Minggu, 26 April 2026

Kabar Duka

Sapardi Djoko Darmono Meninggal Dunia, Ini Karya-Karya Puisinya

Sapardi Darmono Meninggal Dunia, Ini Karya-Karya Puisinya. Simak selengkapnya di dalam berita ini.

Gramedia.com
Sapardi Djoko Damono, penyair Indonesia angkatan 1970-an. Sapardi Darmono meninggal dunia pada Minggu (19/7/2020). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Sapardi Djoko Darmono meninggal dunia pada Minggu (19/7/2020). 

Dia adalah sastrawan Indonesia dengan segudang karya puisi yang indah.

Sapardi Djoko Damono meninggal dunia pukul 09.17 WIB di Rumah Sakit Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan di usia 80 tahun.

Selama hidupnya, Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai pujangga dan sastrawan besar.

 Jenazah Sastrawan Sapardi Djoko Damono Dimakamkan Minggu Sore di Bogor

Apa saja judul-judul puisi karya Sapardi Djoko Darmono? Sangat banyak puisi-puisinya dan indah. 

Sapardi Djoko Damono pernah menjadi Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1999-2004.

Sapardi Djoko Damono telah menulis 47 buku sastra berupa novel, kumpulan puisi hingga kumpulan cerpen dan non sastra.

"lInna lillahi wa inna ilaihi raji'un
Telah meninggal dunia sastrawan besar Indonesia, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono di Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan pada hari ini 19 Juli 2020, pukul 09.17 WIB. #SapardiDjokoDamono," tulis akun puisi Joko Pinurbo di Twitter.

Dikutip dari Wartakotalive.com Kepala Biro Humas dan Kantor Informasi Publik Universitas Indonesia (UI) Amelita Lusia membenarkan kabar meninggalnya Sapardi Djoko Damono.

Aldi Taher Pastikan Maju di Pilkada Sulawesi Tengah, Bakal Bersaing dengan Pasha Ungu

Meninggalnya Sapardi langsung menjadi trending topik Twitter Indonesia pada Minggu pagi ini.

Warganet mengenang karya-karya puisi Sapardi yang begitu melegenda.

"Pada suatu hari nanti jasadku tak akan ada lagi, tapi dalam bait-bait sajak ini kau takkan kurelakan sendiri -SDD. selamat jalan, Pak Sapardi," tulis akun @diknacaesareann

“Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu” Selamat istirahat dengan tenang, Prof," tulis Yuwi Handayani

"Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.
#RestInPeace Pak Sapardi," tulis akun Jalan Tengah

BCL Luncurkan Lagu Bertajuk 12 Tahun Terindah, Rangkuman Kisah Cintanya bersama Ashraf Sinclair

1. Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

Dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu.

2. Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

3. Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti,

jasadku tak akan ada lagi,

tapi dalam bait-bait sajak ini,

kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,

suaraku tak terdengar lagi,

tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,

pada suatu hari nanti,

impianku pun tak dikenal lagi,

namun di sela-sela huruf sajak ini,

kau tak akan letih-letihnya kucari.

4. Hanya

Hanya suara burung yang kau dengar

dan tak pernah kaulihat burung itu

tapi tahu burung itu ada di sana

hanya desir angin yang kaurasa

dan tak pernah kaulihat angin itu

tapi percaya angin itu di sekitarmu

hanya doaku yang bergetar malam ini

dan tak pernah kaulihat siapa aku

tapi yakin aku ada dalam dirimu

5. Sajak-Sajak Kecil tentang Cinta

Mencintai angin

harus menjadi siut

mencintai air

harus menjadi ricik

mencintai gunung

harus menjadi terjal

mencintai api

harus menjadi jilat

mencintai cakrawala

harus menebas jarak

mencintai-Mu

harus menjelma aku.

6. Dalam Doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang

semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu.(Nur Fajriani R)

Artikel ini telah tayang di tribun-timur.com dengan judul Sastrawan Sapardi Djoko Damono Meninggal Dunia, Inilah Deretan Puisinya yang Fenomenal. 

Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved