Opini

Sopran yang Terlewat

Prof Ariel Heryanto bertanya kritis, mengapa diskusi "Sains, Agama, Filsafat, Pandemi" hanya menarik kaum laki-laki?

pexels
Ilustrasi 

SOPRAN YANG TERLEWAT
Opini: Alois Wisnuhardana

WARTAKOTALIVE.COM - Prof Ariel Heryanto bertanya kritis, mengapa diskusi "Sains, Agama, Filsafat, Pandemi" hanya menarik kaum laki-laki? Apakah hanya laki-laki yang mau menafsir dunia dan menguliti filsafat?

Ketika saya mengumpulkan serakan tulisan dari banyak dinding akun, saya pun merasa demikian. Atau karena topik ini tidak menarik para sopran dan alto?

Ternyata tidak! Jauh sebelum saya ikut nyebur --juga nama-nama lainnya-- sudah ada Vita Balqis D yang ikut nimbrung, hanya dua pekan setelah diskusi itu dipantik dan kemudian ramai dipercakapkan.

Jadi, meskipun sampai hari ini baru beliau sahaja yang merepresentasi kaum perempuan, suara itu sudah terdengar lama. Sayalah yang khilaf tidak mendeteksi kemunculannya.

Tapi mungkin juga begitulah kita menafsir dunia. Hanya yang lalu-lalang di depan kitalah yang akan tertangkap dalam alam pikiran kita.

Dan kemudian kita membuat penghakiman begini dan begitu atas percikan informasi di tengah belanga data raksasa ini.

Pikiran memang bekerja dengan agak nganu.

Makanya saya sangat takjub dengan Immanuel Kant. Manusia paling disiplin yang pernah saya tahu, tetapi pemikirannya melampaui semesta raya yang mahaluas.

Ia tidak pernah bepergian lebih dari 30 kilometer dari rumahnya. Tak pernah melihat pantai sepanjang hidupnya.

Tak jadi menikah hanya karena takut mengganggu kesibukannya berpikir.

Kalau dia lewat suatu jembatan, itu tandanya sudah pukul empat sore, saat ia berjalan-jalan menikmati udara sore di dekat tempat tinggalnya.

Kembali pada sumbangan pemikiran kaum perempuan, pada kumpulan tulisan yang terbaru, Anda sudah bisa menikmati sumbangan kaum ini, meski saya tidak tahu apakah Vita bersuara alto atau sopran. Warna suara tak terbaca dari teks.

Dan sebagai bankir --meskipun bankir anyaran-- saya hanya akan membarukan kumpulan ini setiap akhir pekan seperti sekarang.

Permintaan file baru secara japri juga ditutup, dan Anda bisa mengunduhnya pada tautan yang saya sertakan di sini.

Bekerja di dunia perbankan yang sama sekali baru ini, saya memerlukan usaha yang sangat besar. Usaha tak bisa diukur dalam satuan JOULE.

Sedangkan GAYA tak bisa kita kuantifikasi sebesar X NEWTON. Di dunia ini, satuannya cuma dua: PROFIT atau LOSS. Kalau satuannya PROFIT, baru kita bisa GAYA.

Lalu, Newton bagaimana nasibnya?

Newton? Siapa tuh?

Baca opini Alois Wisnuhardana selengkapnya, klik: Sopran yang Terlewat

Sumber: WartaKota
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved