Breaking News:

Pertanian

Miliki 50 Ribu Hektar Sawah dan Panen 780 Ribu Ton Gabah/Tahun, Ngawi Jadi Penyangga Produksi Pangan

Petani juga menjadi aktor yang paling banyak dan rentan menghadapi risiko gagal berproduksi akibat bencana, dan berbagai faktor alam serta iklim.

Warta Kota/Junianto Hamonangan
Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Budhi Herdi Susianto turun ke sawah membantu para petani terdampak pandemi Covid-19 di RW 06 Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (17/6/2/2020). Eko Budhi dari Jaringan Kerja Petani Organik (Jaker PO) menyatakan, petani tetap belum menjadi aktor yang menikmati hasil yang paling menguntungkan dalam rantai produksi pangan. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Petani sebagai produsen pangan adalah aktor penting dan paling banyak mencurahkan waktu untuk memastikan berjalannya 'mesin' produksi pangan nasional.

Petani juga menjadi aktor yang paling banyak dan rentan menghadapi risiko gagal berproduksi akibat bencana, dan berbagai faktor alam serta iklim dan lainnya.

"Ironinya, petani juga menjadi aktor yang mendapat keuntungan paling kecil dibanding aktor lain dari keseluruhan proses produksi pangan," kata Hariadi Propantoko, Kamis (13/8/2020) malam.

Bangkit dari Keterpurukan, Korban PHK di Kota Tangerang Jalani Aktivitas Sebagai Petani Tandur

Petani Baznas Raih Sertifikat Organik Pengelolaan Lahan Pertanian

Hariadi Propantoko adalah peneliti Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP).

Ia mengatakan hal tersebut dalam diskusi virtual #ObrolinPangan15 bertajuk 'Geliat Petani Dalam Peningkatan Akses Pasar'.

Petani kerap menerima harga yang tidak sepadan dengan usahanya.

Petani Tomat Buang Hasil Panen ke Jalanan, Mengaku Kecewa Harga Tomat Rp 300 Per Kilogram

Ganjar Terpukau Inovasi Petani Muda Tanam Melon Tanpa Pestisida

Dalam konteks produksi padi, kajian KRKP periode Februari-Mei 2018 menunjukkan, harga gabah petani saat panen raya jauh dari harga pembelian pemerintah (HPP), yaitu sebesar Rp 3.700/kilogram.

Harga yang diterima petani ketika anjlok hanya sebesar Rp 3.000/kilogram. Fenomena ini kemudian terulang kembali pada periode yang sama di tahun 2020.

Menurut Hariadi Propantoko, selain penyerapan rendah di pemerintah, ada distribusi yang terganggu karena pertokoan hingga rumah makan tutup akibat pandemi.

Para petani sedang memanen padi.
Para petani sedang memanen padi. (Dok. Kementan)

Hal itu diperparah dengan tidak ada yang berbelanja di pasar karena pasar tutup, sehingga produksi menumpuk di petani di daerah.

Halaman
1234
Penulis: Irwan Wahyu Kintoko
Editor: Irwan Wahyu Kintoko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved