Breaking News:

Kejaksaan Agung

Pakar Forensik Nilai Industri Rokok Ikut Tanggung Jawab Dalam Kebakaran Gedung Kejaksaan Agung

Pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, meminta Polri juga meminta pertanggung jawaban pabrik rokok atas kebakaran hebat yang terjadi.

Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor: Valentino Verry
Tribunnews.com
Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, meminta Polri juga meminta pertanggung jawaban pabrik rokok atas kebakaran hebat yang terjadi di gedung Kejaksaan Agung.

Sebelumnya, Polri telah mengungkap penyebab kebakaran gedung Kejaksaan Agung.

Kesimpulannya api bersumber dari rokok pekerja bangunan. Para tersangka pelaku yang dianggap lalai pun telah ditahan.

Gedung Kejaksaan Agung di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, tampak ludes usai dilalap si jago merah, Minggu (23/8/2020). Hampir keseluruhan bangunan Kantor Kejagung hangus akibat kebakaran yang terjadi pada Sabtu (22/8/2020) malam hingga Minggu pagi.
Gedung Kejaksaan Agung di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, tampak ludes usai dilalap si jago merah, Minggu (23/8/2020). Hampir keseluruhan bangunan Kantor Kejagung hangus akibat kebakaran yang terjadi pada Sabtu (22/8/2020) malam hingga Minggu pagi. (Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha)

Menurut Reza, masalah sepatutnya tidak berhenti sampai di situ saja.

"Sekian banyak data menunjukkan rokok sebagai salah satu penyebab kebakaran bangunan, termasuk rumah,” ujarnya kepada Warta Kota, Minggu (25/10/2020).

“Rokok bahkan tercatat sebagai penyebab kebakaran yang memakan paling banyak korban jiwa," imbuh Reza.

Menurut Reza, perusahaan rokok tidak bisa begitu saja lepas tangan, dan menimpakan kesalahan sepenuhnya pada para perokok yang ceroboh mengakibatkan kebakaran.

Api melalap gedung utama Kantor Kejaksaan Agung di Jakarta Selatan, Sabtu (22/8/2020) malam. Warta Kota/Alex Suban
Api melalap gedung utama Kantor Kejaksaan Agung di Jakarta Selatan, Sabtu (22/8/2020) malam. Warta Kota/Alex Suban (Warta Kota/Alex Suban)

"Dalam kasus terbakarnya bayi berusia dua tahun Shannon Moore, misalnya, perusahaan rokok ternama akhirnya membayar jutaan dolar kepada korban,” ucap Reza.

“Nilai tersebut tentu tidak sebanding dengan kesengsaraan yang diderita bayi malang tersebut,” lanjutnya.

“Tapi kasus ini menunjukkan bahwa masyarakat tetap menuntut pertanggungjawaban industri tembakau saat terjadi tragedi kebakaran akibat rokok," kata Reza yang juga Konsultan di Lentera Anak Foundation ini.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved