Serie A

Striker Inter Romelu Lukaku Sempat tak Mau Bicara selama 4 Hari

Bomber Inter, Romelu Lukaku, menolak pemberian medali perak untuk tim runner-up Liga Europa 2019-2020, karena kekalahan di final sangat menyakitkan.

Penulis: Merdisikandar | Editor: Merdisikandar
twitter @inter
Romelu Lukaku tampil kurang optimal saat melawan Hellas Verona. Ia digantikan Lautaro Martinez di babak kedua, namun skor imbang 2-2 

Bomber Internazionale Milan, Romelu Lukaku, mengungkapkan alasannya menolak pemberian medali perak untuk tim runner-up Liga Europa 2019-2020, bulan Agustus lalu.

Inter gagal menjadi juara Liga Europa musim lalu dan harus mengakui keunggulan Sevilla, 2-3.

Lukaku punya andil dalam proses terciptanya gol penentu kemenangan Sevilla, di Koeln, Jerman.

Upayanya membendung bola yang disepak dengan cara salto oleh Diego Carlos malah membuat bola itu masuk ke gawang dalam Inter, yang dikawal oleh Samir Handanovic.

Meski tidak dihitung sebagai gol bunuh diri, kegagalan Lukaku dalam mengeblok bola membuat Inter kalah 2-3 pada menit ke-74.

Lukaku, yang merasa sangat terpukul dan hanya bisa berjalan gontai seusai duel serta menolak ketika akan dikalungi medali perak.

Katanya, kekalahan di final Liga Europa 2019-2020 itu sangat menyakitkan.

Apalagi, sebelumnya dia sudah mengalami serentetan kegagalan bersama Inter dan tim nasional Belgia.

“Saya tidak bisa, itu terlalu berat bagi saya. Saya selalu mengalami saat-saat ketika saya harus mengatakan tidak. Piala Super, Scudetto kalah satu poin, semifinal Piala Dunia bersama Belgia,” tutur Lukaku, seperti dilansir Gazzetta dello Sport.

Bukan itu saja, Lukaku juga mengaku tidak berbicara selama empat hari setelah final Liga Europa itu.

“Itu semua mengerikan bagi saya. Saya telah mengeluarkan banyak keringat untuk mengejar target tersebut, kemudian saya tidak mendapatkannya. Saya butuh empat atau lima hari untuk melupakannya,“ katanya.

Pada kesempatan itu, Lukaku menilai dirinya memiliki banyak kesamaan dengan pelatih Inter, Antonio Conte.

Pemain berusia 27 tahun itu pun mengaku senang bisa berkarier di Italia.

“Italia cocok dengan gaya hidup saya. Kalau sudah tahu sebelumnya pasti pindah ke sini dulu,” ujar Lukaku.

“Di Inter, kami bermain dengan dua penyerang. Ketika saya bermain di sisi (Conte), dia membuat dirinya didengar, tetapi saya dan pelatih rukun. Kami kurang lebih mirip. Seperti dia, saya juga benci kalah,” imbuhnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved