Film

Bioskop di Indonesia Belum Dibuka Akibat Covid-19, Firman Bintang: Banyak Cara Untuk Jualan (Film)

Pemilik bioskop punya kecenderungan bekerja sesuai seleranya sendiri yang berseberangan dengan selera pembuat dan pemilik film atau produser.

Warta Kota/Nur Ichsan
Firman Bintang dan Christine Hakim disela memilih film 'Kucumbu Tubuh Indahku' sebagai wakil Indonesia di Oscar 2020 di Plaza Senayan, Jalan Asia Afrika, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (17/9/2019). Firman Bintang mengatakan, pagebluk Covid-19 tidak hanya membuat iklim dan ekosistem industri, terutama industri film Indonesia, terpapar tetapi juga terkapar. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Seberapa besar dampak Covid-19 terhadap ekosistem industri perfilman Indonesia? 

Pertanyaan tersebut coba dijawab Firman Bintang, Ketua Dewan Pertimbangan Persatuan Perusahaan Film Indonesia.

Menurut Firman Bintang, meski pertanyaannya terkesan sederhana, jawabannya tidak mudah karena dampak pagebluk ini luar biasa, sangat besar dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Covid-19 Belum Berakhir, Firman Bintang: Industri Film Tidak Hanya Terpapar Tapi Juga Terkapar

Setelah 16 Hari Diunggah di Kanal YouTube Ravacana Films, Film Tilik Telah Ditonton 20 Juta Views

"Dampaknya bukan hanya bagi pelaku Industri film saja, tapi seluruh pelaku Industri di Indonesia, juga dunia," kata Firman Bintang berbincang, Rabu (2/9/2020) sore.

Firman Bintang berbicara di Webinar 'Saatnya Bangkit Kembali' yang digelar Direktorat Perfilman Musik dan Media Baru Kemendikbud RI bersama Komunitas Pewarta Hiburan Indonesia (KoPHI).

Pagebluk Covid-19 ini, lanjut Firman Bintang, "Tidak hanya membuat iklim dan ekosistem industri, terutama industri film Indonesia, terpapar, tetapi juga terkapar."

Firman Bintang (tengah), Ketua Dewan Pertimbangan Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI), dan promotor musik Harry Koko Santoso (kanan) disela Webinar Saatnya Bangkit Kembali garapan Direktorat Perfilman Musik dan Media Baru (PMBB) Kemendikbud RI dan Komunitas Pewarta Hiburan Indonesia (KoPHI), Rabu (2/9/2020).
Firman Bintang (tengah), Ketua Dewan Pertimbangan Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI), dan promotor musik Harry Koko Santoso (kanan) disela Webinar Saatnya Bangkit Kembali garapan Direktorat Perfilman Musik dan Media Baru (PMBB) Kemendikbud RI dan Komunitas Pewarta Hiburan Indonesia (KoPHI), Rabu (2/9/2020). (Warta Kota/Heribertus Irwan Wahyu Kintoko)

Jauh sebelum Covid-19 datang, industri film Indonesia seperti terdampak pandemi karena beberapa alasan, seperti sistem tata edar perfilman nasional yang masih jadi persoalan laten.

Industri film negeri ini bahkan belum selesai dengan urusan pajak tontonan hingga persoalan strategi kebudayaan yang belum menempatkan film pada tempat yang seharusnya.

Firman Bintang menyatakan, terkait tata edar film misalnya, sebagai produser film, persoalan laten ini menjadi batu sandungan terbesar yang sepertinya sulit diselesaikan dalam waktu dekat.

Biaya Produksi Satria Dewa Gatotkaca Diperkirakan Rp 5 Miliar, Produser: Film Ini Kebanggaan Bangsa

Falcon Pictures Gelar Falcon Script Hunt, 7 Naskah Terbaik Dibuatkan Film Oleh 7 Sutradara Terbaik

"Pemilik bioskop punya kecenderungan bekerja sesuai seleranya sendiri yang berseberangan dengan selera pembuat dan pemilik film atau produser," kata Firman Bintang.

Biasanya, lanjut Firman Bintang, pemilik film akan kalah jika berhadapan dengan pemilik bioskop.

Akibatnya, filmnya mendapatkan pembagian layar yang tidak adil, bahkan tidak dapat ditayangkan di bioskop.

Ketua Persatuan Produser Film Indonesia Firman Bintang menyerahkan hasil penilaian juri Komite Oscar 2019 yang memilih film Kucumbu Tubuh Indahku sebagai wakil Indonesia di Oscar 2020 di Plaza Senayan, Jalan Asia Afrika, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (17/9/2019).
Ketua Persatuan Produser Film Indonesia Firman Bintang menyerahkan hasil penilaian juri Komite Oscar 2019 yang memilih film Kucumbu Tubuh Indahku sebagai wakil Indonesia di Oscar 2020 di Plaza Senayan, Jalan Asia Afrika, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (17/9/2019). (Dokumentasi Komite Oscar 2019)

Meski ada undang-undang yang memberi jaminan, jika film telah mendapatkan Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) dari Lembaga Sensor Film (LSF), sebuah film berhak ditayangkan di bioskop.

"Pertanyaannya, apakah praktiknya semudah itu? Anda bisa menjawab sendiri," ucapnya.

Saat ini, ketika bioskop 'ditutup' atas nama menegakkan protokol kesehatan. Cobaan produser film, juga pemilik bioskop, semakin besar.

Digarap Falcon Pictures, Film Rentang Kisah Dijadwalkan Diputar di Disney+ Hotstar 11 September 2020

Perankan Marni di Film Keluarga Slamet, Mengapa Desy Ratnasari Terpingkal-pingkal di Lokasi Syuting?

"Kita harus bergandengan bersama dan saling membangkitkan di kondisi yang sangat tidak mudah ini. Jangan sampai kehilangan semangat sekaligus kreatifitas," kata Firman Bintang.

Meski sekarang sedang tidak ada bioskop, nonton film bisa dilakukan lewat media baru, mulai streaming hingga televisi langganan berbayar, serta OTT (over the top).

"Banyak cara untuk jualan (film). Paling utama, kreator film semakin meningkatkan kualitas kreatifitas agar karya dapat bersaing di tengah pandemi," kata Firman Bintang.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved