Perjalanan Iwan Sunter Bersepeda di Himalaya: Dikagumi Orang Rusia dan Kangen Suara Azan

Dalam perjalanan bersepeda di Himalaya, Iwan Sunter punya satu kerinduan: mendengarkan suara azan.

Dok pribadi Iwan Sunter
Iwan Sunter, kuli pasar yang sukses bersepeda di pegunungan himalaya 

Dari Manang, perjalanan trekking maupun dengan sepeda dilanjutkan menyusuri jalur jalan setapak melintasi celah gunung.

Iwan sempat bertemu dengan tiga pesepeda dari Rusia yang menempuh perjalanan yang sama.
Ketiganya menunggang sepeda full suspensi yang canggih.

“Mereka sempat kaget waktu lihat bendera Merah Putih dan tanya-tanya banyak soal Indonesia. Lihat sepeda saya juga bilang kalau itu nggak layak untuk perjalanan di gunung seperti ini. Apalagi lihat postur saya kecil begini, sepertinya mereka ragu saya bisa sampai puncak atau tidak,” tuturnya.

Benar saja, keesokan hari saat di perjalanan, ketiga orang Rusia itu ngebut meninggalkannya di belakang.

Saat Iwan mencapai Thorong Pedi, ketiga orang Rusia itu kembali terkaget-kaget dan mengapresiasinya.

Obrolan terhenti saat datang truk pengangkut cokelat. Sopirnya meminta Iwan menurunkan kotak-kotak besar dan mengantarnya ke toko di dalam pasar.

Tak lama Iwan kembali ke tempat kami nongkrong. Peluh bercucuran tapi dia tetap bersemangat melanjutkan ceritanya.

Kangen azan

Dari Thorong Pedi, tanjakan terjal tanpa ampun menghadang. Kemiringannya membuat Iwan tak bisa lagi mengayuh sepeda.
Sesekali dia melepas ransel dan memanggulnya di pundak, lalu dia dorong sepeda, atau dipanggul juga bila jalan sudah tak memungkinkan.

Cara seperti itu sangat berat. Apalagi di ketinggian di atas 5.000 meter, kadar oksigen tinggal 40 persen.

Namun semua itu dilakoninya dengan sabar, perlahan dia menambah ketinggian.

Saat berhenti menarik nafas, dia melihat sekeliling, menyaksikan dahsyatnya pemandangan gunung besar bersalju di sekelilingnya. Gunung besar berlapis-lapis, hasil tumbukan lempeng benua benar-benar menggetarkannya.

Pekerjaan sehari-hari sebagai buruh angkut barang sangat mendukung kinerja fisiknya di gunung tinggi, dengan beban berat seperti itu.

“Makanya saya kalau mau jalan itu enggak terlalu persiapan fisik, karena sehari-hari sudah kerja berat secara fisik,” tutur Iwan.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved