Breaking News:

Kesehatan

Penderita Diabetes di Indonesia Diprediksi 21,3 Juta Orang di Tahun 2030, Cegah dengan Stem Cell

Banyak resiko komplikasi yang dapat terjadi pada penderita DM, terutama dengan gula darah dan HbA1C yang tidak terkontrol dengan baik.

Medical News Today
Ilustrasi penyakit diabetes dipicu dari gaya hidup seperti pola makan yang mengandung gula tinggi. 

Dr. Anastasia menjelaskan bahwa penderita DM beresiko 2.3x mengalami stroke sumbatan dan beresiko 1.6x mengalami stroke perdarahan, sebagai akibat dari akumulasi inflamasi sistemik, kekakuan pembuluh darah, serta gangguan pada sel endotel pembuluh darah.

Selain stroke, sekitar 69% penderita DM mulai mengalami komplikasi neuropati pada tahun ke-5, yaitu gangguan saraf tepi yang dapat mengakibatkan gangguan sensorik seperti rasa baal, rasa kesemutan, sampai ke luka kaki diabetik yang dapat berakibat amputasi kaki. Juga gangguan motorik ataupun otonom seperti  gangguan berkemih dan buang air besar.

Markas Baru Persija Jakarta, Riko Simanjuntak Kenang 3 Gol di Stadion Sultan Agung

Damri Sediakan Bus Gratis dari Botani Square Bogor ke Jakarta, Boleh Bawa Sepeda, ini Jadwalnya

Tatalaksana penyakit saraf terkait diabetes secara konvensional meliputi pengendalian kadar gula darah, terapi medikamentosa yaitu obat-obatan serta suplemen, serta terapi non-obat seperti fisioterapi dan akupunktur.

Dr. Nelfidayani, SpKFR, dokter spesialis rehabilitasi medik Klinik Hayandra menjelaskan, rehabilitasi medik memegang peranan penting dalam pencegahan dan penanganan komplikasi gangguan saraf pada DM, termasuk stroke dan neuropati diabetik yang dapat menyebabkan kaki diabetes.

Aktivitas fisik yang sesuai dapat membantu mengendalikan kadar gula darah bersamaan dengan penggunaan obat pada pasien DM.

Pemeriksaan dan perawatan kaki secara rutin, senam kaki meliputi latihan lingkup gerak sendi dan latihan penguatan otot kaki, serta penggunaan sepatu yang sesuai, merupakan contoh tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kaki diabetes.

 Dr. Nelfi menambahkan, pada kasus DM yang sudah terjadi gangguan saraf tepi (neuropati), sepertiga kasus mengalami nyeri neuropatik pada tungkai yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Selain penggunaan obat-obatan, terapi laser intensitas tinggi dapat membantu mengurangi nyeri neuropatik.

Terapi laser intensitas tinggi memungkinkan penetrasi jaringan dalam dan merupakan terapi nyeri yang kuat namun tidak membuat ketagihan.

Melalui proses transfer energi alami yang disebut fotobiomodulasi dan efek fotomekanis, laser dapat mempercepat penyembuhan dan regenerasi jaringan.

Halaman
123
Penulis: Dodi Hasanuddin
Editor: Dodi Hasanuddin
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved