Breaking News:

Ujaran Kebencian

Ogah Papua Rusuh Lagi, Komnas HAM Desak Polisi Gerak Cepat Tangani Rasisme Terhadap Natalius Pigai

Taufan menilai apa yang dialami mantan komisioner Komnas HAM itu bukan kali terjadi, dan sangat memprihatinkan.

Editor: Yaspen Martinus
TRIBUNNEWS/THERESIA FELISIANI
Natalius Pigai menjadi korban ujaran kebencian dan rasisme di media sosial. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Ahmad Taufan Damanik mendesak penegak hukum bertindak cepat menangani kasus dugaan ujaran kebencian terhadap Natalius Pigai.

Taufan menilai apa yang dialami mantan komisioner Komnas HAM itu bukan kali terjadi, dan sangat memprihatinkan.

Taufan menilai, perbedaan pendapat tidak semestinya diwarnai rasisme atau tindakan diskriminasi dalam bentuk penyampaian kebencian atau penghinaan berdasarkan ras dan etnis.

Baca juga: Ketua Kadin Pastikan Pengusaha Bakal Gratiskan Vaksin Covid-19 Mandiri untuk Karyawan

Ia juga mengingatkan penegak hukum, kasus serupa yang terjadi di Surabaya beberapa waktu lalu pernah memicu demonstrasi besar-besaran di Papua, dan berujung terjadinya berbagai kekerasan di sana.

"Karena itu, Komnas HAM mendesak aparat penegak hukum bertindak cepat, sehingga tidak terulang gejolak akibat seperti kasus Surabaya beberapa waktu lalu."

"Kami juga mengimbau semua pihak menahan diri dan mempercayakan penegak hukum untuk menyelesaikan masalah ini," kata Taufan ketika dihubungi Tribunnews, Senin (25/1/2021).

Baca juga: Doni Monardo Diduga Tertular Covid-19 Saat Makan Bersama, Ini Isi Lengkap Prokes di Restoran

Taufan menjelaskan, Indonesia sudah meratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial melalui UU 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Di dalam pasal 4 ayat a UU tersebut, kata Taufan, dikatakan tindakan diskriminatif dapat berupa “menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang karena perbedaan ras dan etnis” yang berupa sejumlah perbuatan.

Pertama, kata Taufan, membuat tulisan atau gambar untuk ditempatkan, ditempelkan, atau disebarluaskan di tempat umum atau tempat lainnya, yang dapat dilihat atau dibaca oleh orang lain.

Baca juga: Meski Fokus Cari CVR SJ 182, KNKT Bakal Lapor Basarnas Jika Temukan Jasad Korban

Kedua, lanjut dia, berpidato, mengungkapkan, atau melontarkan kata-kata tertentu di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat didengar orang lain.

Ketiga, mengenakan sesuatu pada dirinya berupa benda, kata-kata, atau gambar di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat dibaca oleh orang lain

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved