Kabar Duka
Sapardi Djoko Darmono Meninggal Dunia, Ini Karya-Karya Puisinya
Sapardi Darmono Meninggal Dunia, Ini Karya-Karya Puisinya. Simak selengkapnya di dalam berita ini.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Sapardi Djoko Darmono meninggal dunia pada Minggu (19/7/2020).
Dia adalah sastrawan Indonesia dengan segudang karya puisi yang indah.
Sapardi Djoko Damono meninggal dunia pukul 09.17 WIB di Rumah Sakit Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan di usia 80 tahun.
Selama hidupnya, Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai pujangga dan sastrawan besar.
• Jenazah Sastrawan Sapardi Djoko Damono Dimakamkan Minggu Sore di Bogor
Apa saja judul-judul puisi karya Sapardi Djoko Darmono? Sangat banyak puisi-puisinya dan indah.
Sapardi Djoko Damono pernah menjadi Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1999-2004.
Sapardi Djoko Damono telah menulis 47 buku sastra berupa novel, kumpulan puisi hingga kumpulan cerpen dan non sastra.
"lInna lillahi wa inna ilaihi raji'un
Telah meninggal dunia sastrawan besar Indonesia, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono di Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan pada hari ini 19 Juli 2020, pukul 09.17 WIB. #SapardiDjokoDamono," tulis akun puisi Joko Pinurbo di Twitter.
Dikutip dari Wartakotalive.com Kepala Biro Humas dan Kantor Informasi Publik Universitas Indonesia (UI) Amelita Lusia membenarkan kabar meninggalnya Sapardi Djoko Damono.
• Aldi Taher Pastikan Maju di Pilkada Sulawesi Tengah, Bakal Bersaing dengan Pasha Ungu
Meninggalnya Sapardi langsung menjadi trending topik Twitter Indonesia pada Minggu pagi ini.
Warganet mengenang karya-karya puisi Sapardi yang begitu melegenda.
"Pada suatu hari nanti jasadku tak akan ada lagi, tapi dalam bait-bait sajak ini kau takkan kurelakan sendiri -SDD. selamat jalan, Pak Sapardi," tulis akun @diknacaesareann
“Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu” Selamat istirahat dengan tenang, Prof," tulis Yuwi Handayani
"Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.
#RestInPeace Pak Sapardi," tulis akun Jalan Tengah
• BCL Luncurkan Lagu Bertajuk 12 Tahun Terindah, Rangkuman Kisah Cintanya bersama Ashraf Sinclair
1. Hujan Bulan Juni
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu.
2. Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
3. Pada Suatu Hari Nanti
Pada suatu hari nanti,
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri.
Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini.
Kau akan tetap kusiasati,
pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari.
4. Hanya
Hanya suara burung yang kau dengar
dan tak pernah kaulihat burung itu
tapi tahu burung itu ada di sana
hanya desir angin yang kaurasa
dan tak pernah kaulihat angin itu
tapi percaya angin itu di sekitarmu
hanya doaku yang bergetar malam ini
dan tak pernah kaulihat siapa aku
tapi yakin aku ada dalam dirimu
5. Sajak-Sajak Kecil tentang Cinta
Mencintai angin
harus menjadi siut
mencintai air
harus menjadi ricik
mencintai gunung
harus menjadi terjal
mencintai api
harus menjadi jilat
mencintai cakrawala
harus menebas jarak
mencintai-Mu
harus menjelma aku.
6. Dalam Doaku
Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku
Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu.(Nur Fajriani R)
Artikel ini telah tayang di tribun-timur.com dengan judul Sastrawan Sapardi Djoko Damono Meninggal Dunia, Inilah Deretan Puisinya yang Fenomenal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/sapardi-djoko-damono-penyair-indonesia-angkatan-1970-an.jpg)