Krisis Kedelai

Menteri Pertanian Janji Genjot Produksi Kedelai Lokal dalam Waktu 200 Hari

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo berencana menggenjot produksi kedelai lokal usai harga kedelai impor yang terus naik.

Penulis: Desy Selviany | Editor: Valentino Verry
Warta Kota/Desy Selviany
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat meninjau pabrik pengrajin tempe dan tahu di Semanan, Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (7/1/2021). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo berencana menggenjot produksi kedelai lokal usai harga kedelai impor yang terus naik. Menaikan produksi kedelai lokal akan dilakukan selama 200 hari kerja.

Hal itu diungkapkan Syahrul saat meninjau pabrik pengrajin tempe dan tahu di Semanan, Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (7/1/2021).

"Selama 200 hari kedepan saya akan lakukan lompatan produktifitas kedelai," kata Syahrul.

Ilustrasi kacang kedelai.
Ilustrasi kacang kedelai. (Organic facts)

Menurut Syahrul, naiknya harga kedelai impor dapat menjadi momentum petani lokal untuk menaikan produksi kedelai lokal. Sebab harga kedelai lokal dan kedelai impor memiliki selisih harga yang tipis di tengah situasi seperti ini.

Syahrul mengklaim, dorongan terhadap petani kedelai lokal juga sudah didukung oleh para importir kedelai.

Terlebih para pengrajin tempe dan tahu mengaku kepada Syahrul bahwa lebih menyukai produk kedelai lokal. Sebab rasa kedelai lokal dianggap jauh lebih gurih dan lezat ketimbang kedelai impor.

"Jadi semoga dengan margin tipis ini petani-petani kita lebih kuat lagi dalam tanam kedelai," terang Syahrul.

Penguatan produksi kedelai lokal itu akan dilakukan selama 200 hari. Di mana 100 hari pertama pemberian bibit kedelai kepada petani dan 100 hari kedua penebaran bibit oleh petani kedelai.

Salah satu lokasi pembuatan tempe-tahu di Komplek Perumahan Industri Kecil (PIK) Koperasi Tahu Tempe (KOPTI) Kelurahan Semanan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat.
Salah satu lokasi pembuatan tempe-tahu di Komplek Perumahan Industri Kecil (PIK) Koperasi Tahu Tempe (KOPTI) Kelurahan Semanan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat. (Andika Panduwinata)

Nantinya ia akan mengevaluasi berapa hasil akhir dari penaburan bibit kedelai di Indonesia.

"Jadi penting juga permanen sistem agar ketergantunga kita yang besar akan kedelai impor bisa diturunkan dan saya siap," tuturnya.

Nantinya kata Syahrul, Dirjen Pangan Kementerian Pertanian akan berkoordinasi dengan Bupati dan Gubernur seluruh Indonesia terkait penanaman kedelai.

Walaupun nyatanya, sampai saat ini petani Indonesia masih jarang melirik kedelai sebagai komoditas utama tani. Sebab risiko menanam kedelai di Indonesia dirasa cukup tinggi seperti hama tikus yang suka dengan tanaman kedelai.

Perajin tempe, Sahir (50), membuat tempe di kawasan Buaran Indah, Kota Tangerang.
Perajin tempe, Sahir (50), membuat tempe di kawasan Buaran Indah, Kota Tangerang. (Wartakotalive.com/Nur Ichsan)

"Apalagi jenis kedelai Indonesia lebih manis dan pendek sehingga hama tikus jauh lebih suka ketimbang tanaman lain," ujarnya.

Hal inilah yang membuat petani Indonesia jauh lebih memilih jagung ketimbang kedelai untuk ditanam. Saat ini produksi kedelai Indonesia mencapai 450 ribu kg. Ia berjanji akan tingkatkan produksi kedelai agar dapat kurangi ketergantungan impor. 

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved