Breaking News:

Maradona Meninggal Dunia

Maradona Meninggal Dunia di Usia 60 Tahun, Telah Cetak 292 Gol, ini Perjalanan Karir Sepakbolanya

Maradona yang dikenal dalam gol tangan Tuhan telah meniti karir sepakbola dari berbagai klub. Lalu bagaimana perjalanan karir sepakbola Maradona?

ESPN
Legenda sepek bola Argentina Diego Maradona meninggal dunia akibat serangan jantung, Rabu (25/11/2020) 

Kurang Sukses di Barcelona

Pada 1982, Diego Maradona mendarat di klub raksasa, Barcelona dengan rekor transfer 5 juta poundsterling, rekor pemain termahal dunia saat itu.

Performa Diego Maradona memang luar biasa.

Bahkan pada laga El Clasico 26 Juni 1983, dia mencetak gol yang ikut membawa Barcelona membantai 3-0 Real Madrid di kandangnya Stadion Santioago Bernabeu kala itu.

Atas sihir yang ia tontonkan selama laga bergengsi itu, Diego Maradona mendapat aplaus berdiri dari fans Real Madrid dan itu merupakan peristiwa pertama kali sebelum akhirnya terulang pada Ronaldinho dan Andres Iniesta.

Namun, kesalahan diet makanan, sakit hepatitis dan cedera hamper mematikan karier Diego Maradona setelah itu.

Belum lagi peristiwa caos dalam final Copa del Rey 1984 melawan Bilbao dimana Diego Maradona tak mampu jaga emosi, memicu keributan pemain dan kericuhan di laga itu.

Akhirnya demi menjaga marwah klub dan tak ingin memiliki pemain yang melawan direksi, Barcelona melego Diego Maradona ke klub Italia, Napoli pada 1984.

Kilmaks dan Antiklimaks di Napoli

Tiba di kota Naples dengan rekor 6,9 juta poundsterling (lagi-lagi termahal kala itu), Diego Maradona dipuja bak sang juru selamat disana dengan sambutan 75ribu fans di Stadion San Paolo.

Meski Napoli adalah tim menengah kala itu, ternyata kehadiran Maradona mampu mengerek klub berjuluk Partenopei tersebut ke papan atas Serie A Italia.

Diego Maradona pun diberi amanat sebagai kapten tim dan langsung menjadi idola dalam dan luar lapangan.

Selang dua musim, tepatnya pada 1986-87 akhrinya Diego Maradona mampu membuka tirai sejarah Napoli untuk meraih scudetto pertama kali.

Kemenangan klub asal wilayah Italia selatan itu sangatlah mengharukan terutama bagi masyarakatnya kala itu.

Ketimpangan ekonomi dan pembangunan antara Italia utara dan selatan memang sangat kentara dan kebetulan klub-klub asal Italia utara kala itu seperti Juventus, AC Milan atau Inter sedang mendominasi Serie A.

Maka, kemenangan Napoli diibaratkan sebuah kemenangan penuh pembuktian dari masyarakat Italia selatan.

Lantas, Diego Maradona yang berperan besar dengan gol dan aksi-aksi yahudnya semakin dikultuskan oleh masyarakat Italia, terkhusus orang Naples.

Dua kali scudetto hingga mengantar Napoli juara UEFA Cup (sekarang Liga Europa) adalah bukti sahih prestasi Maradona disana.

Meski bermain sebagai gelandang serang, dia mampu raih gelar top skor liga pada 1987-88 dengan 15 gol.

Saking murninya kualitas seorang Diego Maradona, bek legendaris Italia Paolo Maldini bahkan memuji pemain berjuluk El Pibe del Oro itu sebagai manusia tak terhentikan dan lawan tersulit yang pernah dihadapi.

Namun karier Diego Maradona bersama Napoli selain berlalu klimaks juga berjalan antiklimaks.

Dia sering kali terkena kasus seperti penggunana kokain, tak tertib aturan klub, skandal anak diluar nikah dan dugaan kedekatan dengan mafia.

Musim 1990-91 menjadi akhir cerita yang memilukan bagi Diego Maradona, kontraknya berakhir, nomor punggung 10 miliknya dipensiunkan dan dia terkena hukuman larangan bermain 15 bulan karena penggunaan kokain.

Setelah selesai menjalani hukuman, musim 1992-93 dia memulai hidup kembali di Sevilla namun berlangsung semenjana hingg akhirnya melanglang buana ke klub lain seperti Newell’s Old Boys dan klub lamanya, Boca Juniors.

Tak Bakat Melatih

Karir kepelatihan Diego Maradona benar-benar bertolak belakang dengan kemampuan dia saat bermain.

Dia pernah melatih Mandiyu de Corrientes, Racing Club, Al asl, Fujairah, Dynamo Brest dan berbagai klub tak terkenal lain.

Namun, momen terburuk adalah ketika dia gagal di Piala Dunia 2010 saat menangani tim nasional Argentina.

Maradona miskin pilihan taktik, tak punya pola permainan yang jelas dan hanya mengandalkan kreativitas pemain buat Albiceleste babak belur dihajar Jerman 4-0 di laga perempat final.

Tim Nasional Argentina

Karier internasional Diego Maradona justru lebih cemerlang daripada di klub-klub yang ia bela.

Dia membawa Argentina juara Piala unia 1986 dengan menjadi aktor penting di dalam perjalanannya.

Salah satunya yakni laga perempat final versus Inggris yang akan terus dikenang sepanjang hayat hidup umat manusia.

Dalam laga berkesudahan 2-1 untuk Argentina, Maradona mencetak dua gol kemenangan itu.

Majalah ternama Perancis L’Equipe mendiskripsikan dua gol Diego Maradona sebagai setengah dewa dan setengah iblis.

Dalam laga sengit dibumbui latar belakang perang Falklands memperebutkan pulau Malvinas antar kedua negara dalam isu politik, Diego Maradona melakukan keajaiban yang mustahil dilupa sepanjang masa.

Gol pertama dicetak dengan gerakan tangan Diego Maradona menyentuh bola ketika melakukan duel udara dengan bek Inggris yang kini popular dengan istilah “gol tangan Tuhan”.

Seharunya gol itu tak sah, namun wasit bergeming.

Gol kedua, Diego Maradona menunjukkan bahwa selain mampu berlaku picik di gol pertama, dia adalah gambaran nyata seorang yang mendapat bakat ilahiah dalam sepak bola.

Diego Maradona dengan hanya 11 sentuhan bola mampu meliuk-liku melewati lima pemain dan mengecoh kiper Peter Shilton sebelum menyeploskan bola dengan gerakan sambil menjatuhkan diri.

Salah satu gol terindah yang pernah ada dalam jagad sepak bola.

Praktis, hanya Piala Dunia 1986 lah yang terbaik bagi Maradona dan Argentina karena selain itu, ia gagal persembahkan juara.

Prestasi

Klub

Boca Juniors

Argentine Primera División: 1981 Metropolitano

Barcelona

Copa del Rey: 1983

Copa de la Liga: 1983

Napoli

Serie A: 1986–87, 1989–90

Coppa Italia: 1986–87

UEFA Cup: 1988–89

Supercoppa Italiana: 1990

Tim Nasional Argentina

FIFA World Cup: 1986

Individu

  • Maradona's Golden Foot award in “The Champions Promenade" on the seafront of the Principality of Monaco
  • Argentine Primera División top scorers: 1978 Metropolitano, 1979 Metropolitano, 1979 Nacional, 1980 Metropolitano, 1980 Nacional
  • FIFA World Youth Championship Golden Ball: 1979
  • FIFA World Youth Championship Silver Shoe: 1979
  • Argentine Football Writers' Footballer of the Year (4): 1979, 1980, 1981, 1986
  • South American Footballer of the Year: (official award) 1979, 1980
  • L'Équipe Champion of Champions: 1986
  • Capocannoniere (Serie A top scorer): 1987–88
  • World Team of the 20th Century: 1998
  • Marca Leyenda: 1999
  • Number 10 retired by Napoli football team as a recognition to his contribution to the club: 2000
  • FIFA Player of the Century: 2000
  • FIFA Goal of the Century (for his second goal against England in 1986 FIFA World Cup quarter-final): 2002

Statistik

  • Argentinos Juniors 166 gol (1976, 1977, 1978, 1979, 1980)
  • Boca Juniors 35 gol (1981, 1995-96, 1996-97, 1997-19980
  • Barcelona 38 gol (1982-193, 1983-1984)
  • Napoli 115 gol (1984-85, 1985-86, 1986-87, 1987-88, 1988-89, 1989-90, 1990-91)
  • Sevilla 6 gol (1992-93)
  • Newell’s 0 gol (1993-94)
  • Internasional
  • Argentina 34 (1977-1994)

Fakta Lain

Diego Maradona adalah sososk kontroversial baik secara perbuatan maupun ucapan.

Selain pernah terjerat kasus narkotika dan isu skandal dengan perempuan, Diego Maradona juga terlilit hutang 37 juta euro kepada pemerintah Italia.

Dalam pandangan politik, Diego Maradona dekat dengan tokoh-tokoh berhaluan sosialis seperti Fidel Castro dan Hugo Chavez.

Nama “Maradona” sangat mendunia tak hanya menjadi nama anak-anak di Argentina namun hingga keseluruh dunia termasuk Indonesia.

Karena sangat dicintai oleh banyak orang, bahkan di Rosario, Argentina ada gereja khusus yang menuhankan Diego Maradona dengan nama gereja Iglesia Maradoniana.

(TribunnewsWiki.com/Haris Chaebar)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Diego Maradona

Editor: Mohamad Yusuf
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved