Breaking News:

Info Balitbang Kemenag

Peran Tokoh Agama dan Ormas Keagamaan Diperlukan Dalam Penanganan Covid-19

Pemerintah pusat dan daerah, perlu lebih optimal memberdayakan tokoh agama dan ormas keagamaan dalam upaya penanganan Covid-19.

Warta Kota/Joko supriyanto
Sejumlah warga tengah mematuhi protokol kesehatan dengan jaga jarak saat mengelar salat Jumat berjamaah di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. Jumat (5/6/2020) 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA — Wabah Covid-19 terus menyebar, korban pun terus bertambah. Upaya penanganan di berbagai lini terus dilakukan, termasuk terkait isu kehidupan keagamaan. Protokol kesehatan dan imbauan keagamaan, seperti ibadat di rumah saja, telah disosialisasikan. 

Meski umumnya sudah patuh, ternyata ada 20,89 persen responden masih berani mengambil resiko terpapar meski kebanyakan mereka (50,48 persen) tahu sedang berada di zona merah pandemi.

Dari survei daring dengan incidental sampling yang diikuti 18.743 responden dari 34 provinsi di Indonesia mencatat, kebanyakan Gen X (43,34 persen) dan Gen Milenial (36,81 persen), yang umumnya (51,92 persen) berpendidikan sarjana dan mendapat info Covid-19 serta kebijakan atau imbauan dari media sosial (56,87 persen). Survei ini dilaksanakan 24-28 April 2020.

Dari survei tersebut, mayoritas responden tahu Covid-19 dan memandangnya bahaya (87 persen). Mereka juga umumnya (59,36 persen) merasa perlu mengikuti protokol kesehatan dan imbauan Pemerintah (termasuk fatwa/imbauan keagamaan), dan siap mematuhinya.

Diperlukan pendekatan dan edukasi kepada segenap kalangan umat, agar upaya pencegahan penyebaran wabah Covid-19 berhasil maksimal.

Hasil survei daring dengan incidental sampling yang diikuti 18.743 responden dari 34 provinsi di Indonesia.
Hasil survei daring dengan incidental sampling yang diikuti 18.743 responden dari 34 provinsi di Indonesia. (Dok. Balitbang Kemenag)

Pemerintah pusat dan daerah, perlu lebih optimal memberdayakan tokoh agama dan ormas keagamaan dalam upaya penanganan Covid-19.

Ormas keagamaan dipandang oleh mayoritas (81,60 persen) respon den lebih efektif menyampaikan pesan dan imbauankepada umat dengan bahasa dan cara mereka.

Tokoh atau pemuka agama dan ormas keagamaan agar lebih mengoptimalkan perannya membimbing umat di saat kondisi pandemi ini.

Kini banyak responden (32,34 persen) mengikuti acara keagamaan secara daring atau online untuk memenuhi kebutuhan rohaninya.

Tokoh agama, guru dan penyuluh agama dapat menyediakan layanan “online conselling” untuk mendampingi dan menjawab kegundahan umat dalam beragama di tengah wabah ini.

Hasil survei daring dengan incidental sampling yang diikuti 18.743 responden dari 34 provinsi di Indonesia.
Hasil survei daring dengan incidental sampling yang diikuti 18.743 responden dari 34 provinsi di Indonesia. (Dok. Balitbang Kemenag)

Umat beragama agar menjaga diri dan keluarga dari ancaman Covid-19, dengan tetap di rumah, dan tetap beribadat di rumah.

Secara otodidak belajar agama baik dari buku maupun pengajian online yang kini mudah ditemukan di ranah maya. Jika ragu dan memerlukan bimbingan, agar tak segan bertanya atau berkonsultasi kepada pemuka atau guru agamanya.

Penanganan wabah Covid-19 merupakan tanggung jawab bersama. Pembatasan ibadat di rumah ibadat bukanlah mengurangi hak beribadat, melainkan satu ikhtiar untuk mengantisipasi terpapar virus corona.  

Salah satu tujuan beragama adalah menjaga jiwa. Maka, menyesuaikan cara atau praktik beragama di masa pandemi demi menjaga jiwa adalah juga penegakan tujuan beragama. Mari, bersama tangani wabah. (*)

Penulis: Mochammad Dipa
Editor: Ichwan Chasani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved