Breaking News:

Kasus Jiwasraya

Praperadilan Nasabah Wana Artha Sempat Berlarut-larut, Pengadilan Diminta Menjelaskan Alasannya

“Jika alasannya tidak kuat, pengunduran selama tiga bulan tersebut tidak lazim dan ada keanehan atau tidak wajar,” tuturnya, Senin (2/11/2020).

Tribunnews.com
Suasana sidang vonis kasus korupsi Jiwasraya 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA- Nasabah Wana Artha Life terus mencari keadilan setelah rekening efek Wana Artha Life dibekukan Kejaksaan. 

Mereka sudah mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, namun gagal dikabulkan karena proses hukum kasus Jiwasraya sudah berjalan. 

Padahal, pengajuan praperadilan sudah didaftarkan sejak April 2020 namun baru diputuskan pada Juni 2020.

Para pemegang polis asuransi juga mengajukan upaya class action pada Juli, dan baru disidangkan belakangan ini.

Pakar hukum Pidana Mudzakir mengatakan, pengunduran sidang bisa dianggap kejanggalan jika tidak disertai alasan yang jelas.

Ia menyebut pengadilan  harus menjelaskan alasan pengunduran peradilan berbulan-bulan.

“Jika alasannya tidak kuat, pengunduran selama tiga bulan tersebut tidak lazim dan ada keanehan atau tidak wajar,” tuturnya, Senin (2/11/2020).

Mudzakir menegaskan, para nasabah boleh mengajukan praperadilan selaku pihak ketiga yang berkepentingan terhadap tindakan jaksa yang menyita aset nasabah. 

Sebab, lanjutnya,  nasabah bukan sebagai pelaku tindak pidana dan aset tersebut bukan berasal dari tindak pidana.

Baca juga: Gubernur Anies Baswedan Instruksikan Gugus RW Antisipasi Lonjakan Covid-19 Pascalibur Panjang

Baca juga: Liga 1 2020 Ditunda Kembali, PT LIB Upayakan Bantuan bagi Klub Peserta

Baca juga: Pemprov DKI Buka Lowongan 1.545 Relawan, Insentif Rp 7 Jutaan per Bulan, ini Posisi dan Syaratnya

Sementara Komisi Yudisial (KY) mempersilakan nasabah untuk melaporkan kejanggalan oleh pihak pengadilan.  

Komisioner KY Maradaman Harahap mempersilakan para nasabah melaporkan kejanggalan dan dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan hakim.

Ia mengakui ada nasabah Wana Artha Life yang datang dan melapor. Namun pelaporan itu terkait perlindungan hukum kepada para pemegang polis. “Laporan pemegang polis bukan soal praperadilan,” ujarnya singkat.

Seperti diketahui, Kejaksaan membekukan Rekening Efek Wana Artha dengan tudingan terkait kasus Jiwasraya dengan pelaku Benny Tjokro. Namun para nasabah lain merasa sangat dirugikan karena tidak ada keterkaitan apapun dengan Benny Tjokro.

Terpisah, salah satu nasabah Wana Artha Wahjudi mengatakan, sampai kapan pun dirinya akan berusaha agar rekening mereka bisa digunakan kembali.

“Kami dari pemegang polis (PP) juga akan mengajukan keberatan melalui class action. yang sudah diajukan gugatannya juga kami akan mengajukan surat keberatan juga. Kami PP juga masih membahas akan mengajukan melalui kelompok di PP maupun pribadi-pribadi, ini sedang kami bicarakan mekanismenya seperti apa,” ujarnya.

Ia mengaku heran dengan sidang di PN Jakarta Selatan yang berlarut-larut. “Itu yang kami sangat menyesalkan kenapa untuk sidang seperti itu mesti berbulan-bulan nunggu. Sedangkan (persidangan) Jiwasraya bisa cepat 120 hari sudah selesai. Jadi ini ada konspirasi apa? kami orang awam tidak tau. Tapi ada yang patut diduga kuat ada konspirasi,” ujarnya.

Ia juga menduga class action ini tidak disukai oleh Kejaksaan Agung, OJK, dan 13 Manajer Investasi.

Wahjudi mengatakan, seharusnya penegak hukum mencermati apakah tindak yang dilakukan yakni pembekuan oleh negara itu adalah tindakan yang bijak.

“Apa tindakan itu yang sesuai dengan KUHP /KUHAP, sesuai dengan fakta persidangan atau tidak atau itu semuanya disingkirkan dan yang berlaku adalah undang-undangnya Ki Dalang (dalang yang mengatur ini). saya tidak tahu ki dalang itu siapa. Ini yang ngatur sesgala sesuatunya. Satu hal yang aneh kenapa pemeriksaan BPK hanya 10 tahun tidak 15 tahun. Kenapa tidak mulai dari 2003. Ini mesti dipertanyakan. Tapi nanyakan ke siapa rumput yang bergoyang?” tanyanya.


Ia menjelaskan, sidang ketiga kasus class action digelar pada 30 November2020. Namun ia memprediksi sidang ke empat tahun 2021.

Baca juga: VIDEO 232.344 Orang Pelanggar Protokol Kesehatan di Jadetabek Terjaring Operasi Yustisi

Baca juga: APBD Perubahan 2020 DKI Jakarta Disepakati jadi Rp 63,23 triliun

“Jadi eskalasinya itu dari 1 ke 2 ke 3, eskalasi bisa akhir semester pertama 2021. Kalau dia konsisten dalam arti mengikuti setingan ki dalang nanti akan menjadi akhir semester pertama 2021. Menarik untuk dianalisis. Ada apa dibelakang ini,” tuturnya.

Wahjudi mengumpamakan, seekor semut yang diperlakukan sewenang wenang, dia akan menggigit. “Semut ini merupakan binatang lemah, kalau dia mau diinjek sebelum mati akan menggigit. Kami tidak akan menyerah sampe mati dilapangan,” ujarnya.

Ia menegaskan hal ini dilakukan agar uang nasabah bisa kembali dan negara menjalankan kebenaran. Ia juga mengatakan, para PP sudah lapor ke Komisi Yudisial (KY) untuk minta perlindungan hukum dan mengawal persidangan jiwasraya.

“Kami malah diminta laporan untuk membuktikan kalau hakim melanggar perilaku atau etika,” ujarnya.

Nasabah PT Asuransi Jiwa Adisarana WanaArtha atau WanaArtha Life lainnya, Hana Djie tak terima dengan keputusan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dalam kasus Jiwasraya.

Terutama diktum putusan tersebut adalah merampas sub rekening efek (SRE) WanaArtha.

Sub rekening efek Wanaartha terdapat uang sekitar Rp4 triliun yang 75 persen dananya milik 26 ribu nasabah. Satu di antaranya adalah Hana.

"Tidak sesuai pak, kami nasabah hanya membeli produk asuransi untuk kecelakaan atau jiwa," ujar Hana kepada Tribun, Rabu (28/10).

Senin (26/10) lalu, puluhan orang yang mengaku nasabah PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha (WanaArtha Life) marah-marah kepada Majelis Hakim dan jaksa seusai sidang kasus korupsi di PT Asuransi Jiwasraya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

Begitu sidang selesai, mereka maju ke meja hakim sambil berteriak-teriak.

"Dasar kalian, kalian mau kami mati semua," ujar seorang perempuan yang belakangan diketahui bernama Stefani.

Ketika semakin banyak nasabah WanaArtha yang maju ke meja sidang, majelis hakim dan jaksa meninggalkan tempat melalui pintu samping.

Para nasabah itu terus mendesak maju, sambil berteriak-teriak hingga harus dihadang oleh petugas keamanan.

Di ruang sidang itu, sebelumnya majelis hakim baru saja memvonis dua terdakwa kasus korupsi Jiwasraya, Benny Tjokro dan Heru Hidayat dengan hukuman penjara seumur hidup.

 

Sebagian Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Curhat Nasabah WanaArtha Life Bagian Pertama, 'Kami Terancam Mati',

Editor: Ahmad Sabran
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved