Virus Corona

Pandemi Covid-19 Juga Jadi Hal Berat Bagi Anak, Kenali Bila Telah Terjadi Gangguan Psikologis

Pandemi Covid-19 Juga Jadi Hal Berat Bagi Anak, Kenali Bila Telah Terjadi Gangguan Psikologis. Simak Selengkapnya

Penulis: Lilis Setyaningsih | Editor: Dwi Rizki
Istimewa
Sejumlah siswa tengah belajar di Gazebo Kelurahan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Kepulauan Seribu pada Rabu (11/11/2020). Dengan Adanya jakWifi mereka kini lebih leluasa menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi covid-19 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Masa pandemi Covid-19 menjadi periode yang berat buat semua orang.

Tidak hanya orang dewasa tapi juga anak-anak.

Diperlukan ketangguhan untuk bisa menghadapi situasi sulit tersebut.  Orangtua harus lebih terbuka untuk mengetahui perasaan anak.

“Anak-anak juga merasakan hal berat di masa pandemi ini. Biasanya sekolah bertemu teman-temannya, bermain bebas tapi ini hanya di rumah saja. Belajar bersama orangtua yang juga kerap tidak sabar menemani belajar,” ujar psikolog Liza Djaprie saat webinar digital society dengan tema ‘Tantangan dan Solusi Menghadapi pembelajaran jarak jauh’ belum lama ini.

Salah satu risiko berada di rumah terus dikenal dengan cabin fever, yakni gangguan psikologis yang diderita oleh seseorang setelah sekian lama tertahan atau berada di satu tempat (rumah atau ruangan) tanpa bisa  berinteraksi dengan banyak individu lain dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Update Kasus Pasar Muamalah Depok, Polisi Akui Baru Tetapkan Satu Orang Tersangka

Beberapa gejala cabin fever diantaranya kebosanan yang kronik, mudah tersinggung, tidak sabar, resah berkepanjangan, mudah cemas.

Selain itu, tidak punya motivasi atas apapun, kesepian, merasa tidak berdaya, depresif, merasa tidak punya kemampuan untuk menyelesaikan tugas harian, perubahan pola makan dan tidur, serta sulit konsentrasi.

Untuk menghindari gangguan tersebut,  Liza meminta agar orangtua membantu agar  anak bisa  lebih terbuka mengungkapkan perasaannya. Sering berkomunikasi menanyakan bagaimana perasaan.  Sementara orangtua ditengah situasi pandemi harus menyesuaikan ekspektasi dan realita yang terjadi. Jangan menuntut  anak prestasi tinggi.

“Pandemi ini situasi yang susah tapi ada kelebihan juga. Saat di rumah saja, anak akan  jadi lebih dekat dengan orangtua dan bantu anak lebih bisa terbuka mengutarakan perasaannya,” katanya.

Update Kasus Pasar Muamalah Depok, Polisi Akui Baru Tetapkan Satu Orang Tersangka

Keterbukaan menjadi penting karena di saat pandemi anak-anak juga sebenarnya mengalami hal yang berat.

Liza menjelaskan,  fase anak-anak adalah fase bermain, eksplorasi, melatih kemampuan sosial serta mengalami banyak hal secara  langsung untuk tabungan masa depan.

Kemampuan analisa serta verbal anak  yang mungkin terbatas, anak belum memiliki kemampuan regulasi stress yang baik, anak masih sangat bergantung pada lingkungan, anak adalah penyerap lingkungan yang baik.

Dan ternyata saat pandemi, fase bermain terhambat, begitu juga kemampuan sosial karena harus di rumah saja.

Sepanjang 2020, Polri Tangani 352 Kasus Penyebaran Berita Bohong Terkait Covid-19

Ketika anak bisa mengungkapkan perasaannya, akan bisa meminimalkan gangguan psikologis akibat pandemi.

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved