Kamis, 9 April 2026

TACB Temukan Kerusakan Pada Relief, Kerusakan Pada Bagian Lengan Petani

Pada Oktober 2020 lalu TACB sempat mengecek kondisi relief patung dengan panjang 12 meter dan tinggi tiga meter itu.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor: Agus Himawan
ANTARA FOTO
Menteri BUMN Erick Thohir meninjau lokasi penemuan relief di gedung Sarinah, Jakarta, Kamis (14/1/2021). Relief tersebut akan direstorasi dan dipamerkan kepada publik saat pemugaran gedung Sarinah rampung. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) menyebut beberapa relief di lantai dasar Gedung Sarinah, Jakarta Pusat ada yang rusak. Kerusakan itu diduga karena kelalaian dari pembuat gedung pasca renovasi akibat kebakaran 1984 lalu dan mekanik setempat.

Mekanik diduga turut andil karena ruangan itu sempat dijadikan sebagai ruang sistem tata udara atau air handling unit (AHU). Anggota TACB Candrian Attahiyat mengatakan, pada Oktober 2020 lalu dia sempat mengecek kondisi relief patung dengan panjang 12 meter dan tinggi tiga meter itu.

Kedatangannya ke sana untuk memenuhi undangan dari pihak Sarinah. “Dilihat dari subjektivitas saya, maaf saya bukan ahli seni tapi itu cukup bagus dan saya amati ada beberapa luka (kerusakan di bagian patung),” kata Candrian saat dihubungi pada Minggu (17/1/2021).

Baca juga: Greysia Polii Dedikasikan Gelar Juara Thailand Open Untuk Ibu Dan Kakaknya Yang Baru Meninggal Dunia

Baca juga: Pertahankan Suku Bunga Rendah, Bank Sentral Amerika Bikin Pelaku Pasar Kalem

Candrian mengatakan, kerusakan itu ada pada dua sosok petani di relief tersebut. Kerusakan pertama berada pada bagian lengan petani, yang bagian coran semennya terkelupas.

“Di sosok tangan petani sampai terlihat tulang betonnya dan juga ada beberapa cat, tapi itu masih bisa kami toleransi untuk diperbaiki,” ujar Candrian.

Kerusakan kedua, kata dia, pada bagian wajah dan badan dari sosok petani di patung yang cukup besar. Wajah dan badannya rusak karena posisinya menyatu dengan konstruksi Sarinah terakhir pasca direnovasi akibat insiden kebakaran pada 1984 lalu.

“Kerusakan karena faktor usia itu nggak mungkin, karena lokasinya terlindungi di ruang tertutup. Tetapi ada faktor ketidakpahaman, ketika membuat tempat itu menjadi ruang mesin karena satu patung besar petani itu menjadi sudut tembok di ruang AHU itu sendiri, sehingga sebagian wajah dan tubuhnya itu tertempel tembok baru,” jelasnya.

“Mungkin juga patahnya dari tangan petani itu karena aktivitas operasional mekanik di sana,” tambahnya.

Berdasarkan informasi yang dia dapat, ada belasan sosok perempuan, petani, nelayan serta kekayaan hasil bumi yang ada di relief tersebut. Namun dia tak ingat jumlah patungnya karena saat itu lokasinya cukup sempit dan masih dipenuhi oleh instalasi.

Baca juga: Kompetisi Liga 1 2020 Belum Ada Kejelasan, Robert Rene Alberts Batalkan Program Latihan Tim Persib

Baca juga: Shin Tae-yong Terima Keputusan Penundaan AFC U-16 Dan AFC-U-19 Karena Pandemi Covid-19

Seingat dia, celah untuk masuk ke ruangan itu sangat sempit dengan lebar sekitar 50 sentimeter. Kemudian dia juga harus melintasi pipa-pipa listrik, yang tentunya arus listrik sudah dipadamkan.

“Jadi saya masuk ke dalam ruangan cuma pandangan saya untuk melihat relief, yah itu tidak bisa leluasa karena harus dongak dan miring. Jadi saya memang sema sekali nggak dapat info detail, tapi relief itu sejak awal ada di situ,” katanya.

“Perkiraan saya entah bagaimana setelah terbakar tahun 1984, kemungkinan ada semacam pembaharuan atau renovasi yang membutuhkan ruang mekanikal elektrik jadi digunakan itu,” ungkapnya.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved