Breaking News:

Pesawat Sriwijaya Air Jatuh

Duka Begitu Dalam, Keluarga Korban Sriwijaya Air SJ-182 Perlu Dukungan Orang Terdekat

Psikolog Universitas Indonesia Rosmini menyatakan keluarga korban Sriwijaya Air SJ-182 memerlukan dukungan orang terdekat dalam situasi duka mendalam.

Youtube Wartakotalive.com
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan bahwa KRI Rigel sudah menemukan sinyal pesawat Sriwijaya Air SJ182. 

WARTAKOTALIVE.COM, GAMBIR - Psikolog Universitas Indonesia Rosmini menyatakan keluarga korban Sriwijaya Air SJ-182 memerlukan dukungan orang terdekat dalam situasi duka mendalam.

Hal ini karena kondisi musibah seperti yang dialami oleh SJ 182, tentunya memiliki dampak yang berbeda-beda pada keluarga korban.

Dampak nyata yaitu kesedihan mendalam yang luar biasa dan mendadak.

Baca juga: Mantan Senior KNKT: Ada Kemiripan Kecelakaan Sriwijaya Air SJ182 dan Adam Air Tahun 2007

"Kehilangan anggota keluarga, tentu berdampak suatu penyesalan yang terbawa ke psikologi keluarga korban, apalagi bisa aja, para keluarga belum tentu dapat menerima akan kondisi jenazah," kata Rosmini, Selasa (12/1/2021).

Dalam situasi seperti ini, tentunya banyak hal-hal menyelimuti nalar yang dianggap tidak sesuai dengan harapan.

Fase seperti ini diharapkan bisa mencoba mengikhlaskan, meskipun jangka waktu yang cukup panjang.

"Kalau untuk sekarang di suruh berfikir logis mungkin belum waktunya. Karena masih bingung, apa yang dilakukan. Mungkin orang yang masih saudara terdekat bisa membantu," katanya.

Saat ini dukungan keluarga terdekat dan bantuan keluarga terdekat sangat membantu kepada para keluarga korban.

Baca juga: VIDEO Putri Sulung Pilot Sriwijaya Air SJ 182 Menuju RS Polri Kramat Jati untuk Proses Identifikasi

Dengan begitu para keluarga yang ditinggalkan ini dapat berpikir masih ada yang mendukungnya.

"Jadi dukungan keluarga terdekat ini sangat membantu melewati masa sulit para keluarga korban yang ditinggalkan. Karena dampaknya kita tidak bisa tahu membawa depresi seberapa jauh, sehingga perlu dibantu," katanya.

Menurut Rosmini, pendamping khusus juga sangat diperlukan, sebab ketika seseorang ditinggalkan seperti yang terjadi dalam musibah SJ-182 ini, bisa saja pada akhirnya keluarga korban mengurung diri.

Mereka bisa saja merasa hidupnya ikut berakhir, tidak ada gairah, sehingga hal seperti ini harus dibantu agar berpikir jernih melihat realita.

Baca juga: Manajemen Sriwijaya Air Fasilitasi Kebutuhan dan Penuhi Hak Keluarga Korban Penumpang SJ-182

Selain itu, bantuan pendamping selama proses pengambilan sampel ante mortem pun juga diperlukan, sehingga hal ini mempermudah bagi keluarga korban, sehingga tidak harus bersusah payah lagi.

"Informasi yang lengkap juga sangat diperlukan. Jangan sampai Informasi yang didapat ini hanya setengah-setengah, ini juga akan mempengaruhi psikologi keluarga korban," ucapnya. 

Penulis: Joko Supriyanto
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved