Teknologi

OutSystems: 39 Persen Pemimpin IT Asia-Pasifik Bergantung Peralatan Pengembangan Aplikasi Visual

Menurut studi OutSystems, 29 Persen organisasi di Asia Tenggara berencana menggunakan peralatan pengembangan aplikasi visual dalam 18 bulan ke depan.

Istimewa
OutSystem, pemimpin global dalam platform aplikasi modern, termasuk pengembangan aplikasi low-code, mengumumkan hasil studi InfoBrief yang dilakukan oleh firma riset pasar IDC. Hasilnya antara lain, 39 Persen Pemimpin IT Asia-Pasifik bergantung pada peralatan pengembangan aplikasi yang dipandu secara visual. 

Sebanyak 58 persen developer menyatakan bahwa tantangan terbesar dalam mengadopsi platform pengembangan low-code adalah integrasi keamanan dan pengembangan.

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Pemimpin global dalam platform aplikasi modern, termasuk pengembangan aplikasi low-code, OutSystems, baru saja mengumumkan hasil studi InfoBrief yang dilakukan oleh firma riset dan penasehat pasar IDC.

Survey berjudul Survei Perangkat Lunak Asia/Pacific 2020: DevOps, DevSecOps dan Masa Depan Inovasi Digital, yang disponsori oleh OutSystems ini, menggali wawasan mengenai bagaimana organisasi di Asia-Pasifik dapat memanfaatkan pabrik inovasi digital untuk tumbuh dan berkembang dalam lingkungan bisnis masa kini.

Menurut hasil yang didapatkan, 39 persen pemimpin IT di Asia-Pasifik bergantung pada peralatan pengembangan aplikasi yang dipandu secara visual.

Baca juga: Dinobatkan lagi sebagai Pemimpin Global Pengembangan Aplikasi Modern, Ini Kiprah OutSystems

Baca juga: Gandeng Berdikari Insurance, Pengembangan Aplikasi Media Sosial Hyppe Kini Makin Terlindungi

Tiga alasan utama penggunaan ini adalah:

1. Karena mereka percaya bahwa peralatan pengembangan yang dipandu secara visual adalah masa depan,

2. Karena mempermudah pengalaman bagi pengembang aplikasi, dan

3. Karena lebih intuitif.

Lebih dari setengah pengambil keputusan di Asia-Pasifik merasa yakin bahwa organisasi mereka akan bergantung pada platform low-code untuk mengerjakan lebih dari seperempat proyek yang mereka miliki, dan peralatan pengembangan low-code akan mencapai puncak penggunaannya di tahun 2021.

Baca juga: GushCloud Hadirkan Layanan Pembayaran Influencer Lebih Awal lewat Platform LytePay

Baca juga: Dukung Perusahaan Cepat Beradaptasi di Masa Pandemi, Oracle Cloud Bikin Pembaruan Solusi SaaS Oracle

“Dengan pertumbuhan Asia-Pasifik yang demikian cepat, wilayah ini akan menjadi pusat data yang sangat penting di tahun 2024,” kata Mark Weaser Vice President, Asia Pacific OutSystems.

Langkah berikutnya bagi perusahaan di wilayah ini, lanjut dia, adalah memanfaatkan keuntungan yang diberikan peralatan pengembangan visual untuk membangun aplikasi cloud-native.

"OutSystems merasa beruntung bisa mendukung kebutuhan pelaku bisnis akan teknologi low-code serta cloud untuk mewujudkan potensi penuh wilayah ini sebagai pusat data yang penting di masa yang akan datang,” paparnya.

Baca juga: Tak Hanya Lindungi Karya Content Creator dari Pembajakan, Aplikasi Hyppe juga Beri Penghasilan

Baca juga: Awas, Belanja Online Akhir Tahun Rawan Penipuan dan Kejahatan Siber, Ini Penjelasan dan Tips McAfee

Menyusul para Early Adopter

Seiring dengan bertumbuhnya Asia Tenggara menjadi pusat data yang penting di masa depan, sebagian organisasi masih mengalami kesulitan untuk mengadopsi proses dan praktik agile serta DevOps dalam siklus hidup pengembangan perangkat lunak mereka.

Untuk negara yang sudah selangkah lebih maju seperti Singapura dan Indonesia, penekanannya adalah pada cara-cara memaksimalkan tim DevOps dan mengamankan prosesnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved