Breaking News:

Berita Tangerang

Rumah di Tengah Jalan Milik Anwar Hidayat akan Digusur Lalu Dibangun Flyover Stasiun Poris oleh PUPR

Dalam waktu dekat ini, rumah berdiri di tengah jalan milik Anwar Hidayat (52) akan digusur.

Penulis: Andika Panduwinata | Editor: Panji Baskhara
Kolase Wartakotalive.com/Andika Panduwinata
Anwar Hidayat (52) pemilik rumah di tengah jalan di Jalan Maulana Hasanudin, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang beri tanggapan mengenai rumahnya yang akan dieksekusi. 

"Rumah saya belum dibebaskan karena saya mengalami penipuan. Sertifikat rumah dibawa kabur oleh oknum yang tidak bertanggung jawab," ucapnya.

Menurutnya oknum tersebut bahkan mengubah nama kepimilikan dan menggadaikannya ke Bank.

"Saya sudah lapor polisi untuk mengusut kasus ini. Sejumlah saksi juga sudah diperiksa, termasuk aparatur di wilayah ini seperti Lurah," kata Anwar.

Jadi Legenda

Anwar Hidayat mengaku tahu terkait rumahnya akan dieksekusi pihak Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas PUPR Kota Tangerang.

Diketahui, rumah Anwar Hidayat di tengah Jalan Maulana Hasanudin, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang.

Menurut Anwar Hidayat, rumah berdiri di tengah jalan jadi legenda baginya dan masyarakat setempat di Jalan Maulana Hasanudin.

"Sekitar 13 tahun rumah ini berada di tengah jalan, jadi legenda," ujarnya.

Anwar Hidayat pun menceritakan mengenai penggurusan rumah di tengah jalan miliknya itu yang sudah berdiri selama 13 tahun.

Ia menceritakan, pada tahun 2007 silam, Pemerintah Kota Tangerang akan melakukan pelebaran di jalan di Jalan Maulana Hasanudin.

Nahas, keluarga Anwar Hidayat ditipu oleh oknum tak bertanggung jawab.

"Awalnya Pemkot Tangerang melakukan pelebaran pada tahun 2007," kata Anwar saat dijumpai Warta Kota di kediamannya.

Sertifikat rumah diberikan ke oknum tersebut, lantaran orang tuanya hendak berangkat haji sehingga terganjal dokumen administrasi.

"Kejadian itu pada tahun 2001, tetapi oknum itu menggadaikan sertifikat rumah saya ke bank," ungkap Anwar.

Setelah Pemkot berniat melakukan pembayaran pembebasan lahan, sertifkat tersebut pun tak ada.

Sehingga, katanya, sudah belasan tahun masalah ini pun belum bisa terselesaikan.

"Semoga saja rencana untuk pembayarannya bisa menghasilkan win win solution," tutur Anwar.

Rencana rumah berdiri di tengah Jalan Maulana Hasanudin akan dieksekusi diamini Sektretaris Dinas PUPR Kota Tangerang, Taufik Syahzeni.

Penyebab rumah di tengah jalan dieksekusi di Tangerang tersebut dilakukan untuk perluasan pelebaran jalan.

"Kami sudah berkomunikasi dengan pihak pemilik rumah," ujarnya Taufik kepada Wartakotalive.com.

Rumah tersebut berada di tengah Jalan Maulana Hasanudin arah dari Batuceper menuju kawasan Cipondoh.

Lokasinya berdekatan jaraknya dengan Stasiun Poris.

Diketahui, keberadaan rumah di tengah jalan kerap menimbulkan kemacetan panjang.

Rumah Reyot di Kompleks Apartemen Thamrin

Satu rumah tua masih berdiri di area Apartemen Thamrin Executive Residence , Jalan Kebon Melati, Jakarta Pusat.

Rumah tersebut berada di belakang apartemen.

Rumah Lieus yang berada di dalam kawasan Apartemen Thamrin Executive Residence, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat. (Warta Kota/Junianto Hamonangan)

Pembangunan gedung-gedung tinggi nan mewah di Jakarta sering menyisakan pilu tersendiri bagi warga setempat.

Tempat yang dulunya adalah permukiman warga seketika berubah menjadi gedung-gedung tinggi.

Dahulu, lahan yang dipakai apartemen itu adalah permukiman warga.

Bahkan ada pula lapangan bola tempat masyarakat kerap bermain bola, layangan, saling bertegur sapa, dan bercengkerama dengan warga lainnya secara turun-temurun.

Lies adalah satu warga Kebon Melati yang masih bertahan tinggal di kompleks apartemen mewah itu.

Namun bukan di dalam unit apartemennya melainkan di tinggal di rumah reyot yang ada di dalam kompleks apartemen.

Ia bercerita, dahulu warga yang tinggal di kawasan itu sedikit.

"Dulunya cuma ada dua hingga tiga rumah lah, itu juga rumah saya dan keluarga saya samping-sampingan.

Dahulu tidak masuk listrik di sini pas zamannya Belanda dan Jepang menjajah Indonesia," ujar Lies kepada Kompas.com saat ditemui di rumahnya, Jumat (20/9/2019).

Lalu lambat laun pada tahun 1990-an listrik mulai ada di kawasan rumahnya dan warga pun semakin banyak yang bermukim di kawasan itu.

"Ya ada lah sepuluh rumah yang tinggal di sini cuma emang jaraknya berjauhan," kata Lies.

Namun, kondisi itu mulai berubah ketika ada rencana pembangunan Gedung Apartemen Thamrin Executive Residence.

Pasalnya setiap warga yang memiliki rumah di kawasan itu diminta pindah karena adanya pembangunan apartemen itu, termasuk Lies.

Ditakut-takuti oleh preman

Lies bercerita, pengelola apartemen menggunakan preman untuk meminta ia dan warga lainnya pindah.

Menurut Lies, saat itu para preman yang disewa pengelola membuat ricuh kampungnya.

Bahkan,Lies yang kala itu berjualan nasi di depan rumahnya dahulu sempat ditakut-takuti.

"Beh dulu saya saja yang jualan di situ ya, para preman itu pada makan di warung saya. Eh pas habis malah tidak dibayar"

"Malah pas ditagih ngamuk berantakin warung saya sampai saya kebalikin aja jualan saya ke mereka. Rugi yang ada saya," ujar Lies.

Tak hanya Lies yang mengalami nasib malang, beberapa warga lainnya pun turut mendapat perlakuan yang sama.

Mereka ditakut-takuti para preman hingga akhirnya memilih pindah.

Hanya Lies yang berani bertahan menghadapi para preman itu.

Hingga akhirnya hanya rumahnya yang bertahan dan kini dikelilingi tower apartemen.

"Ya kan dibikin rese kampung ini lama-lama akhirnya pada kabur, rumah warga pada dijual-jualin dengan harga semau dia (warga), capek kali ketenangannya diusik.

Kalau saya kan tidak takut, banyak lah saudara saya perwira, abang saya saja pangkatnya sudah tinggi," ucap Lies.

Lies lebih memilih tinggal di rumah sederhana yang sudah terlihat sangat usang.

Kompas.com sempat berbincang dengan tetangga Lies.

Menurutntya, Lies pernah ditawar Rp 3 miliar.

Bahkan dengan tambahan satu unit di Apartemen Thamrin Residence Executive.

Meski demikian, Lies tak tergiur.

Saat dikonfirmasi informasi tersebut, Lies membenarkan.

Baginya, uang bukan segalanya.

Apalagi ia sudah memiliki banyak uang dari usaha indekosnya.

Bahkan, ia mengaku juga memiliki rumah mewah di Bandung dan Tangerang.

"Iya benar (pernah ditawar Rp 3 miliar dan satu unit apartemen). Tapi saya tidak mau dibayar berapa pun rumah ini saya tidak sudi dibeli.

Mereka mah cuma mau kuasai tanah ini. Ini tumpah darah saya di sini, dari sejak saya lahir hingga kini saya sudah nyaman dengan rumah ini," ujar Lies.

Rumah sederhana milik Lies itu berada di belakang area Apartemen Thamrin Executive Residence.

Jika dilihat sekilas, rumah tersebut tidak terlihat.

Pasalnya, bangunan rumah di kelilingi tembok yang berisi tanaman-tanaman hijau.

Posisi rumah lebih rendah dibanding jalan. Jadi, hanya genting yang terlihat.

Lantaran posisi rumah lebih rendah, penghuni harus turun melewati tangga setapak nan licin untuk masuk ke rumahnya. (DIK/Wartakotalive.com/Kompas.com/Cynthia Lova/Jessi Carina)

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cerita Pemilik Rumah Reyot di Dalam Kompleks Apartemen Mewah, Diteror Preman agar Pindah"

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved