Breaking News:

Korupsi

Tersangka Korupsi Dana Program Rumah Layak Huni Diserahkan ke Kejaksaan Cikarang

Tersangka merupakan pendamping kegiatan dari program rumah layak huni (rutilahu) di salah satu desa wilayah Kabupaten Bekasi.

Dok Humas Polres Metro Bekasi
Polres Metro Bekasi menyerahkan tersangka kasus korupsi dana program rumah layak huni (rutilahu) Pemerintah Kabupaten Bekasi. 

WARTAKOTALIVE.COM, BEKASI-- Polres Metro Bekasi menyerahkan tersangka kasus korupsi dana program rumah layak huni (rutilahu) Pemerintah Kabupaten Bekasi.

Tersangka kasus korupsi ratusan juta rupiah itu diserahkan ke Kejaksaan Negeri Cikarang Kabupaten Bekasi, setelah berkas dinyatakan sudah lengkap atau P21.

"Unit Satuan Kriminal Khusus Satreksrim Polres Metro Bekasi telah menyerahkan tersangka kasus korupsi ratusan juta ke Kejaksaan Kamis (30/7/2020) lalu," kata Kasubbag Humas Polres Metro Bekasi, Kompol Sunardi dalam keterangan, pada Minggu (2/8/2020).

Sunardi menjelaskan tersangka korupsi itu berinisal SS (54).

Tiga Anggota Kelompok Begal Tambora Diringkus Polisi, Beraksi Lima Kali di Jakarta Barat

Dirlantas Polda Metro Pastikan Ganjil Genap untuk Sepeda Motor Belum Diterapkan

Tindakan korupsi diketahui setelah dilakukan penyelidikan, didapati adanya penyelewangan atau korupsi bantuan sosial dari Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk program perbaikan rumah bagi warga masyarakat berpenghasilan rendah.

Tersangka merupakan pendamping kegiatan dari program rumah layak huni (rutilahu) di salah satu desa wilayah Kabupaten Bekasi.

Untuk penerima bantuan sebanyak 25 orang, tugas tersangka salah satunya melaksanakan monitoring terhadap pelaksanaan perbaikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

IPW Sebut Penangkapan Djoko Tjandra Tidak Berkaitan dengan Bursa Kapolri

Anji Manji Kembali Trending Twiiter setelah Promosikan Herbal sebagai Obat Covid-19

Namun, tersangka dengan kewenangannya menyimpan dana bantuan sosial Rutilahu yang sudah dicairkan sebesar Rp 15.000.000 dari setiap penerima bantuan.

Setelah mencairkan dana bantuan tersebut, tersangka hanya memberikan Rp 200.000 kepada setiap penerima bantuan sebagai biaya transport dan sisanya dikuasainya.

"Perbaikan rumah tidak sesuai dengan jumlah yang diterima oleh para penerima bantuan. Hasil dari penilaian jasa kontruksi dan pengawas keuangan dan pembangunan tidak sesuai dan terjadi korupsi," ungkap Sunardi.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Azzam
Editor: Feryanto Hadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved