Breaking News:

OPINI

Efektif kah LPS Rate dan BI Rate terhadap Pemulihan Ekonomi?

Efektif kah LPS Rate dan BI Rate terhadap Pemulihan Ekonomi? Simak selengkapnya di bawah ini.

ISTIMEWA
Syaefuloh Hidayat. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Indonesia saat ini sedang mengalami krisis akibat pandemi Covid-19. Masa pandemi saat ini berimbas negatif terhadap perekonomian Indonesia. Selama tahun 2020, perekonomian Indonesia secara keseluruhan mengalami kontraksi. Oleh karena itu perlu adanya kebijakan moneter guna menstimulus perekonomian Indonesia.

Bank Indonesia memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Salah satu kebijakan yang dibuat untuk mencapai tujuan tersebut adalah bunga acuan Bank Indonesia.

Bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) adalah suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia lewat Rapat Dewan Gubernur tiap bulannya. Setelah ditetapkan, nilai BI Rate diumumkan ke publik sebagai referensi suku bunga acuan kredit. Penentuan BI Rate ini ditentukan oleh berbagai macam faktor, seperti inflasi, makroekonomi, termasuk kebijakan moneter yang akan diambil kedepannya. BI Rate sendiri dapat digunakan untuk mengontrol laju inflasi dan menjaga stabilitas perekonomian.

Baca juga: Ini Rumor Terupdate Spesifikasi Samsung Galaxy S21, Begitu Rilis Langsung Bisa Dipesan di Tanah Air

Baca juga: Ali Zaenal Berbagi Pengalaman Diserang Mahluk Astral dalam Podcast Horror Experience

Pada tahun 1998 terjadi krisis monter dan perbankan yang ditandai dengan dilikuidasinya 16 bank. Hal ini mengakibatkan turunnya tingkat kepercayaan masyarakat pada sistem perbankan. Untuk mengatasi krisis yang terjadi, pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan, diantara memberikan jaminan atas seluruh kewajiban pembayaran bank, termasuk simpanan masyarakat (blanket guarantee). Untuk menciptakan rasa bagi nasabah serta menjaga stabilitas sistem perbankan, dibentuklah Lembaga Penjamin Simpanan.

Lembaga Penjamin Simpanan adalah lembaga independen yang berfungsi menjamin simpanan nasabah perbankan di Indonesia. Badan ini dibentuk berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan yang ditetapkan pada 22 September 2004.

LPS memiliki tujuan untuk melindungi simpanan nasabah kecil karena berdasarkan data distribusi simpanan per 31 Desember 2006, rekening bersaldo sama atau kurang dari Rp100 juta mencakup lebih dari 98% rekening simpanan.

Baca juga: Gawat, Dalam Dua Hari 150 Orang Terpapar Virus Corona Ruang Isolasi di Kabupaten Bogor Hampir Penuh

 Jenis simpanan yang dijamin oleh LPS adalah bentuk-bentuk simpanan nasabah yang meliputi giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan, dan bentuk-bentuk lain yang dipersamakan. Nilai saldo yang dijamin oleh LPS adalah saldo pada saat izin bank tersebut dicabut, dan merupakan penjumlahan dari saldo dari seluruh rekening yang dimiliki oleh nasabah yang dimaksud.

Kebijakan yang dikeluarkan LPS untuk menjamin simpanan tersebut adalah melalui suku bunga pinjaman LPS (LPS Rate). LPS Rate merupakan nilai suku bunga yang dijadikan acuan LPS untuk membayar simpanan nasabah jika bank mengalami pailit maupun likuidasi. LPS rate ini ditentukan dari risiko pembentukan cadangan klaim bank gagal. LPS rate ini bukan merupakan salah satu instrumen moneter, melainkan adalah sebatas kewajiban LPS membayar klaim nasabah. Nilai dari LPS rate sendiri juga ditentukan berdasarkan BI Rate yang ada dan tidak akan jauh dari BI Rate yang sudah ditetapkan.

Adanya pandemi yang terjadi menuntut Bank Indonesia dan LPS untuk mengambil kebijakan guna mendongkrak perekonomian.

Baca juga: Pedagang Pasar Lama Tangerang Resah atas Penerapan PPKM Pekan Depan

Penurunan BI Rate dapat menstimulus perekonomian Indonesia. Penurunan BI rate memiliki dampak yang positif bagi penurunan suku bunga kredit hingga penurunan yield obligasi surat utang pemerintah.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved