Berita Nasional

Mensos Pastikan 23 Pemulung, Gelandangan dan Pengemis Tinggal di Balai Pangudi Luhur Bekasi

Sebanyak 23 PM ini terdiri dari 8 perempuan dan 15 laki-laki. Rata-rata mereka bermata pencaharian sebagai pemulung

dok humas ditjen rehabilitasi sosial
Kemensos bersama Kementerian/Lembaga lain terus berupaya memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat Indonesia, khususnya layanan rehabilitasi sosial bagi warga terlantar dan rentan. 

WARTAKOTALOM, JAKARTA - Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini terus melakukan penjangkauan warga terlantar di Jakarta.

Banyak hal yang harus dilakukan pasca penjemputan warga terlantar, tidak hanya solusi kongkrit secara perseorangan bagi warga terlantar atau termarjinal, tetapi langkah-langkah strategis pemenuhan hak dasar warga masyarakat yg selama ini terpinggirkan.

Hingga kini, sebanyak 23 warga terlantar atau disebut dengan Penerima Manfaat (PM) telah berada di Balai Karya Pangudi Luhur, Bekasi yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Sosial.

Dua diantaranya dirujuk ke Balai Lansia Budhi Dharma Bekasi karena perlu perawatan sosial secara intensif.

Sebanyak 23 PM ini terdiri dari 8 perempuan dan 15 laki-laki. Rata-rata mereka bermata pencaharian sebagai pemulung. Mereka juga tidak memiliki tempat tinggal tetap di Jakarta (gelandangan).

Ada yang tinggal di kolong jembatan, di emperan toko, di gerobak sampah, di pasar  di lapak atau di pemukiman kumuh. Mereka ditemukan di beberapa lokasi seperti di sekitar Pegangsaan, Pasar Baru, Thamrin, Sudirman, Manggarai. Ada juga  rujukan dari Dinas Sosial Subang dan DKI Jakarta.

Terdapat 2 (dua) Orang PM usia anak yang salah satunya tidak bersekolah. Ia hanya mengenyam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Yayasan Education Religion Be Entertainment (ERBE). Oleh karena itu Mensos meminta keluarga PM untuk tinggal di Balai Karya Pangudi Luhur Bekasi dan anak yang sempat putus sekolah diminta untuk melanjutkan sekolah di sekitar Balai.

Di Balai Karya Pangudi Luhur Bekasi, PM dewasa (seperti pemulung) mulai diberikan keterampilan berwirausaha seperti budidaya ikan lele, keterampilan membuat pupuk kompos, budidaya tanaman hidroponik dan keterampilan lainnya yang dapat memberikan penghasilan bagi PM.

Suatu terobosan penting atas inisiatif Menteri Sosial untuk pembuatan kompos dan daur ulang sampah non organik, telah ditawarkan kepada Kementerian untuk diambil sampahnya. Kemenkeu, Kemenhub dan Kemen ESDM telah mulai menyalurkan sampah dari kantor ke Balai Pangudi Luhur untuk selanjutnya dilakukan daur ulang sampah oleh para pemulung yang telah jd binaan balai.

Dalam pelaksanaan rehabilitasi sosial dengan memberikan keterampilan wirausaha bagi 23 Orang PM ini, Kemensos menggandeng Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) di Provinsi DKI Jakarta dan Kota Bekasi. LKS turut membantu memberikan pelatihan kewirausahaan bagi 23 PM ini.

Sementara PM dewasa mendapatkan keterampilan vokasional, maka untuk  anak-anak putus sekolah diusahakan dapat melanjutkan sekolah, seperti  kejar paket A,  B dan C. Dimungkinkan juga anak disekolahkan di sekitar Balai Karya "Pangudi Luhur" Bekasi.

Skemanya, PM diberikan rehabilitasi sosial melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI).

Program ini memiliki 7 layanan langsung yang terdiri dari dukungan pemenuhan hidup layak, perawatan sosial dan/atau pengasuhan anak, dukungan keluarga, terapi (fisik, psikososial, mental dan spiritual), pelatihan vokasional dan pembinaan kewirausahaan, bantuan sosial dan asistensi sosial serta dukungan aksesibilitas.

Kemensos juga membuka akses ke program-program Kementerian/Lembaga lainnya untuk memenuhi hak dasar PM. Mulai dari hak mendapatkan identitas kependudukan, hak kesehatan hingga pendidikan.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved