Breaking News:

Edhy Prabowo Ditangkap KPK

Diperiksa KPK ke-13 Kalinya, Edhy Prabowo Beberkan Rekening, Bantah Beli Wine Gunakan Uang Suap

Tersangka kasus suap ekspor benih lobster Eddy Prabowo akui gemar minum wine. Tapi ia membantah membeli minuman kesukaannya itu menggunakan uang suap

Editor: Wito Karyono
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Dokumentasi Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengenakan rompi oranye usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (25/11/2020). Hari ini Edhy Prabowo menyebut jalani pemeriksaan ke-13 kalinya. Ia mengakui penggemar wine namun bantah belinya kapai uang suap 

Ery sendiri yang diperiksa penyidik KPK selama lima jam pada hari ini enggan berkomentar. Ia memilih bungkam ketika dicecar sejumlah pertanyaan oleh para pewarta.

Dalam perkara ini KPK menetapkan total tujuh orang sebagai tersangka.

Baca juga: Ancaman Opie Kumis Jika Kedua Istrinya Mengeluh Sepi Job Imbas Pandemi Covid-19

Enam orang sebagai penerima suap yakni eks Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo; stafsus Menteri KP, Safri dan Andreau Pribadi Misanta; sekretaris pribadi Edhy Prabowo, Amiril Mukminin; Pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK), Siswadi; dan staf istri Menteri KP, Ainul Faqih.

Mereka disangkakan melanggar Pasal 12 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sedangkan pihak pemberi suap adalah Direktur PT Dua Putra Perkasa (DPP) Suharjito.

Baca juga: Rey Utami Nyerah, Hampir Sebulan Pablo Benua Tak Kunjung Pulang ke Rumah Setelah Bebas dari Penjara

Ia disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Dalam kasusnya, Edhy Prabowo diduga melalui staf khususnya mengarahkan para calon eksportir untuk menggunakan PT ACK bila ingin melakukan ekspor. Salah satunya adalah perusahaan yang dipimpin Suharjito.

Perusahaan PT ACK itu diduga merupakan satu-satunya forwarder ekspor benih lobster yang sudah disepakati dan dapat restu dari Edhy.

PT ACK diduga memonopoli bisnis kargo ekspor benur atas restu Edhy Prabowo dengan tarif Rp1.800 per ekor.

Baca juga: Berada di Tengah Ibu Kota, Tanah Abang Justru Ditetapkan Zona Kasus Stunting Tertinggi di Jakpus

Dalam menjalankan monopoli bisnis kargo tersebut, PT ACK  menggunakan PT Perishable Logistics Indonesia (PLI) sebagai operator lapangan pengiriman benur ke luar negeri.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved