Breaking News:

Citizen Journalism

Kuliah Daring Musibah Atau Anugerah

Kemendikbud tetapkan perkuliahan di tahun ajaran baru berjalan secara daring di tengah Pandemi Covid-19. Ini pendapat dari sudut pandang mahasiswa

Editor: Alex Suban
Warta Kota/Henry Lopulalan
Ratusan mahasiswa yang mengatasnamakan Gerakan Mahasiswa Jakarta Bersatu berunjuk rasa di depan Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2020). Gabungan mahasiswa dari berbagai kampus dan organisasi mahasiswa ini meminta pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim untuk memperhatikan nasib mahasiswa. Saat pandemi Covid-19 mahasiswa masih dituntut untuk membayar uang kuliah secara penuh, padahal para mahasiswa belajar tidak menggunakan fasilitas kampus. 

Saat perkuliahan tatap muka, saya juga harus menyiapkan dana untuk mencetak tugas kampus yang dikumpulkan dalam bentuk kertas.

Potensi Para Guru Terpapar Covid-19 Tetap Ada Meski Siswa Belajar Online di Rumah

Murid SDN Kalimulya Kota Depok Ini Rela Tak Jajan Demi Beli Kuota Internet Agar bisa Belajar Online

Biaya transportasi untuk perjalanan pulang ke rumah orang tua di Kabupaten Bogor dan kuota internet yang digunakan untuk menunjang kegiatan perkuliahan.

Perkuliahan tatap muka mengharuskan mahasiswa yang tinggal agak jauh dari kampus untuk menggunakan kendaraan, baik umum maupun pribadi.

Artinya, ada waktu yang terbuang di perjalanan menuju kampus maupun pulang ke rumah, belum lagi berbagai resiko terkait lalu lintas yang tidak dapat diprediksi.

Hal ini tentu meningkatkan resiko bagi mahasiswa untuk kehilangan absensi hanya karena terjebak kemacetan, belum lagi jika harus menepi akibat hujan deras, atau berbagai alasan lainnya.

Dengan perkuliahan daring, satu-satunya hal yang dapat membuat kita terlambat mengikuti kelas adalah kedisiplinan kita sendiri terhadap waktu.

Di luar kegiatan kampus, saya juga merasakan manfaat lain yaitu lebih dekat dengan keluarga dan dapat memulai bisnis kecil-kecilan secara lebih efektif karena waktu yang tersedia semakin banyak.

Pemkot Tangerang Pasang WiFi Gratis untuk Belajar Online Bagi Anak Tak Mampu di Tangerang

Ngakunya Belajar Online, Sejumlah Pelajar di Jakarta Barat Terlibat Live Show Pornografi Berbayar

Sebagai contoh, kini saya dan keluarga selalu beribadah bersama, selalu makan bersama, dan menghabiskan waktu bersama.

Seiring datangnya Pandemi Covid-19, saya juga menjalani ujian tengah semester dan ujian akhir semester secara daring, yaitu dengan tugas esai untuk menguji pemahaman mahasiswa terhadap materi perkuliahan.

Ujian dengan menggunakan esai ini justru menurut saya lebih efektif ketimbang ujian di dalam ruangan dan menjawab pertanyaan.

Saat menulis esai, mahasiswa dituntut untuk menguasai materi kuliah dan topik yang dibahas dalam esai tersebut.

Saat mengerjakan ujian tertulis, biasanya mahasiswa akan dihadapkan dengan berbagai pertanyaan yang textbook, pertanyaan yang jawabannya berupa hafalan.

Menurut saya pribadi, sistem jawaban yang berupa hafalan tidaklah efektif karena tidak mendorong mahasiswa untuk berpikir secara luas dan mempersulit mahasiswa yang kesulitan menghafal padahal memiliki pengetahuan yang luas dan mampu untuk mengerjakan soal-soal yang menggunakan logika.

Saat ini, kita memang melakukan kuliah daring karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk kuliah tatap muka di kampus seperti dalam kondisi normal.

Namun, kuliah daring juga dapat dipertimbangkan untuk dilanjutkan setelah pandemi ini selesai.

Banyak Anak Sekolah Sulit Dapat Akses Internet Untuk Belajar Online, Eko Patrio Pasang Wifi Gratis

Bantu Siswa Belajar Online, Eko Patrio Pasang 50 Titik Wi-Fi Gratis di Jakarta

Kuliah daring tentu memiliki kekurangan.

Menurut saya, kekurangan utama dalam perkuliahan daring di tahun 2020 ini adalah kurangnya persiapan.

Kita terbiasa melakukan kegiatan perkuliahan secara langsung di kampus, sehingga kita pun tidak terbiasa dan membutuhkan adaptasi yang sangat cepat agar dapat kembali belajar.

Hal ini membuat perkuliahan daring menjadi kurang efektif.

Selain secara sistem, kita juga tentu memiliki kendala masing-masing dalam kuliah daring, terutama saat menggunakan konferensi video.

Saya sempat mengalami gangguan sinyal saat sedang menyimak penjelasan materi.

Saat saya melakukan presentasi, juga sempat terganggu, bukan masalah sinyal, namun harus membuka pintu rumah karena ada petugas ekspedisi yang mengantarkan paket.

Tak hanya masalah di atas, matinya aliran listrik dan hujan deras yang mengganggu transmisi sinyal juga menjadi salah satu kendala.

Sri Mulyani Akui Belajar Online Jadi Kendala Siswa Tak Mampu, Ia Janjikan Beri Bantuan HP dan Pulsa

VIDEO: Pemkot Bekasi Tegaskan Simulasi Belajar Tatap Muka Bukan Pengganti Belajar Online

Lalu bagaimana Solusinya?

Setiap kendala tentu ada solusinya.

Menurut saya, jika di rumah menggunakan komputer, saat terjadi mati listrik, salah satu solusinya adalah menggunakan ponsel untuk melakukan konferensi video, dan bila baterai ponsel tersebut melemah, salah satu solusinya adalah menggunakan power bank untuk mengisi daya.

Jika sinyal mendadak hilang, salah satu solusinya adalah menggunakan tethering dari ponsel orang lain yang berada di tempat atau mencari tempat di rumah yang memiliki jaringan lebih kuat atau stabil.

Kendala yang saya pribadi belum temukan solusinya adalah saat hujan deras yang mengganggu sinyal karena kondisi tersebut tentu sangat bergantung pada alam.

Hal lain yang dianggap menjadi kendala adalah masalah biaya.

Bagi saya, hal ini tentu bersifat sangat subjektif, baik dari sisi mahasiswa atau pun sisi kampus.

Pembelajaran secara daring berarti berkurangnya penggunaan listrik dan air di kampus.

Hal ini dapat dialokasikan oleh kampus membayar paket lengkap layanan konferensi video dan memberikan bantuan kuota kepada mahasiswa yang dianggap membutuhkan bantuan ekonomi.

Mari berhitung kembali.

Pemkot Bekasi Tegaskan Simulasi Belajar Tatap Muka Bukan Pengganti Belajar Online

VIDEO: Tak Punya Kuota Internet, Belasan Siswa Belajar Online di Aula Kantor Kelurahan Jatirahayu

Seperti yang tadi sudah saya jabarkan pada paragraf sebelumnya, estimasi biaya yang saya keluarkan adalah sebesar Rp73.894 untuk biaya parkir dan bensin selama satu bulan.

Perhitungan ini akan saya bandingkan dengan estimasi biaya untuk melakukan video conference.

Salah satu aplikasi yang paling banyak digunakan untuk melakukan konferensi video selama pandemi adalah aplikasi Zoom.

Dilansir dari cnnindonesia.com, aplikasi Zoom mengonsumsi data sebanyak 45,1 MB per lima menit dengan catatan video dan audio dinyalakan.

Artinya, untuk 60 menit video conference dengan video dan audio dinyalakan, kita akan mengonsumsi data sebesar 541,2 MB.

Jika seorang mahasiswa belajar melalui Zoom selama 22 jam per minggu, maka mahasiswa tersebut membutuhkan 11,9 GB data perminggunya.

Belajar Online Terkendala Alat, Yuk Bantu Donasikan Ponsel Bekas untuk Para Pelajar

VIDEO: Murid di Danau Toba Menumpang HP Tetangga untuk Belajar Online, 3 Anak Gantian 1 Ponsel

Salah satu provider yang memberikan layanan kuota khusus untuk konferensi video adalah XL.

Perusahaan ini memasang harga Rp12.000 untuk paket data video conference sebesar 15 GB per 7 hari.

Berarti, mahasiswa tersebut hanya membutuhkan Rp48.000 per bulan agar dapat melaksanakan kegiatan perkuliahan.

Perlu diperhatikan juga bahwa angka tersebut masih dapat diperkecil jika audio dan video dimatikan untuk sementara waktu saat sedang tidak dibutuhkan.

Biaya tersebut tentu tidak akan ditambah dengan akomodasi pulang ke rumah keluarga dan membayar jasa cetak karena perkuliahan dilaksanakan dari rumah dan tidak mungkin tugas esai dikumpulkan secara langsung dalam bentuk kertas.

Berarti, biaya yang dibutuhkan untuk kuota internet kuliah daring lebih kecil 35% ketimbang biaya yang dibutuhkan untuk membayar parkir harian dan mengisi bensin untuk satu bulan.

VIDEO: Banyak Pelajar di Kota Tangerang Tak Punya Ponsel Jadi Kendala Belajar Online

Demi Anak Belajar Online, Warga Tangerang Ini Berutang untuk Beli Pulsa, Handphone Pinjam

Tidak hanya lebih hemat biaya, perkuliahan daring juga lebih hemat waktu.

Jika jarak tempuh dari rumah kos ke kampus adalah 10 menit, maka kita akan menghabiskan 20 menit dalam satu hari untuk berada di perjalanan menuju kampus dan pulang, belum termasuk jika terjebak lampu merah atau macet.

Waktu 20 menit yang terbuang sia-sia itu dapat kita maksimalkan untuk kegiatan lainnya di rumah, seperti mengerjakan tugas kuliah dan membantu keluarga di rumah.

Tidak hanya itu, kuliah di rumah berarti kita membutuhkan waktu yang lebih sedikit untuk bersiap-siap sebelum kelas.

Sejauh ini, perkuliahan daring juga terbatas untuk materi yang berupa teori saja karena belum tentu semua mahasiswa memiliki alat yang diperlukan atau memiliki standar yang sama dengan yang dimiliki oleh kampus jika melakukan praktik.

Perkuliahan daring ini juga tentu memberikan pengalaman baru bagi banyak orang, dan tidak semua orang dapat menerima perubahan mendadak ini.

Tidak sedikit mahasiswa yang merasa kesulitan, atau setidaknya, merasa lebih jelas jika melakukan pembelajaran secara tatap muka di kelas.

Hadapi Penerapan Belajar Online, Pemulung Kota Tangerang: Jangankan Hape, Beli Beras Saja Susah

Kisah Orangtua Terhimpit Program Belajar Online, Duit Belanja Tekor Buat Beli Kuota Internet

Hal ini juga terkait dengan kebiasaan kita yang sedari kecil belajar secara tatap muka di sekolah.

Hal ini tentu membentuk pola pikir dan kebiasaan yang sudah mendarah daging, yaitu belajar tatap muka secara langsung.

Tidak hanya sekolah, kegiatan les, baik privat maupun komunitas, mayoritas menggunakan metode tatap muka.

Namun tidak biasa bukan berarti tidak bisa.

Dengan pembiasaan dan pengalaman, secara perlahan kita dan dosen dapat lebih menerima dan melakukan pembelajaran secara daring dengan lebih efektif.

Salah satu bukti pembelajaran daring dapat diterapkan secara efektif adalah dengan adanya RuangGuru.

RuangGuru adalah bimbel daring di Indonesia yang sudah hadir sejak tahun 2014.

Seiring berjalannya waktu, RuangGuru kini memiliki 15 juta pengguna dan 300.000 guru yang menawarkan lebih dari 100 mata pelajaran.

Aplikasi ini membuktikan pada kita bahwa pembelajaran secara daring dapat berlangsung efektif dengan adanya persiapan yang matang dan waktu untuk berkembang.

Hal ini menurut saya hal yang pemerintah dan penggerak pendidikan tidak dapatkan dalam situasi pandemi ini.

Cara Pakai Aplikasi Google Classroom untuk Memudahkan Kegiatan Belajar Online dengan Sekolah

VIDEO: Tahun Ajaran Baru, Begini Penuturan Siswa SMP yang Belajar Online

Tidak dapat dipungkiri kalau pembelajaran secara daring adalah salah satu new normal, sebuah kebiasaan baru, yang kita dapatkan di tengah pandemi.

Sebaiknya sistem pembelajaran ini tidak perlu berhenti saat pandemi usai karena inovasi tentu akan selalu bermunculan untuk menyambut masa depan.

Saat pandemi sudah selesai, mungkin mahasiswa justru dapat berkumpul bersama di suatu tempat untuk melakukan pembelajaran secara daring.

Selain menyenangkan, hal tersebut tentu akan menekan pengeluaran juga.

Memang, belum semua institusi dapat melakukan pembelajaran daring secara optimal.

Namun, tentu semua juga akan menyadari betapa pentingnya pendidikan dan menjaga pendidikan yang optimal tetap berlangsung meskipun tidak secara tatap muka.

Bahkan, mungkin di kemudian hari berbagai perkuliahan akan membagi dua kelas, yaitu kelas daring dan kelas tatap muka di kelas.

Perlu diingat bahwa sejauh ini, hanya pembelajaran teori saja yang dapat berlangsung secara optimal dengan metode pembelajaran daring.

Kini, mari kita berinovasi, beradaptasi, dan mempertanyakan kembali, apakah kuliah online adalah musibah atau anugerah?.

Semoga tulisan ini dapat menjadi pencerahan dan masukan untuk menjadikan Indonesia semakin maju di bidang pendidikan.

Tuhan memberkati!

Penulis : Cornelis Jonathan Sopamena, Mahasiswa S-1 Program Studi Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved