Setelah Tekan Klaster Perkantoran dan Transportasi, Riza Khawatirkan Klaster Keluarga
Saat ini sudah 90 persen lebih grup-grup RT dan RW terbentuk. Di grup itu pihak RT dan RW malakukan pemantauan dan pelaporan rutin.
Penulis: Desy Selviany | Editor: Agus Himawan
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengklaim sudah mampu menekan klaster transportasi dan klaster perkantoran dalam penularan CovId-19. Ketika kedua jenis penularan itu ditekan, kini justru klaster keluarga mulai meningkat di Provinsi DKI Jakarta.
Hal itu diungkapkan Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria (Ariza) dalam talkshow implementasi PPKM Jawa-Bali yang diselenggarakan oleh BNPB Kamis (7/1/2020). Ariza mengakui, sejak PSBB ketat digantikan PSBB pelonggaran ada kenaikan kasus pada klaster transportasi.
Namun hal itu dapat diatasi dengan adanya koordinasi berbagai pihak. Koordinasi itu mulai dari pengelola transportasi umum seperti Transjakarta dan PT KAI, juga koordinasi dengan Pemda Bodetabek.
Baca juga: Emral Abus si Guru Besar Suntikkan Moral Penyemangat Pemain Jirexs Football Academy
Baca juga: Muannas Alaidid Minta Polisi Proses Hukum Fadli Zon Meskipun Adminnya Tak Sengaja Like Akun Porno
Lewat koordinasi-koordinasi itu, klaster Covid-19 di transportasi umum mulai dapat ditekan. Bahkan transportasi umum seperti KRL dapat menjadi contoh dalam penerapan dan pembudayaan protokol kesehatan.
Setelah klaster transportasi ditekan, klaster perkantoran muncul saat DKI Jakarta PSBB longgar. "Namun lagi-lagi hal itu itu dapat ditekan dengan ketatnya pengawasan dan dibentuknya Satgas Covid-19 di setiap kantor," terang Ariza.
Belakangan ini kata Ariza, justru yang menjadi kekhawatiran adalah klaster keluarga. Meski tidak menyebut jumlah pasti kenaikan, Ariza mengatakan bahwa saat ini klaster keluarga menjadi fokus Pemprov DKI Jakarta.
Maka dari itu pihaknya mulai membuat program-program pencegahan Covid-19 di lingkungan keluarga seperti Kampung Tangguh. Fungsi RT dan RW juga diperkuat agar dapat awasi protokol kesehatan dalam lingkup perkampungan.
Saat ini sudah 90 persen lebih grup-grup RT dan RW terbentuk. Di grup itu pihak RT dan RW malakukan pemantauan dan pelaporan rutin. Selain itu mereka juga mulai membangun kader Covid-19 keluarga yang fungsinya menyosialisasikan protokol kesehatan pada keluarga.
Baca juga: Anggota DPR Anis Byarwati Minta LPEI Dorong Ekspor UMKM Lantaran Disuntik Rp 5 Triliun
Baca juga: Persebaya Duduki Peringkat Tiga Dunia Interaction Rate Instagram Terbaik 2020
"Hal ini sudah kami sadari awal karena memang tingkat interaksi di Jakarta tinggi dan jarak antar rumah cukup padat," jelas Ariza. Maka dari itu kata Ariza, pemutus mata rantai Covid-19 kembali pada masing-masing individu warga Jakarta.
Dimana segala macam kebijakan yang dibuat pemerintah hanya berkontribusi 20 persen dalam memutus mata rantai Covid-19. Sedangkan kesadaran warga dalam menjaga dan melindungi diri sendiri berkontribusi 80 persen untuk putus penularan Covid-19.
"Betapa baiknya regulasi, aparat turun dan beratnya sanksi, ternyata semua hal ini kontribusi hanya 20 persen terhadap keberhasilan kita memutus mata rantai Covid-19," paparnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/ariza-talkshow.jpg)