Berita Internasional
Neelakantha Bhanu Prakash, Kalkulator Manusia Tercepat di Dunia
otak Bhanu memproses hitungan rata-rata 12 detik, yang lebih cepat 10 kali dibandingkan otak orang biasa
Wartakotalive, Jakarta - Berapa hasil dari 869.463.853 kali 73? Cobalah Anda hitung tanpa menggunakan kalkulator, dan hitung pula berapa menit Anda menjawabnya dengan benar.
Neelakantha Bhanu Prakash (20) menjawab dengan benar pengalian itu hanya dalam waktu 26 detik, tanpa menggunakan kalkulator: 63.470.861.269.
Pemuda India itu dikenal sebagai "kalkulator manusia tercepat di dunia".
Menurut Limca Book of Records - semacam Guinness World Records versi India - otak Bhanu memproses hitungan rata-rata 12 detik, yang lebih cepat 10 kali dibandingkan otak orang biasa.
Bhanu mengaku mampu mengolah penghitungan yang rumit dengan kecepatan kilat karena melatih otaknya melakukan penghitungan secara terstruktur.
"Memang ada proses tertentu, tapi pasti jika Anda melatih otak Anda, pasti bisa," kata pemuda yang ditinggal di Hyderabad, kota di bagian selatan India.
Pada 15 Agustus lalu, Bhanu meraih medai emas dalam lomba hitung Mental Calculation World Championship yang diselenggarakan Mind Sports Olympiad (MSO) di London, Inggris.
Ia menjadi orang Asia pertama, dan orang pertama bukan dari Eropa, yang mampu meraih juara dalam lomba tahunan yang sudah digelar selama 23 tahun itu.
Ia mengalahkan 29 pesaing dari 13 negara.
Kecepatan dia menjawab membuat para juri terheran-heran, sampai mereka menambah soal yang harus dijawab Bhanu, untuk memastikan kehebatan dia.
Apakah kemampuan otak Bhanu merupakan "karunia" atau "kharomah"?
Ia tak sependapat. "Kata 'karunia' membuat saya risau karena seolah bisa berbuat sesuatu tanpa ada upaya dan pengalaman," ujar Bhanu.
Pemuda itu mengaku mempunyai kemampuan otak dahsyat bukan melalui proses yang ringan.
Pada tahun 2005, saat berumur 5 tahun, ia jatuh dari boncengan skuter pamannya karena skuter ditabrak truk.
Bhanu terpental, dan kepalanya membentur aspal jalan. Dinding kepalanya pecah, di bagian dahi.
Ia harus mendapat 85 jahitan, dan beberapa kali operasi kepala.
Dokter harus membuat dia dalam kondisi koma selama tujuh hari untuk menstabilkan kondisi otaknya.
Setelah Bhanu dibangunkan dari koma, dokter bilang kepada orangtua Bhanu bahwa anak ini mengalami kerusakan otak sepanjang hayatnya karena cedera kepala.
Ia juga harus menjalani istirahat total di tempat tidur selama setahun.
"Kecelakaan itu mengubah saya dalam memahami kesenangan, dan itulah mengapa saya bisa begini," tutur Bhanu yang dikutip cnn.com, beberapa hari lalu.
Selama menjalani istirahat total itulah, Bhanu berlatih main catur dan puzzle supaya otaknya terus aktif, yang berlanjut dengan latihan matematika.
"Aku ingat betul rasa sakit yang aku derita. Itu merupakan peristiwa paling traumatis yang pernah aku alami," tutur Bhanu.
"Aku tidak bisa sekolah selama setahun. Jadi yang aku bisa lakukan adalah latihan berhitung terus menerus."
Selain kesakitan, Bhanu juga merasa minder dengan kondisi dahinya yang terdapat bekas jahitan operasi.
Orangtuanya sampai harus menyikirkan semua cermin di rumah selama sekitar setahun supaya Bhanu tidak bisa melihat wajahnya sendiri.
Dua tahun kemudian, setelah ia sudah boleh beraktivitas, Bhanu meraih juara ketiga lomba aritmatika tingkat negara bagian Andhra Pradesh.
Prestasi itu membuat ayahnya menangis terharu.
"Bukan karena medali itu, tapi keberadaan saya di lomba itu yang membuat ayah saya merasa bangkit kembali," kenang Bhanu.
Lomba demi lomba yang meningkat levelnya ia ikuti, dan selalu menang.
Tahun 2011 ia mampu menjadi juara lomba aritmatika tingkat nasional India.
Sejak umur 13 tahun ia menjadi wakil India untuk setiap kejuaraan dunia matematika.
Ia memecahkan empat rekor dunia untuk kategori manusia tercepat dalam hitungan, tercepat dalam pengalian, pengurangan, dan matematika.
Banyak rekor nasional yang juga ia pecahkan, sampai ia disepadankan dengan ilmuwan matematika India yang legendaris, Shakuntala Devi.
Bhanu kini bergerak dalam kegiatan sosial dan edukasi untuk mengampanyekan "matematika itu mudah".
Melalui lembaga MSO yang digerakkannya, Bhanu ingin menghapus "fobia matematika" pada anak-anak.
"Bagi setiap negera yang ingin maju dan bersaing secara global, melek hitungan (pada rakyatnya) sama pentingnya dengan melek baca," kata Bhanu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/neelakantha-bhanu-prakash.jpg)