Rabu, 22 April 2026

Lifestyle

Pakaian Pengantin Adat Kotogadang Sarat Makna Semakin Populer

Pakaian pengantin Kotagadang semakin populer. Bahkan beberapa selebritis mengenakan busana adat pengantin ini dalam pernikahannya.

Penulis: LilisSetyaningsih |
Istimewa
Ilustrasi busana pengantin adat Kotogadang 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Pakaian pengantin Kotagadang semakin populer. Bahkan beberapa selebritis mengenakan busana adat pengantin ini dalam pernikahannya.

Saat artis Laudya Cynthia Bella menikah dengan pengusaha Malaysia Engku Emran pada 2017,  foto prewedding-nya menggunakan busana pengantin Kotogadang.

Busana pengantin adat Kotogadang itu berwarna ungu dengan sentuhan emas.

Begitu juga artis Nikita Willy mengenakan busana pengantin Kotogadang modifikasi pada saat melangsungkan Malam Bainai pada Oktober 2020.

Masyarakat Indonesia semakin akrab dengan pakaian pengantin Kotogadang.

Umumnya pakaian pengantin Kotogadang diidentifikasi melalui penutup kepala pengantin wanita yang disamakan dengan kerudung. 

Seiring meningkatnya popularitas sebutan pakaian pengantin Kotogadang, muncul 
keprihatinan di kalangan bundo kanduang-kaum ibu dan perempuan di nagari Kotogadang. 

Baca juga: Isyana Sarasvati dan Rayhan Maditra Indrayanto Menikah, Begini Konsep Busana Pengantin Mereka

Ilustrasi busana pengantin Kotogadang
Ilustrasi busana pengantin Kotogadang (Istimewa)

Keprihatinan sebutan pakaian pengantin Kotogadang tersebut tidak dibarengi kelengkapan dan tata cara pemakaian yang sesuai pakaian pengantin Kotogadang sesungguhnya.

Pakaian adat pengantin memiliki aturan tersendiri dalam pemakaiannya.

Seperti pengantin Kotogadang pun demikian, ada kelengkapan dan tata cara pemakaian yang harus diikuti. 

Aturan itu berlaku sejak zaman nenek moyang dan diwariskan secara turun temurun. 

Bagi masyarakat Kotogadang, pakaian pengantin Kotogadang memiliki nilai historis yang 
tidak hanya menumbuhkan rasa kecintaan dan kebanggaan terhadap tanah leluhur.

Busana adat juga membentuk identitas tersendiri dan hingga kini pakaian pengantin Kotogadang 
masih dipakai. 

Melestarikan pakaian adat seperti pakaian pengantin Kotogadang, membutuhkan usaha 
tersendiri karena dalam perjalanannya banyak  kendala.

Antara lain, keterbatasan dan pengaruh dari luar, serta arus modernisasi begitu kuat.

Baca juga: Menjelang Pelaksanaan Pernikahan Kedua, Delon Memesan 4 Busana Pengantin Seharga Rp 50 Jutaan

Sejauh ini, pakaian pengantin Kotogadang cukup mampu bertahan tanpa ada perubahan yang 
membuatnya melenceng jauh dari keasliannya. 

Namun, di sisi lain masih banyak  ketidaktahuan mengancam kelestarian identitas pakaian pengantin Kotogadang.

"Kami ingin meluruskan tata cara pemakaian pakaian pengantin Kotogadang yang sudah melenceng sehingga mengancam kelestariannyaYetty Budiarman, Ketua Umum Yayasan Kerajinan Amai Setia Kotogadang.

Menurut Yetty, tidak dapat dimungkiri, usaha tersebut tidak akan mudah karena melibatkan banyak hal bagi pemakainya.

Seperti  biaya, aspek fesyen, dan selera pemakai.

"Tapi kami tetap berusaha untuk melakukan pelestarian pakaian pengantin adat Kotogadang untuk generasi penerus Kotogadang, maupun pihak lain yang menyukai pakaian tersebut," ucap Yetty.

Kendala lain dalam melestarikan pakaian pengantin Kotogadang juga dikemukakan Halmiati Juni, Dewan Pengawas Yayasan Kerajinan Amai Setia Kotogadang

"Karena diwariskan secara turun temurun, seiring perjalanan waktu, ada saja detail-detail yang tidak tersampaikan atau mungkin terabaikan," kata Halmiati.

Baca juga: Menikah Memakai Adat Minang, Ini Foto-foto Bahagia Akad Nikah Nikita Willy dan Indra Priawan

Akibatnya, kata Halmiati, masih banyak salah kaprah yang terjadi dalam memakai pakaian pengantin Kotogadang.

Selain itu, masih banyak yang mengabaikan kelengkapan dan tata cara pemakaian pakaian pengantin Kotogadang.

Dia menjelaskan bahwa Kelengkapan dan tata cara pemakaian pakaian pengantin Kotogadang yang berlaku dalam tradisi masyarakat Kotogadang tidak dapat diabaikan.

Alasannya, hal mendasar itu membentuk identitas tersendiri bagi pakaian pengantin Kotogadang, sekaligus membedakannya dengan pakaian pengantin adat daerah lain.

Pakaian pengantin Kotogadang juga mengandung prinsip yang tidak dapat diabaikan. 

"Prinsipnya tidak meninggalkan ajaran agama, serba tertutup. Tidak ketat. Langan laweh
(tangan lebar), badan lapang (badan longgar)," kata Srirayani Irwan, Ketua Bidang Produksi dan Promosi Yayasan Kerajinan Amai Setia Kotogadang.

"Pakaian pengantin Kotogadang itu filosofinya, serba bataratik (tertib), badacak (patut)," katanya lagi.

Menurut Srirayani, penutup kepala pengantin wanita Kotogadang yang disebut masyarakat sebagai kerudung tidak tepat.

Penutup kepala pengantin wanita Kotogadang disebut tilakuang yang bisa berarti mukena, perlengkapan salat untuk wanita.

"Tilakuang anak daro (pengantin wanita) itu tidak sama dengan kerudung. Model tilakuang sama dengan yang dipakai untuk salat," ujarnya.

Lubang penutup kepala berada di atas dan posisinya menghadap ke atas.

"Perumpamaannya, kalau kita tarik ke depan ke arah muka, posisinya sama dengan tilakuang salat. Lubang yang menghadap ke atas melambangkan seolah-olah penghormatan untuk yang di atas (Allah SWT),” ujar Srirayani.

Baca juga: Akad Nikah Memakai Busana Adat Minang, Nikita Willy: Aku dan Indra Bersyukur Sekali Hari Ini

Beragam Jenis

Ada beberapa jenis pakaian adat pengantin Kotogadang dengan aturan pemakaian berbeda-beda. 

Yayasan Kerajinan Amai Setia Kotogadang menampilkan dua jenis pakaian pengantin wanita (pakaian anak daro) dan dua jenis pakaian pengantin pria (pakaian marapulai). 

* Pakaian anak daro Kotogadang:

Baju Kurung Tarawang Tigo (dengan undok, penutup kepala berupa selendang yang dikerudungkan, dipakai setelah ijab kabul terlaksana.

Baju Kurung Batabua (dengan tilakuang, penutup kepala dari bahan beludru), biasa 
dipakai untuk resepsi. Bisa juga dipakai setelah ijab kabul terlaksana.

* Pakaian marapulai Kotogadang:

Baju Gadang (dengan deta batik, penutup kepala destar batik) – dipakai pada saat 
acara nikah maupun resepsi.

Biasanya disandingkan dengan baju kurung tarawang  tigo. Tapi bisa juga disandingkan dengan Baju Kurung Batabua

Baju Roki (dengan deta gadang ameh, penutup kepala berupa destar emas) – dipakai 
hanya pada saat resepsi di gedung. Disandingkan dengan baju kurung batabua. (*)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved