Breaking News:

Berita Jakarta

Penyakit Demensia di Indonesia Meningkat, Dokter dan Masyarakat Diminta Lakukan Deteksi Dini

Pikun sering dianggap sebagai hal normal yang dialami oleh lansia, sehingga seringkali penyakit tersebut tidak terdeteksi.

Penulis: Dodi Hasanuddin | Editor: Dodi Hasanuddin
Wartakotalive.com/Dodi Hasanuddin
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Siti Khalimah, Sp.KJ, MARS 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Demensia adalah suatu sindrom gangguan penurunan fungsi otak yang dapat mempengaruhi fungsi kognitif, emosi, daya ingat, perilaku dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Masyarakat kerap kali menyebut kondisi tersebut sebagai pikun.

Pikun sering dianggap sebagai hal normal yang dialami oleh lansia, sehingga seringkali penyakit tersebut tidak terdeteksi.

Padahal berdasarkan data dari Alzheimer’s Disease International dan WHO, terdapat lebih dari 50 juta orang di dunia mengalami demensia dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahunnya.

Dari banyaknya kasus tersebut, Alzheimer menyumbang 60-70% kasus.

Di Indonesia sendiri, diperkirakan ada sekitar satu juta orang penderita Demensia Alzhemeir di Indonesia pada 2013.

Jumlah itu akan meningkat drastis menjadi dua kali lipat pada 2030, dan menjadi empat kali lipat pada 2050.

Karena itu, deteksi dini dapat membantu penderita demensia dan keluarganya untuk dapat menghadapi dampak penurunan fungsi kognitif dan pengaruh psiko-sosial dari penyakit ini dengan lebih baik.

Penanganan demensia sejak dini juga penting untuk mengurangi percepatan kepikunan.

Menyadari persoalan ini, PT Eisai Indonesia (PTEI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) mengadakan Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia, Minggu (20/9/2020).

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved