Virus corona

Bank Dunia Apresiasi Sistem Pendistribusian Bantuan Sosial di Indonesia

Indonesia telah berhasil mengubah sistem penyaluran bantuan secara mendasar dalam waktu yang relatif singkat

Dok. Humas Kemensos
Menteri Sosial Juliari P. Batubara menyerahkan bantuan paket sembako kepada warga penerima manfaat, beberapa waktu lalu. Terkait kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang akan menerapkan pengetatan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Kementerian Sosial masih fokus pada bantuan sosial (bansos) yang sudah berjalan, termasuk bansos sembako di DKI Jakarta dan Botabek. 

Wartakotalive.com, Jakarta - Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, Satu Kähkönen menyatakan, Indonesia telah berhasil mengubah sistem penyaluran bantuan secara mendasar dalam waktu yang relatif singkat.

Satu menyebut, ada dua pembelajaran dari Indonesia yang patut diikuti seluruh dunia.

Pertama, Program Keluarga Harapan Indonesia merupakan program Conditional Cash Transfer terbesar kedua di seluruh dunia.

Kedua, Program Bantuan Sembako dalam bentuk e-Voucher yang berfokus pada nutrisi penerima manfaat daripada sekedar distribusi beras.

Ini disampaikan Satu saat acara International Webinar “Delivering Social Assistance During the Pandemic: Lessons from Indonesia” yang diselenggarakan MicroSave Consulting, Inke Maris & Associates Consultant dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Kementerian Sosial Republik Indonesia, didukung oleh Bill & Melinda Gates belum lama ini.

Acara ini dimoderatori oleh founder & Group Managing Director Microsave Consulting, Graham Wright, perusahaan berpusat di London dengan aktivitas di 50 negara.

Director of the Financial Services for the Poor Bill & Melinda Gates Foundation, Michael Wiegand, menyoroti bagaimana masih banyaknya masyarakat yang belum terjangkau akses keuangan menjadi tantangan utama pendistribusian bansos di masa depan.

“Inklusi keuangan menjadi penting dalam mempermudah proses verifikasi dan otentifikasi target penerima bansos," katanya.

Bantuan sosial berupa beras dari Bupati Bogor di Kantor Desa Bojonggede sebelum didistribusikan kepada warga.
Bantuan sosial berupa beras dari Bupati Bogor di Kantor Desa Bojonggede sebelum didistribusikan kepada warga. (Wartakotalive.com/Yudistira Wanne)

Selain itu, kata dia perempuan menjadi pihak yang paling terdampak dari pandemi, di mana sebagian besar merupakan pekerja informal atau terdampak PHK.

"Mengidentifikasi kebutuhan perempuan dalam mengakses bansos dan mendesain program yang didasari kebutuhan perempuan menjadi penting,” ujar Wiegand.

Menurut Wiegand, terdapat empat fokus area perbaikan. Pertama, memperluas entitas dan agen yang dapat mengakselerasi inklusi keuangan dan memfasilitasi layanan Cash In & Cash Out (CICO), seperti misalnya kantor Pos dan Teknologi Finansial (fintech).

Kedua, sistem yang saling tersambung atau interoperability antara bank pemerintah maupun swasta, kantor pos dan lembaga keuangan lainnya.

Ketiga, bagaimana penerima bansos yang tidak memiliki perangkat mobile tetap dapat mengakses akunnya melalui KTP atau otentikasi biometrik.

Terakhir, penting juga memastikan ketersediaan uang tunai bagi agen layanan Cash In & Cash Out di seluruh Indonesia.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved