Berita Depok
Kisah Guru Honorer Asuh Yatim Piatu dan Buah Hati yang Dibuang Hasil Hubungan Terlarang di Depok
Kisah Guru Honorer asuh yatim piatu dan buah hati yang dibuang hasil hubungan terlarang di Depok.
Penulis: Dodi Hasanuddin | Editor: Dodi Hasanuddin
WARTAKOTALIVE.COM, DEPOK - Tak berpikir dengan gajinya yang kecil saat menjadi guru honorer, H Samuslim tetap berbuat untuk sesama.
Keyakinannya yang tinggi akan pertolongan Allah SWT, membuat Samulslim fokus merawat dan mendidik yatim piatu dan anak-anak terlantar di Kota Depok.
Begini awal kisahnya Samuslim merawat anak-anak yatim
Samuslim yang kini berusia 51 tahun berasal dari Madiun, Jawa Timur. Saat itu orangtuanya mempunyai penghasilan pas-pasan.
Kondisi perekonomian yang sulit membuat Samuslim kesulitan biaya sekolah.
Pada tahun 80-an, dia nekat merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Kala itu pria yang memiliki suara lembut itu terdampar di Senen, Jakarta Pusat.
Saat di Senen itulah Samuslim mulai tersentuh hatinya dengan anak-anak yatim. Dia kerap membantu anak yatim meski penghasilannya tak menentu.
Meski sering membantu, Samuslim pun pernah diperdaya oleh mereka. Namun, hal itu tak membuatnya jera.
"Di Senen saya kerap bertemu dengan anak-anak yatim yang mendapatkan perlakuan tak baik. Makanya saya mencoba membantu. Saya juga pernah ditipu mereka. Tapi, saya pasrahkan semuanya," katanya, Minggu (27/12/2020).
Nasib Baik
Singkat cerita Samuslim bertemu dengan orang baik. Dia ajak tinggal di Perumnas Depok 1. Samuslim kala itu tinggal bersama anak menteri.
Dia juga telah menikah. Samuslim bekerja sebagai guru honorer di sekolah swasta di Depok Utara pada tahun 1992. Sedangkan istrinya mengajar di sekolah Islam.
Pada saat itu Samuslim sebagai guru agama dengan gaji Rp 150.000. Lantaran kurang dia mencari tambahan sebagai guru privat mengaji.
Dalam kondisi keterbatasan perekonomian, Samuslim dan istrinya tetap mengasuh anak yatim piatu dan anak terlantar.
"Anak-anak saya tampung di rumah. Walaupun makan dengan tempe terus yang penting anak-anak bisa makan. Semua kami pasrahkan sama Allah. Ada saja rezeki yang datang," ujarnya.
Pada tahun 2005, ia memanfaatkan lahan yang berada di Bedahan, Sawangan, Depok. Samuslim membangun rumah seadaanya.
Meski kumuh yang penting tidak bocor saat hujan turun.

Ternyata lahan yang dimanfaatkannya itu bermasalah. Ia adalah pemegang lahan tangan keempat.
Tanah tersebut merupakan tanah kavling DPR pada jaman Presiden Soeharto.
Beruntung pemilik lahan tersebut berbaik hati dan kemudian menyerahkan untuk panti asuhan.
Lalu, panti asuhan itu dinamakan Yayasan Panti Asuhan Yatim Piatu Al Amanah.
"Saya berhenti jadi guru honorer pada tahun 2010. Alhamdulillah ada saja jalan. Seorang jenderal juga mewakafkan tanah 1000 meter. jadi total lahan sekarang 5000 meter. Dibangun panti asuhan, masjid, dan gedung BLK untuk komputer," tuturnya.
Bayi Hubungan Terlarang
Samuslim menceritakan anak yatim piatu dan anak terlantar yang diasuhnya itu berasal dari Depok, Sukabumi, dan Ciseeng, Kabupaten Bogor.
Jumlah total anak asuhnya hingga saat ini mencapai 1.500 lebih.
Mereka itu ada yang dititpkan Dinas Sosial Kota Depok dan juga ada dari orangtuanya langsung.
Banyak dari anak asuh itu merupakan korban hubungan terlarang orangtuanya.
Pernah ada sepasang remaja yang menitipkan anaknya di sini. Remaja putri itu baru melahirkan di dekat Situ Rawa Besar.
Ada juga seorang ibu yang sudah tiga kali menikah menitipkan anaknya di sini.
Sebelum ibu itu melahirkan, suaminya meninggal. Begitu pun dengan suaminya yang lain.
"Baru melahirkan langsung dititpkan ke sini. Ada juga bayi baru melahirkan yang dibuang orangtuanya terus dititipkan di sini. Ada yang lahir di kandang ayam," ujar Samuslim.
Menurut Samuslim, ia dan istrinya merawat bayi-bayi tersebut seperti anak sendiri. JBahkan, saat bayi tidur bersama. Jadi tidak dibedakan.
Selain diasuh, anak yatim paitu dan anak terlantar itu di sekolahkan.
"Alhamdulillah saya dan istri bisa menunaikan ibadah haji walaupun dibayarin orang. Kami menanamkan akhalk dan agama kepada anak-anak," katanya.