Breaking News:

HUT Kemerdekaan RI

Terungkap Sosok Pria di Belakang Soekarno, Saat Detik-detik Proklamasi Sempat Disemprot Bung Karno

Ada kisah menarik detik-detik proklamasi Kemerdekaan RI, yakni sosok pria di belakang Soekarno saat membacakan teks proklamasi Kemerdekaan RI.

IPPHOS
Mikrofon yang digunakan Presiden Soekarno saat membacakan teks proklamasi kin tak jelas keberadaannya. Padahal mikrofon itu sangat bersejarah. 

Terbukti, dimulai sejak Sekolah Dasar Bumi Putera di Desa Jakenan hingga pindah ke HIS Kudus, lalu ELS (Europesche Lager School) Pati.

Tak banyak anak seumuran Moewardi kala itu, untuk menempuh pendidikan hingga jenjang tinggi, dikarenakan di setiap jenjang pendidikan harus melewati ujian bahasa Belanda, yang mana setiap anak belum tentu bisa menempuhnya.

Di ujung pendidikannya, Moewardi mampu melanjutkan belajar hingga STOVIA, sebuah sekolah kedokteran yang kini berubah menjadi Universitas Indonesia.

Dalam proses memasuki STOVIA, sebagai anak pribumi, perlu ada surat rekomendasi agar memudahkan Moewardi dalam proses pendaftaran.

Ayahnya, Sastrowardojo meminta dokter Umar dari Cilacap (salah satu paman dari Moewardi) agar memberikan rekomendasi masuk ke STOVIA.

Berbeda dari kawan sebayanya yang kebanyakan masuk ke STOVIA, Moewardi mampu meraih beasiswa karena prestasinya yang telah dibangun sejak sekolah dasar.

Masa belajar Moewardi yang beranekaragam juga didukung dengan latar belakang orang tuanya yang merupakan mantri guru, jabatan bergengsi kala itu.

Aktivitas Moewardi yang beraneka ragam membuatnya harus menempuh masa studi sekitar 12 tahun, dan baru bisa mendapat ijazah dokternya.

Banteng Witjaksono, anak Moewardi, mengatakan, bahwa sang ayah sudah memulai aktifitas sosialnya sejak mahasiswa.

Moewardi sudah mulai dikenal oleh berbagai kalangan masyarakat meskipun gelar dokter belum disandang olehnya.

Maka tak heran Moewardi kecil sering dijuluki dengan anak Guru dari Jakenan, karena besarnya wibawa dari nama kedua orang tuanya.

Moewardi : Si Anak Pandu

Moewardi kecil dengan segala keberuntungan yang dia terima dalam bidang pendidikan, tidak membuatnya sombong di hadapan kawan-kawannya.

Bahkan, meskipun ia menyandang status ningrat.

Hal ini terlihat dari aktivitasnya.

Moewardi aktif di bidang kepanduan yang telah dirintis sejak di jenjang kelas lima ELS di Kota Pati.

Di kelas lima tersebut, dirinya memulai sebagai anggota kepanduan SPOORZOEKER (pencari jejak).

Di antara kisah kepanduan yang dialami oleh Moewardi ada hal pelik yang harus dialaminya yaitu ketika saat akan diangkat sebagai Troep Leider, Moewardi memilih untuk menolak dan keluar.

Saat itu Moewardi masih menjadi anggota aktif dari Nederlandsch Indische Padvinders Vereeniging (NIPV) dan mencapai jenjang Assistant Troep Leider, wakil pimpinan pasukan yang sangat jarang dicapai oleh anak anak bumiputera.

Meskipun di organisasi kepanduan Belanda dia gagal, namun karir kepanduannya di nasional atau pemuda Hindia Belanda terus berlanjut hingga mencapai tingka Jong Java Padvinderij yang kemudian berubah menjadi Pandu Kebangsaan (PK) dan berubah kembali menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI).

Tidak hanya sekedar duduk menjadi anggota, pada ketiga organisasi tersebut Moewardi selalu dipercaya sebagai Komisaris Besar ataupun pemimpin tertinggi.

Menurut Wakil Ketua Kwartir Nasional Bidang Kehumasan dan Informatika, Berthold D H Sinaulan bahwa jabatan yang diemban Moewardi sudah setara dengan ketua kwartir nasional apabila dibandingkan pada saat ini.

Maka tidak heran kiprahnya sebagai anggota pandu membuatnya diajukan untuk menjadi Bapak Pandu Indonesia, mendampingi Sri Sultan Hamangkubuwono IX yang menjadi Bapak Pramuka Indonesia.

Dokter “Gembel” Yang Membantu Proklamasi

Moewardi, si anak mantri guru dari Jakenan, berhasil menamatkan pendidikannya di STOVIA, sekolah kedoteran yang kini menjadi Universitas Indonesia.

Walaupun terlahir sebagai anak ningrat, disiplin, kedermawanan serta kesederhanaan tetap melekat pada sosok Moewardi.

Hal ini terlihat ketika tanggal 2 Desember 1934, setahun pasca lulus dari STOVIA, dirinya menggelar tasyakuran "kenduri modern".

Tidak hanya sekedar berbagi makanan namun juga berbagi jasa dengan membuka praktek pengobatan gratis dari pukul 06.00 hingga 24.00.

Dilansir website Universitas Indonesia (ui.ac.id), pendidikan kedokteran Moerwadi tidak hanya berhenti pada STOVIA saja, namun terus berlanjut hingga melanjutkan sekolah ke Geneeskuundige Hogeschool (GH) untuk mendapat gelar dokter atau Indische Arts.

Di GH tersebut, di tahun 1939, Moewardi mengambil gelar dokter spesialis THK (Telinga, Hidung, Kerongkongan).

Kedermawanannya sebagai dokter terbukti dengan julukan yang melekat pada dirinya yaitu 'dokter gembel'.

Ternyata julukan itu bukan karena rupa Moewardi yang bak gembel, tapi karena kedekatannya dengan masyarakat akar rumput yang masih minim akses terhadap kesehatan.

Selain itu, dia tidak mau menetapkan tarif, tak juga sepeser pun.

Kiprah Moewardi tidak berhenti di kedokteran dan kepanduan saja, ia juga aktif dalam usaha melawan penjajahan di Indonesia.

Ketika Jepang datang menggantikan Belanda untuk menjajah Indonesia, Ia menjadi Syuurengotaico.

Ini adalah jabatan yang bertugas memimpin Barisan Pelopor Kota Istimewa Jakarta atau Jakarta Tokubetsu Shi.

Barisan Pelopor sebenarnya bentukan Jepang, namun oleh para pemuda digunakan sebagai gerakan memerdekakan Indonesia.

Selama di Barisan Pelopor, Moewardi sempat menjadi buronan tentara Jepang karena perlawanan yang dilakukan.

Bersama para pemuda lainnya Moewardi pun tak ingin ketinggalam untuk berjuang dalam meraih kemerdekaan, bahkan dirinya rela melepas profesi dokter untuk fokus ke dalam perjuangan.

Bersamanya ada Chudanco Latif Hendraningrat, salah seorang pemimpin PETA, yang ikut mengawal proses proklamasi dari penulisan naskah hingga menuju pembacaan.

Akhir Kisah Sang “Dokter Gembel”, Menghilang Ketika Operasi

Karena kesibukan di dalam awal mendirikan Republik Indonesia, Moewardi sempat melepas status sementara sebagai dokter.

Akhirnya, setelah pemindahan ibukota dari Jogjakarta ke Jakarta, peran Moewardi di pemerintahan berkurang, hingga ia pilih menetap di Solo.

Di Solo, Moewardi kembali menjalankan profesi kedokterannya yang sempat ditanggalkan.

Praktik dengan segalam macam pasien juga dia layani hingga tiba pada 13 September 1948.

Ketika itu Mayor Hendroprijoko mencegah Moewardi untuk berpraktek mengingat kondisi negara sedang gawat.

Diceritakan dalam buku 'PKI Bergerak', karya Harry A. Poeze, Moewardi yang masih menjabat sebagai pimpinan Barisan Banteng mengabarkan sebuah dokumen kepada Sukarno dan Hatta.

Isinya, mengenai kemungkinan terjadinya pemberontakan yang dilakukan oleh Pesindo yang berhaluan komunis.

Alih-alih nurut perintah Mayor Hendroprijoko, Moewardi tetap kukuh menjalankan operasi sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Ia berkata : "Saya pemimpin dan saya juga dokter yang terikat dengan sumpah dokter. Percayalah saya tidak akan dibunuh oleh bangsa sendiri, yang mau membunuh saya hanyalah Belanda. Pasien saya harus segera dioperasi,"

Maka setelah menyampaikan pesan di hadapan anak buahnya, Moewardi tetap berangkat dengan menggunakan andong ke rumah sakit.

Tak lama kemudian, pada pukul 11.00, terdengar keriuhan dari letusan senjata api.

Moewardi diculik dan kantor polisi di dekat rumah sakit habis diserbu.

Harry A Poezoe menggambarkan proses penculikan itu sebagai hal yang unik.

Penyebabnya, para penculik sempat membiarkan Moewardi untuk menyelesaikan proses operasi yang dilakukan terhadap pasiennya, sebelum dibawa hilang entah kemana.

Setelah itu terdengar kabar bahwa seluruh korban penculikan termasuk diantarnya Moewardi habis dibunuh.

Pencarian pun dilaksanakan dengan berbagai upaya.

Gubernur Militer Solo-Madiun yang dijabat Kolonel Gatot Subroto juga ikut memberikan perhatian serius.

Tapi, hingga kini, keberadaan Moewardi masih misterius.

Bila meninggal pun, tak ada yang tahu di mana dia dimakamkan. 

Moewardi hilang meninggalkan tujuh orang anak.

Dua anak dari Suprapti, istri pertama, yaitu Sri Sejati dan Adi.

Kemudian lima anak lain dari istri keduanya, Susilowati.

Yaitu Ataswarin Kamarijah, Kusumarita, Cipto Juwono, Banteng Witjaksono dan Happy Anandarin Wahyuningsih.

Salah seorang anak Moewardi, Banteng Witjaksono, menceritakan mengenai kehilangan ayah yang membuat ibu mereka menjadi orang tua tunggal dan harus menghidupi seluruh anak mereka.

Dikisahkan dari cicit Moewardi, Lichte Christian Purbono, pencarian Moewardi terus dilakukan hingga puluhan tahun lamanya.

Karena tak tahu di mana keberadaannya, para keluarga hanya bisa melakukan kegiatan tabur bunga di patung Moewardi yang berada di Rumah Sakit Moewardi, Solo.

Kegiatan ini rutin dilakukan oleh keluarga hingga kini, meski, tak ada satu pun anak cucu Moewardi yang tinggal di Solo.

Untuk mengenang sosoknya dan menghargai jasanya secara resmi Moewardi dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui SK Presiden RI No. 190 tahun 1964.

Selain diberi gelar pahlawan, nama Moewardi juga disematkan sebagai nama rumah sakit yang di putuskan melalui surat keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Tengah tanggal 24 Oktober 1988.

Pergantian nama pun dilakukan bertepatan pada hari pahlawan 10 November 1988 dari semula RSUD Kelas B Provinsi Dati I menjadi RSUD Dr Moewardi Surakarta. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunsolo.com dengan judul "Di Balik Foto Proklamasi : Pria itu Baru Saja Disemprot Bung Karno, "Kalau Tak Mau, Baca Sendiri!""

Editor: Panji Baskhara
Sumber: Tribun Solo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved