Breaking News:

Tiga Menteri Datangi Calon Food Estate Kalteng Tanpa Mentan, DPR Bilang Begini

Anggota Komisi IV DPR RI Ono Surono menilai kinerja Kementerian Pertanian (Kementan) belum optimal untuk mendukung rencana program ketahanan pangan,

Editor: Ahmad Sabran
Humas Pemprov Kalteng
Rencana pengembangan food estate program pertanian dari pusat yang akan dikembangkan di Kabupaten Pulaang Pisau dan Kapuas, Kalimantan Tengah. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA- Presiden Jokowi mengutus Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Menteri BUMN Erick Thohir, hingga Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto untuk mengunjungi lokasi rencana program ketahanan pangan, food estate atau lumbung pangan, di Kalimantan Tengah.

Sementara Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo tidak ada dalam kunjungan itu.

Anggota Komisi IV DPR RI Ono Surono menilai kinerja Kementerian Pertanian (Kementan) belum optimal untuk mendukung rencana program ketahanan pangan, food estate atau lumbung pangan, di Kalimantan Tengah.

Ono dalam pernyataan di Jakarta, Jumat, juga mempertanyakan ketidakhadiran menteri pertanian yang tidak ikut terlibat dalam jajaran menteri yang diutus Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membuka lumbung pangan alternatif itu.

Padahal program cetak sawah baru seharusnya menjadi salah satu tugas Kementan sebagai institusi yang berfungsi untuk menjaga ketahanan pangan.

Ia menduga ada beberapa hal yang membuat peran Kementan menjadi tidak optimal yaitu karena pernah mengalami kegagalan dalam mencetak sawah baru atau anggaran yang terbatas.

"Bisa juga karena kemampuan Kementan sendiri yang kurang maksimal terkait dengan infrastruktur pertanian. Mungkin itu yang jadi pertimbangan presiden," katanya seperti dikutip dari antaranews.com.

Ono meminta adanya perubahan yang signifikan di Kementan mengingat tugas institusi tersebut sangat berat untuk menjaga produksi pangan dalam negeri.

Untuk itu ia mengharapkan tiga kementerian yang ditunjuk Presiden juga bisa berkoordinasi dengan Kementan terkait dengan analisis maupun kebutuhan daya dukung lahan.

Kamrussamad Sebut Food Estate Berpotensi Melahirkan New Entrepreneur

Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi ikut menilai Kementan belum efektif dalam kondisi pandemi COVID-19.

Menurut dia, Kementan harus melakukan gebrakan untuk menjaga produksi dalam kondisi saat ini, terutama jika pandemi terus berlanjut dan stok makin menipis.

"Di saat pandemi, impor itu bukan barang haram untuk ketahanan pangan. Karena sulit mencari bahan pangan impor di saat pandemi," katanya.

Terkait dengan program cetak sawah, Uchok mengingatkan agar pemerintah belajar dari kegagalan program serupa sebelumnya.

Sebelumnya, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri menjelaskan program food estate merupakan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mempersiapkan Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menjadi lumbung pangan dan program tersebut berbeda dengan rice estate.

"Jadi, bicara Food Estate bukan cuma padi dan jagung saja. Kita buat konsep berbasis klaster. Jadi setiap wilayah harus dipetakan, kita klasterkan, ada klaster tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan di lahan yang sama. Jadi berbeda dengan rice estate yang komoditasnya hanya padi saja," demikian ujar Kuntoro di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Kamis (25/06/20) seperti dikutip dari Tribunnews.com 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved