Breaking News:

Berita Internasional

Korban Tewas di Area Penambangan Batu Giok Myanmar Bertambah Jadi 166 Orang

Sektor pertambangan batu giok Myanmar didominasi oleh perusahaan-perusahaan kuat yang terkait dengan militer

EPA/aljazeera.com
Mayat para penambang batu giok Myanmar yang berhasil diambil dari tambang yang tertimbun lumpur, Kamis 2 Juli 2020 

Aung San Suu Kyi, berbicara melalui siaran langsung Facebook kepada perwakilan dari industri konstruksi, mengeluhkan tentang keterpaksaan pekerja informal bekerja di penambangan batu giok karena mereka tidak memiliki cara lain untuk mencari nafkah.

Namun, para kritikus menyalahkan kecelakaan tersebut pada operator penambangan legal, dan lemahnya penegakan hukum terhadap aturan keselamatan kerja.

Badan pengawas lingkungan yang berbasis di London, Global Witness, menyebut bencana tanah longsor itu merupakan bukti kegagalan pemerintah menertibkan praktik-praktik penambangan yang ceroboh dan tidak bertanggung jawab.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis, Global Witness menuduh bahwa sektor pertambangan batu giok Myanmar "didominasi oleh perusahaan-perusahaan kuat yang terkait dengan militer, kelompok-kelompok bersenjata dan kroni-kroni yang telah diizinkan beroperasi tanpa pengawasan sosial dan lingkungan yang efektif selama bertahun-tahun".

Secara tersirat kelompok ini menyalahkan pemerintah sipil dari Partai Liga Nasional untuk Demokrasi, yang dipimpin Aung San Suu Kyi, yang berkuasa pada 2016.

Lima tahun setelah menjabat dan berjanji untuk mereformasi sektor yang korup, Liga Nasional untuk Demokrasi belum melaksanakan reformasi yang sangat dibutuhkan dalam dunia pertambangan.

Regu penolong dan pekerja tambang membawa jenazah penambang yang tertimbun longsoran lumpur di Myanmar Kamis 2 Juli 2020
Regu penolong dan pekerja tambang membawa jenazah penambang yang tertimbun longsoran lumpur di Myanmar Kamis 2 Juli 2020 (EPA/aljazeera.com)

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga menyatakan kesedihan mendalam atas tragedi tersebut dan mengirimkan belasungkawa kepada keluarga para korban dan pemerintah dan rakyat Myanmar.

Ketika foto mayat yang ditemukan beredar di media sosial, pengguna Facebook mulai mengidentifikasi mayat itu yang jaraknya ratusan kilometer dari rumah.

"Tolong bawa jenazah ayahku pulang," pesan Hnin Wati dalam Facebook. "Hati seorang anak perempuan yang hancur."

Seorang mantan penambang, mengenang salah satu dari mayat itu sebagai orang yang baik hati atas kedermawanan berbagi makanan selama masa sulit bersama di lereng gunung.

Halaman
123
Penulis:
Editor: Bambang Putranto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved