dapat di kaji mendalam agar tidak berdampak pada para pengemudi odong-odong yang mencari nafkah.

"Kalo bisa di kaji lagi lah. Atau di pertimbangkan cari solusi. Jangan egois," ujarnya.

Sedangkan beberapa warga sekitar yang saat itu ditemui, Doni (50) mengatakan bahwa ada sebagian warga yang setuju dengan keberadaan odong-odong di Cempaka Putih. Namun tidak sedikit pula ada yang mengeluh hadirnya odong-odong ini.

"Sebenarnya ada juga yang setuju ada odong-odong, ya kebanyakan warga yang dari pasar, biasanya mereka memanfaatkan odong-odong. Tapi ada juga yang ngeluh, ya keluhnya bikin macet," ucapnya.  (Danang Triatmojo)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved