Breaking News:

Kesehatan

Hati-hati, Orang yang Kecanduan Berat Smartphone Gampang Kena Hipnotis

Berdasarkan temuan mereka pula, tim peneliti menyimpulkan bahwa pengguna berat smartphone lebih rentan melakukan kebiasaan buruk

Warta Kota/Adhy Kelana
Ilustrasi - Seorang pemotor terlihat sedang asik menggunakan HP (handphone) saat mengendarai motornya melintas di Jalan Raden Inten, Jakarta Timur, Senin (5/3). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Orang yang mengalami kecanduan berat menggunakan telepon pintar (smartphone) atau HP cenderung gampang kena hipnotis.

Begitu kesimpulan studi ilmiah dari AS yang diterbitkan dalam jurnal Peer-review Frontiers in Psychology, yang dikutip alarabiya.net, Selasa, 21 Juli 2020.

Dasar ilmiah dari temuan itu adalah bahwa baik hipnosis maupun pecandu HP dicirikan oleh kondisi yang diserap serupa yakni orang itu kehilangan jejak waktu dan secara otomatis merespons rangsangan.

“Ada korelasi positif antara hipnotisabilitas dan kecanduan ponsel cerdas dengan besaran yang sama dengan prediktor standar hipnotisabilitas. Korelasi ini kecil tetapi tidak mungkin palsu: itu positif dalam 10 dari 11 sampel,” begitu tulis para peneliti.

Berdasarkan temuan mereka pula, tim peneliti menyimpulkan bahwa pengguna berat smartphone lebih rentan melakukan kebiasaan buruk.

"Penggunaan ponsel cerdas yang berlebihan dapat menyerupai hipnotis, karena itu orang yang lebih terhipnotis dapat lebih mudah terganggu kehidupan sehari-harinya," tulis laporan itu.

Kesimpulan tersebut didapat setelah para peneliti meminta 649 peserta penelitian untuk mengisi kuesioner tentang penggunaan smartphone, kemudian hasilnya disandingkan dengan alat ukur skala hipnotisabilitas (tingkat keterhipnotisan).

Skor pada Skala Kecanduan Smartphone dalam studi ini berkorelasi positif dengan jumlah sugesti hipnosis yang diikuti oleh para peserta.

Para peneliti juga mencatat bahwa tingkat penggunaan smartphone yang bermasalah di antara para peserta adalah “sangat tinggi.”

"Dalam hitungan ekonomi saat ini, penggunaan ponsel pintar diterjemahkan ke dalam pengumpulan data dan pendapatan iklan, memberikan pengembang (aplikasi) insentif ekonomi untuk membuat pengguna tetap terserap," tulis para peneliti.

Penulis: Bambang Putranto
Editor: Bambang Putranto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved