Breaking News:

Kepala Dinas Kesehatan DKI Menyebut Belum Ada Laporan Penularan Covid-19 Lewat Makanan

Droplet yang tidak sengaja keluar ketika berbicara itu dapat menempel ke bagian tubuh lawan bicara.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor: Agus Himawan
The Independent
Ilustrasi bersin 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengaku belum pernah menerima kabar penularan Covid-19 melalui perantara makanan. Kata dia, penularan Covid-19 paling rawan terjadi melalui droplet (percikan pernapasan) ketika berbicara dengan orang lain.

“Sejauh ini tidak ada yang melalui perantara makanan. Tetapi, pada saat berinteraksi sosial antar pengunjung, antar konsumen yang bercerita atau ngobrol sambil makan,” kata Widyastuti saat dikutip dari akun YouTube Pemprov DKI Jakarta pada Jumat (25/9/2020).

Kemendikbud Sudah Salurkan Bantuan Kuota Data Tahap Pertama kepada 9,3 Juta Siswa dan Pendidik

Agama dan Negara Bagai Dua Sisi Mata Uang, Cholil Nafis: Sama-sama Harus Ditegakkan

Menurutnya, droplet yang tidak sengaja keluar ketika berbicara itu dapat menempel ke bagian tubuh lawan bicara. Kemudian, orang yang terkena droplet dari lawan bicara yang terpapar Covid-19 memegangnya.

Tanpa disadari, orang yang terkena droplet tersebut menyentuh bagian tubuh lain yang menjadi celah penularan seperti hidung, mata dan mulut.

“Terkadang orang (pengunjung) dari mana-mana dan belum tentu kita kenal datang di suatu tempat makan tadi. Kemudian dari berbagai tempat, (mereka) datang bersama untuk makan di situ, nah kita nggak tahu seruangan itu juga siapa saja yang potensi positif,” ungkapnya.

Presiden Jokowi Resmikan Jalan Tol Pekanbaru-Dumai

Usung Musik Megah dengan Permainan Piano dan Strings, Nadiya Rawil Lantunkan Satu di Antara Berjuta

Lantaran tidak pernah ada pemeriksaan swab tes memakai alat PCR, mereka yang kemungkinan terpapar Covid-19 tanpa gejala tetap berinteraksi di restoran tersebut. Akhirnya mereka justru menularkan Covid-19 kepada pengunjung lain.

“Jadi pada saat bersamaan, mereka buka masker untuk makan sambil ngobrol. Di situlah terjadi potensi penularan Covid-19,” jelasnya.

“Orang makan kadang-kadang kalau hanya makan cepat-cepat selesai mungkin nggak apa-apa. Tapi begitu makan ada ngobrolnya, di situlah terjadi intraksi antar orang (memicu penularan),” tambahnya.

Risiko

Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyatakan restoran, rumah makan atau kafe dilarang membuka layanan makan di tempat atau dine-in. Dikhawatir layanan dine-in justru memicu penularan Covid-19 melalui droplet, karena saat makan bersama masyarakat cenderung sambil ngobrol dengan kerabatnya.

Widyastuti mengatakan, restoran atau rumah makan tetap diizinkan beroperasi meski dilarang membuka layanan dine-in selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) jilid II. Pengelola restoran bisa memanfaatkan layanan antar jemput makanan melalui kurirnya atau melalui ojek online.

Mantan Ketua MA Hatta Ali Akui Kenal dengan Pengacaranya Djoko Tjandra, Anita Kolopaking

Suara Pemilih Pemula Bertambah Lima Persen, Pilar Saga Ichsan Optimis Menangkan Hati Kalangan Muda

“Pada saat makan masker kan dibuka, nah pada saat dibuka itu terkadang tingkat disiplin (masyarakat masih rendah). Anggaplah restonya sudah menyiapkan kursi dengan berjarak, tetapi masih ada yang berhadap muka,” kata Widyastuti.

“Mejanya satu, lalu berhadapan muka dan buka masker, kemudian satu keluarga makan bersama. Nah, itu yang menyebabkan berisiko penularan pada saat makan bersama dengan membuka masker, dan jarak yang relatif dekat,” tambahnya.

Menurut Widyastuti, masyarakat cenderung tidak mengetahui status kesehatan kerabat, anggota keluarga atau temannya sebelum mereka menjalani tes Covid-19 memakai PCR. Lantaran memiliki hubungan yang dekat, mereka kemudian mengabaikan protokol kesehatan yaitu menjaga jarak.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved