Breaking News:

PPDB

Kembalikan Uang Pangkal Rp 17 Juta, Biaya Pendidikan Arista Juga Digratiskan Hingga Lulus SMA

Begitu banyak pihak yang simpati kepada Aristawidya Maheswari (15) saat diberitakan bahwa siswi SMP yatim piatu putus sekolah akibat tak lolOS PPDB.

Warta Kota/Rangga Baskoro
Kepala SMA Muhammadiyah 11, Rosita Sari (kiri) dan H Dwiyono Ketua Majelis Dikdasmen Muhammadiyah (kanan) saat ditemui di SMA Muhammdiyah 11, Pulogadung, Jakarta Timur, Kamis (16/7/2020). 

WARTAKOTALIVE.COM, PULOGADUNG -- Begitu banyak pihak yang simpati kepada Aristawidya Maheswari (15) saat diberitakan bahwa siswi SMP yatim piatu tersebut, putus sekolah akibat tak lolos PPDB 2020/2021.

Salah satu pihak yang datang memberikan bantuan yakni Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth.

Pria yang akrab disapa Bang Kent tersebut, tak hanya bersedia membayarkan uang pangkal SMA Muhammadiyah 11 sebesar Rp 17 juta saja, ia pun juga akan membayar biaya pendidikan Arista hingga selesai SMA.

Video: Anggota DPRD DKI Jakarta Ingat Pernah Sulit Bayar SPP

Meski begitu, Kepala SMA Muhammadiyah 11, Rosita Sari menjelaskan bahwa pihak yayasan akan mengambil alih seluruh biaya sekolah Arista hingga lulus SMA.

"Muhammadiyah 11 berkoordinasi dengan bagian (yayasan) dikdasmen. Memang kami semua ada aturan untuk membantu siswa yatim piatu," kata Rosita di lokasi, Kamis (16/7/2020).

 Akui Hana Hanifah Kerap Pergi Keluar Kota Seorang Diri, Manajer: Sebagai Artis Wajar

 AKHIRNYA Kadishub Jelaskan Soal Angkot Super Mewah Si Benteng yang Mangkrak di Tangerang

Sementara itu, H Dwiyono Ketua Majelis Dikdasmen Muhammadiyah menjelaskan, program bantuan untuk anak yatim piatu yang bersekolah di Muhammadiyah telah dilakukan sejak lama.

"Untuk bantuan anak yatim piatu, memang sudah kami lakukan sejak lama. Jadi dibebaskan biayanya hingga lulus nanti," ungkap Dwiyono.

Awalnya, pihak sekolah hendak mengembalikan uang pangkal sebesar Rp 17 juta tersebut kepada Kent. Namun, ia menolak dan menganjurkan pihak sekolah untuk memberikannya kepada Arista.

"Jadi walaupun uang pangkal sudah dibayarkan, nantinya akan kami kembalikan kepada Arista," ujarnya.

 Survei Terbaru: Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, dan Ridwan Kamil Calon Kuat Pilpres 2024

Arista Masuk Kelas IPS

Rosita mengatakan pihaknya sangat senang menerima Arista bersekolah di SMA Muhammadiyah 11.

Siswi yang telah meraih 700 prestasi tersebut nantinya akan diarahkan jurusan IPS sesuai dengan keinginan Arista.

"Sebuah kebanggaan luar biasa arista memilih sekolah kami. Saat Arista datang, kebetulan jurusan IPS yang kosong, masih ada bangku. Dan setelah dilihat sejarahnya luar biasa sosok Arista," ujar Rosita.

Pihak sekolah yang mengetahui bakat Arista di bidang seni lukis juga akan diasah kemampuannya.

 Siswi SMP yang Putus Sekolah karena Tak Lolos PPDB Ditawari Beasiswa di Sekolah Swasta

"Kami pun nanti di sini akan dikembangkan bakatnya. Kami sudah berkoordinasi dengan guru seni budaya. Terkait dengan melukis Insya Allah kami mewadahi," tuturnya.

Sementara itu, Arista menyampaikan apresiasinya kepada Kent dan pihak sekolah yang telah membantu dalam pembiayaan sekolah.

Arista mengaku bakal melanjutkan sekolah di SMA Muhammadiyah 11 hingga lulus dari bangku SMA.

 Nur Azizah Goda Raffi Ahmad Jadi Pendampingnya di Pilkada 2020 Kota Tangsel, Ini Alasannya

"Seneng sekali bisa sekolah, biar enggak ketinggalan pelajaran juga. Terimakasih Kak (Kent) sudah membiayai aku walaupun ada kebijakan baru. Kalau bukan karena Pak Ken, enggak bakal ke SMA Muhammadiyah," ucap Arista.

Tak Diterima di Sekolah Negeri

Sebelumnya diberitakan, penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2020/2021 Jakarta telah usai. Dinas Pendidikan DKI Jakarya menutup proses pendaftaran pada Rabu (8/7/2020) pukul 15.00 WIB.

Namun hingga detik terakhir, Aristawidya Maheswari (15), anak yatim piatu ini, tak lolos proses seleksi.

Jalur terakhir kuota bangku kosong yang dicoba oleh Aristawidya Maheswari juga tak membuahkan hasil.

 TERKONFIRMASI, Viral Video Wasit Dipukul Pemain di Stadion Patriot Candrabhaga Bekasi

"Agak sedih juga tapi karena emang enggak masuk karena nilai," kata Arista di Rusun Jatinegara Kaum, Pulogadung, Jakarta Timur, Rabu (8/7/2020).

Proses seleksi kuota bangku kosong memprioritaskan nilai yang dikalikan dengan akreditasi sekolah asal.

Nilai rata-rata rapor lima mata pelajaran yang diraih Arista yakni 81,71.

Sedangkan nilai akreditasi sekolah asalnya yakni SMPN 92 Jakarta 9,5.

Sehingga total nilai yang didapatkan Arista hanya 7.762,4.

 Data Pribadi Denny Siregar Bocor, Begini Tanggapan Resmi Telkomsel

Pada proses tersebut, nilai Arista juga kalah saing dengan murid-murid lainnya yang memiliki nilai lebih tinggi darinya.

"Nilai aku enggak terlalu tinggi, enggak terlalu rendah juga, sudah coba ke beberapa sekolah, tapi enggak dapat," ucapnya.

Sejak pagi hingga siang, ia dan neneknya, Siwi Purwanti (60) mencari-cari slot bangku kosong hingga ke delapan sekolah.

Namun hingga PPDB ditutup pada pukul 15.00 WIB, ia tak lolos terlempar karena nilainya kalah bersaing.

 Waspadai Aplikasi Pra-instal dalam Ponsel, Sebabkan File Berbahaya Tak Dapat Dihapus

"Tadi nyoba ke SMAN 12, 21, 36, 61, 53, 59, 45 dan 102 terakhir, sampai jam 3 sore, tidak ada yang lolos," tutur Arista.

Arista sebelumnya sempat memperjuangkan nasibnya hingga ke Komisi X DPR RI lantaran sistem zonasi lebih mengutamakan faktor usia ketimbang jarak sekolah.

Hal itu dilakukannya lantaran banyak anak-anak yang berusia lebih muda kalah saing dengan murid-murid yang berusia lebih tua hingga peluang mereka yang baru lulus di tahun ini, menjadi sangat kecil.

Ia mengaku sangat kecewa terhadap sistem PPDB jalur zonasi yang mengutamakan usia sebagai acuan lolosnya seleksi.

Padahal, peluang Arista untuk terdaftar di SMAN pilihannya sangat terbuka lebar apabila sistem yang digunakan mengacu pada jarak sekolah, bukan usia.

Viral Iklan Mal Terbesar di ASEAN Dijual Rp17 Triliun, Pihak Taman Anggrek Bungkam

"Sangat kecewa, yang seharusnya aku bisa masuk ke sekolah negeri (melalui jalur zonasi), tapi enggak bisa. Karena yang saya mau sebenarnya jarak sekolah yang dekat dari rumah," ungkap Arista.

"SMAN 12 hanya 500 meter, sangat dekat, jadi enggak harus ada biaya transport, tinggal nyeberang sudah sampai," ungkapnya.

Arista pun memutuskan untuk menghentikan masa studinya sementara waktu lantaran enggan menimba ilmu di sekolah swasta, salah satu faktornya adalah terkendala biaya.

"Saya mau istirahat saja dulu 1 tahun," kata Arista.  (abs)

Penulis: Rangga Baskoro
Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved