Breaking News:

Omnibus Law

Polisi Sebut Beberapa Admin Medsos Penggerak Pelajar SMK Demo Rusuh Juga Aktor Lapangan

Pembuatan WAG berawal karena semuanya merupakan anggota akun facebook STM Sejabodetabek.

Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor: Feryanto Hadi
Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana 

WARTAKOTALIVE.COM, SEMANGGI--Polda Metro Jaya kembali membekuk dan menetapkan tersangka kepada 10 pemuda yang merupakan penggerak para pelajar SMK dan kelompok anarko melalui media sosial, untuk melakukan kerusuhan dalam demo menolak UU Omnibus Law di Jakarta.

Ke 10 orang yang semuanya siswa SMK ini menghasut, memprovokasi dan mengajak para pelajar lainnya melakukan demo rusuh melalui akun Facebook, Instagram dan juga WhatsApp Grup (WAG).

Sebelumnya Polda Metro juga sudah menangkap 3 siswa SMK penggerak pelajar dan kelompok anarko untuk berbuat anarkis dalam demo menolak UU Omnibus Law.

Baca juga: Untuk Kamuflase, Kelompok Anarko Tak Lagi Pakai Baju Hitam dan Simbol Khas A Dilingkari

Ini berarti sudah sekitar 13 siswa SMK pelajar yang memprovokasi pelajar lainnya lewat media sosial diamankan petugas.

Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat mengatakan dari 13 orang itu beberapa diantaranya juga diketahui adalah aktor lapangan yang ikut berdemo dan melakukan kerusuhan.

"Dari mereka ini ada yang merupakan pelaku lapangan dan sekaligus juga admin akun medsos penggerak. Karena dari mereka inilah setelah didalami didapat admin medsos lainnya berupa Facebook, grup WhatsApp dan Instagram," kata Tubagus.

Ia mengakui bahwa sebagian besar pelaku yang merupakan pelajar ini tak mengetahui jika menjadi admin penghasut maka bisa ditindak pidana.

Baca juga: Merasa Dilecehkan soal Pusar, Rahayu Saraswati akan Berjuang Melawan Lewat Jalur Hukum

"Tetapi ketidaktahuannya tidak membebaskan ia dari jerat hukum. Sebab ada asas Fiksi Hukum dimana bahwa ketika suatu peraturan perundang-undangan telah diundangkan, maka pada saat itu setiap orang dianggap tahu atau presumption iures de iure, dan ketentuan tersebut berlaku mengikat. Sehingga ketidaktahuan seseorang akan hukum tidak dapat membebaskan atau memaafkannya dari tuntutan hukum," papar Tubagus.

Sementara itu Direktur Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Roma Hutajulu dalam kesempatan yang sama mengatakan semua pelajar yang dibekuk muaranya adalah menyebarkan hasutan dan provokasi lewat akun Facebook 'STM Sejabodetabek' dan akun Instagram @panjang.umur.perlawanan.

"Dari sana, terutama akun Facebook, mereka membentuk WhatsApp Group atau WAG," kata Roma di Mapolda Metro Jaya, Selasa (27/10/2020).

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved