Breaking News:

Pandemi Virus Corona

Selama Pandemi Virus Corona 36 persen Keluarga Kurangi Porsi Makan

Dampak pandemi virus corona luar biasa besar bagi penduduk Indonesia. Akibat krisis ekonomi, banyak keluarga yang mengurangi porsi makan.

dok. google
ilustrasi pembagian porsi makanan yang sehat. Namun, selama pandemi virus corona melanda Indonesia, 36 persen keluarga mengurangi porsi makan karena terdampak secara ekonomi. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Dampak pandemi virus corona luar biasa besar bagi penduduk Indonesia. Akibat krisis ekonomi, banyak keluarga yang mengurangi porsi makan.

Ketua Himpunan pendidik dan tenaga kependidikan anak usia dini Indonesia (Himpaudi) Pusat, Prof. Dr. Ir. Hj. Netti Herawati, M.Si, mengatakan anak dengan konsumsi protein tinggi, dimensi perkembangannya lebih baik.

Faktanya, 20 persen anak ke sekokah tidak sarapan, 20 persen anak memiliki kebiasaan makan kurang 3x sehari, dan banyak anak mengalami defisiensi zat besi. Pandemi berisiko memperparah hal ini. 

Berdasarkan survei daring oleh PP HIMPAUDI terhadap 25.935 responden, sebanyak 33,8 persen telah mengurangi pengeluaran untuk makanan dan minuman. 

Ini sejalan dengan survei daring oleh Hanna dan Olken (2020) yang menemukan, pandemi menurunkan ketahanan pangan keluarga; setidaknya 36 persen responden mengaku bahwa dirinya telah mengurangi porsi makan karena terkendala keuangan.

Fakta ini tentu saja berisiko terhadap penurunan asupan zat besi. Terlebih bahan makanan protein hewani relatif lebih mahal harganya. Sumber makanan mengandung zat besi diantaranya daging, ikan, unggas, telur, dan susu.

Selain itu, para pengajar PAUD juga mengalami penurunan gaji, yang bisa membuat mereka kurang fokus dan konsentrasi saat memberikan pelajaran jarak jauh (PJJ).

"Orangtua harus memastikan anak mendapat nutrisi sebelum mulai belajar, sehingga ia merasa nyaman. Anak yang kekurangan gizi tidak akan mau belajar. Gizi dan stimulasi harus diberikan secara beriringan. Guru menjadi agen penggerak pembelajaran untuk membangun pola makan anak, dan seharusnya diteruskan ke masa-masa berikutnya," katanya.

 Zat besi adalah salah satu mikronutrien atau sering juga dikenal sebagai vitamin dan mineral yang sangat penting untuk mendukung kemampuan belajar anak. 

Kekurangan zat besi khususnya pada anak memiliki dampak jangka pendek maupun jangka panjang, misalnya gangguan pada perkembangan kognitif, motorik, sensorik serta perilaku dan emosi.

Terlebih saat anak memasuki usia sekolah, kekurangan zat besi akan berdampak pada kurangnya konsentrasi saat belajar, ketidakmampuan belajar, hingga perkembangan yang tertunda.

Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: Valentino Verry
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved