Berita Nasional

Minat Baca di Indonesia Masih Rendah, Perbaikan di Hulu Tentukan Kualitas Literasi

Persoalan di hulu yang menyebabkan rendahnya budaya baca dan kini menjadi fokus Perpustakaan Nasional di 2021.

Penulis: Ign Agung Nugroho | Editor: Feryanto Hadi
Istimewa
Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando pada kegiatan Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) dan penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) dengan Pemprov Riau, Pemkot Pekanbaru, dan 15 perguruan tinggi se-provinsi Riau di Universitas Lancang Kuning, Selasa, (26/1/2021). 

WARTAKOTALIVE.COM, PEKANBARU-- World Development Report Bank Dunia pada 2019, mengukur empat parameter global untuk mengetahui kualitas dan daya saing sumber daya manusia. Kesemuanya menempatkan Indonesia pada posisi mengkhawatirkan.

Persoalan di hulu yang menyebabkan rendahnya budaya baca dan kini menjadi fokus Perpustakaan Nasional di 2021.

Pertama Human Development Index, dimana pada 2018 menempatkan Indonesia pada posisi 116 dari 146 negara di dunia (0,694). Hanya naik 3 poin dari sebelumnya 0,691 pada 2017.

Baca juga: Perpustakaan Nasional Dukung Penelusuran Sejarah Bangka Belitung

Kedua, peringkat Global Innovation Index 4.0 pada 2019 menaruh Indonesia pada peringkat 85 dunia (29,72), di bawah negara Filipina meskipun di atas negara Kamboja.

Ketiga, Human Capital Index 2018 yang menempatkan ranking Indonesia 0,535, di bawah Vietnam, Thailand, dan Filipina, meski masih unggul di atas India, Kamboja, dan Laos.

Dan keempat, angka Global Competitiveness Index 4.0 pada 2019 berada di posisi 50 dari 113 negara yang di survei.

Angka global competitiveness Indonesia pada 2019 justru mengalami penurunan 3 poin menjadi 64,6 dari semula 64,9. Secara umum, bisa dikatakan kalau kualitas dan daya saing SDM Indonesia masih tertinggal dari negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.

"Data tersebut adalah fakta. Rendahnya budaya baca mengakibatkan rendahnya literasi. Padahal, literasi merupakan kunci untuk berdaya saing, " ujar Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando pada kegiatan Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) dan penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) dengan Pemprov Riau, Pemkot Pekanbaru, dan 15 perguruan tinggi se-provinsi Riau di Universitas Lancang Kuning, Selasa, (26/1/2021).

Baca juga: Minat Baca Generasi Milenial dan Gen Z Menurun, Kwikku Hadir Mendorong Kemajuan Literasi Negeri

Perbaikan sisi hulu seperti regulasi pemerintah, dukungan dana, distribusi bahan bacaan yang merata, hingga pemenuhan kebutuhan koleksi yang sesuai kebutuhan masyarakat akan menaikkan angka literasi di masyarakat (sisi hilir) secara nasional.

"Berhenti mengeluh untuk masyarakat yang termarjinalkan. Cita-cita para pemimpin dunia selalu sama yakni mengantarkan masyarakat sejahtera. Dan tugas kita saat ini adalah memastikan sisi hulu berperan optimal dan berfungsi baik. Memastikan kebutuhan bahan bacaan bagi 270 juta penduduk terpenuhi, minimal sesuai standar UNESCO, " lanjut Syarif Bando.

Idealnya, dengan alokasi pendidikan sebesar 20 persen dari APBN, persoalan bahan bacaan bisa teratasi bertahap.

Mencari buku identik dengan mencari ilmu pengetahuan. Dan kampus merupakan salah satu institusi yang diharapkan bisa menjadi ujung tombak dalam upaya memenuhi ilmu pengetahuan yang sesuai kebutuhan masyarakat.

Pelaksana Harian Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Riau Masrul Kasni mengharapkan kegiatan PILM dan MoU ini momentum kebangkitan literasi di Riau.

Baca juga: Taman Cerdas Literasi Hadir di Panongan Kabupaten Tangerang, Sediakan Bacaan dan Arena Bermain

Menurut Sekda, perpustakaan adalah tempat pembelajaran dan kemitraan masyarakat yang dikelola secara profesional untuk keadilan masyarakat.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved