Musik

Saat Ini Teknologi 'Hanya' di Genggaman Tangan, Musisi Sebaiknya Beradaptasi dan Bisa Lakukan Apapun

Saat ini era teknologi 'hanya' berada dalam genggaman tangan, musisi Indonesia harus bisa beradaptasi dan dapat melakukan apapun.

istimewa
Diskusi DIKSI Episode 8 yang bertema 'Platform Musik Digital, Model Bisnis dan Hak Cipta' gagasan Federasi Serikat Musisi Indonesia, Rabu (18/11/2020). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Industri musik Indonesia harus bisa menyesuaikan zaman.

Saat ini era teknologi 'hanya' berada dalam genggaman tangan, musisi Indonesia harus bisa melakukan adaptasi.

Proses produksi yang bisa menghabiskan waktu lama kini bisa dilakukan di kamar dalam waktu seminggu.

Baca juga: Bukan Bermusik dan Menjadi Vokalis Band Terkenal, Ini Cita-cita Masa Kecil Rian Ekky Pradipta

Baca juga: Tertarik Jadi Konten Kreator Musik yang Bisa Menyedot Perhatian Publik, Simak Tips Ini Supaya Sukses

Meski relatif cepat, penjualan karya musik hingga distribusi bahkan hak royalti tak boleh luput dari perhatian.

Irfan Aulia, gitaris SamsonS, mengatakan, musisi tidak boleh melupakan music publisher dan harus mendaftarkan karyanya.

Dengan cara tersebut, musisi, terutama komposer musik, bisa melindungi karyanya untuk mendapat royalti.

Diskusi DIKSI Episode 8 yang bertema 'Platform Musik Digital, Model Bisnis dan Hak Cipta' gagasan Federasi Serikat Musisi Indonesia, Rabu (18/11/2020).
Diskusi DIKSI Episode 8 yang bertema 'Platform Musik Digital, Model Bisnis dan Hak Cipta' gagasan Federasi Serikat Musisi Indonesia, Rabu (18/11/2020). (istimewa)

"Saat ini untuk menikmati musik tidak harus membeli musik. Yang dibeli adalah akses. Maka bisnis industri berubah akibat disrupsi digital," kata Irfan Aulia, Rabu (18/11/2020).

Irfan Aulia yang juga perwakilan music publisher mengatakan hal itu dalam diskusi DIKSI Episode 8 yang bertema Platform Musik Digital, Model Bisnis dan Hak Cipta gagasan Federasi Serikat Musisi Indonesia.

Dari produksi dan distribusi itu kemudian muncul istilah 360 Musicians, sebuah model bisnis baru.

Baca juga: Live Streaming 14 Jam, Prambanan Jazz Festival 2020 Jadi Konser Musik Live dengan Durasi Terpanjang

Baca juga: Beraksi di Prambanan Jazz Virtual Festival 2020, Andmesh Kamaleng Obati Rindu Para Pecinta Musik

Bisnis itu menjadikan musisi juga bertindak sebagai musisi, komposer dan mendistribusikan musiknya sendiri.

"Musisi menjadi semua, maka harus mengerti semuanya. Dari bisnis model ini, advertisement dan paid subscription adalah main income," jelas Irfan Aulia.

Bicara streaming, lanjutnya, satu lagu setiap bulannya bisa mendapatkan pendapatan yang berbeda. Dua video yang beredar dengan penonton yang sama juga bisa mendapatkan hasil yang berbeda pula.

Baca juga: Cinta Wirawan Nyanyikan Sakit Bila Dipendam, Denny Chasmala: Saya Temukan Vokal yang Sangat Musikal

Baca juga: Musisi dan Pekerja Musik Sebaiknya Punya Organisasi, Candra Darusman: Bisa Menjadi Pressure Groups

Hukum di Indonesia juga harus bisa melindungi para musisi di era teknologi yang berkembang pesat seperti saat ini.

Dengan memasukan karya ke music publisher didukung payung hukum yang kuat bukan hal mustahil komposer musik lebih berjaya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved